Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXXVIII


__ADS_3

"Dari mana saja kalian berdua?" ucap Haruki yang tengah duduk di hadapan kami dengan kedua tangannya disilangkan ke dadanya.


"Membeli makanan," ungkapku tertunduk, kuangkat makanan yang kami beli sebelumnya ke hadapanku.


"Kau harus berhati-hati, semenjak kejadian kau dikurung oleh Raja Ismet. Hubungan Kerajaan kita dan Yadgar meregang, jika mereka tahu kau melenggang bebas di Kerajaan mereka... Menurutmu apa yang akan mereka lakukan?"


"Aku menyesal nii-chan, aku tidak akan melanggar perintah darimu lagi," ungkapku membalas perkataan Haruki seraya kutatap lantai kayu berwarna cokelat yang ada di bawah kakiku.


"Lupakan, kita akan pergi ke pertemuan perdagangan yang dilaksanakan oleh Viscount. Pertemuan ini berada langsung dibawah pengawasan Raja Ismet, jadi kau Sa-chan..."


"Aku mengerti," ungkapku balas menatapnya.


"Izumi lah yang akan berbicara langsung kepada mereka, kita hanya akan berada di belakangnya sebagai pengawal dan juga penasehat untuknya."


"Kenapa aku?" ungkap Izumi menatap Haruki, diangkatnya jari telunjuknya itu menunjuk ke dirinya sendiri.


"Karena suaramu telah berubah berat sejak lima tahun yang lalu, jadi jika Zeki muncul... Ia tidak akan mengenali suaramu nii-chan," ucapku menjawab pertanyaan Izumi.


"Aku mengerti, baiklah. Aku akan mengikuti semua rencana kalian," ungkap Izumi menatap kami berdua bergantian.


________________


"Apa kau yakin kita tidak tersesat," ucap Izumi menoleh ke arah Haruki.

__ADS_1


"Aku yakin, dan lihatlah barisan kereta yang ada di sana!"


Menoleh aku ke arah yang ditunjuk Haruki sebelumnya, kutatap empat buah kereta berukuran besar yang tengah berbaris di depan sebuah rumah kayu yang tergeletak jauh ke dalam hutan. Tampak terlihat hampir seratus Kesatria berdiri melindunginya...


Izumi melangkahkan kaki kuda yang ia tunggangi berjalan mendekati mereka, ikut kugerakkan kuda yang aku tunggangi menyusul Haruki yang juga telah berjalan di hadapanku. Kuangkat kembali tangan kiriku seraya kutarik penutup kepala dari mantel yang aku kenakan menutupi seluruh wajahku...


"Berhenti, ada keperluan apa kalian kesini?" tanya salah satu Kesatria, tampak terlihat ia berdiri dengan sebuah pedang yang ia acungkan kepada Izumi.


"Kami diundang untuk mengikuti pertemuan, beri kami jalan," ungkap Izumi seraya memberikan sebuah gulungan surat pada Kesatria tadi.


"Kami akan mengurus kuda-kuda kalian, silakan masuk," ungkap Kesatria tadi seraya mengangkat telapak tangannya ke arah rumah kayu yang ada di belakangnya.


Izumi turun dari kuda, diraihnya Eneas yang yang ikut duduk di belakangnya menuruni kuda. Akupun mengikuti langkah mereka menuruni kuda, melirik aku ke arah Kesatria yang tak melepaskan pandangannya kepada kami...


Kesatria-kesatria tadi tampak berjalan meminggir seakan memberikan kami jalan langsung menuju ke sebuah pintu yang ada di rumah kayu tersebut. Kuikuti langkah kaki Izumi yang telah berjalan terlebih dahulu, kurangkul dan kugenggam dengan kuat pundak Eneas yang berjalan di sampingku...


Izumi melangkahkan kakinya menuruni tangga, ikut kulangkahkan kakiku bersama Eneas menuruni tangga seraya Haruki sendiri berjalan di belakang kami. Lilin-lilin yang tergantung di kanan dan kiri dinding tanah tersebut sudah lebih dari cukup menerangi jalan yang kami lalui...


Langkah kaki Izumi terhenti di sebuah pintu berwarna cokelat yang berdiri kokoh di hadapan kami. Dibukanya pintu tersebut olehnya... Keadaan di sekitar kami tampak kembali menerang seperti sebelumnya, kutatap kembali Izumi yang melangkahkan kakinya melewati pintu tersebut.


Entah kenapa kami berakhir di sebuah taman yang dipenuhi berbagai bunga tumbuh sejauh mata memandang. Kami berempat kembali melangkahkan kaki menyusuri taman tersebut.


"Tuan Savon?" terdengar suara laki-laki mendekati dari arah belakang kami.

__ADS_1


Berbalik aku seraya menoleh ke arah laki-laki paruh baya yang mengenakan sebuah pakaian panjang berwarna merah beserta sebuah topi yang sama persis seperti para pelayan yang bekerja di Istana...


"Kami telah menunggu kalian, silakan ikuti saya," ucap laki-laki tadi seraya membungkuk dengan kedua telapak tangannya diangkat ke sebelah kanan.


Melangkah kami bertiga mengikuti arah yang ia tunjukkan. Langkah kaki kami terhenti di sebuah rumah kaca yang terlihat penuh dengan bunga seperti yang kami lihat sebelumnya, kualihkan pandanganku pada pelayan yang membukakan pintu kaca yang ada di hadapan kami...


Kembali kami melangkahkan kaki melewati sebuah pintu yang kesekian kalinya, semerbak wangi bunga terasa menusuk hidungku... Langkah kaki kami kembali terhenti, tampak sebuah meja panjang membentang di tengah ruangan...


Laki-laki tadi menarik sebuah kursi seraya dimintanya Izumi untuk duduk di sana, Izumi mengikuti apa yang diminta laki-laki tadi seraya aku, Haruki, dan juga Eneas berdiri di belakangnya...


Melirik aku ke arah seorang perempuan dan juga laki-laki yang aku lihat sebelumnya di pasar, mereka berdua duduk tanpa mengeluarkan suara apapun...


Kualihkan pandanganku pada suara beberapa laki-laki yang mendekati. Suara langkah kaki yang mereka hasilkan semakin mendekat dan mendekat...


Pandangan mataku terpaku pada salah satu laki-laki yang berjalan mendekati, lama aku menatapnya yang terlihat baik-baik saja...



Ia tampak menikmati pembicaraan yang ia lakukan dengan seorang laki-laki paruh baya yang berada di sampingnya, beberapa kali juga ia tersenyum menanggapi perkataan yang dilontarkan laki-laki itu...


Apa aku terlalu mengkhawatirkannya?


Kau lihat itu kan Sachi? Dia baik-baik saja...

__ADS_1


Kau bodoh sekali sampai mengkhawatirkannya. Laki-laki di dunia ini tidak seperti kakakmu...


Ya Tuhan, dadaku terasa sesak melihatnya baik-baik saja tanpaku.


__ADS_2