
Berjalan kami semua mendekati sumber suara, tampak terlihat seorang laki-laki tua tengah memegang sebuah gulungan kertas di genggamannya. Dibukanya gulungan kertas tersebut lalu dibacanya dengan sekeras mungkin.
Para Pangeran dan juga Putri, ini perintah langsung dariku, Kaisar.
Aku ingin kalian mengikuti permainan yang telah aku persiapkan, kalian diwajibkan membentuk kelompok dengan masing-masing sepuluh orang yang salah satunya haruslah berasal dari para Pelayan yang berdiri mengelilingi kalian.
Kalian akan diberi waktu maksimal tujuh hari, untuk menemukan mahkotaku yang disembunyikan ke dalam hutan larangan yang ada di wilayahku.
Hutan tersebut dipenuhi oleh sihir, jadi jangan berharap jika kalian dapat melarikan diri sebelum ada yang menuntaskan permainan. Dan kalian, aku izinkan untuk melakukan apapun kepada rekan maupun musuh-musuh kalian.
Nyawa kalian, berada di pilihan kalian sendiri. Jadi pikirkan baik-baik, aku akan mengawasi kalian.
-Kaisar-
"Apa maksudnya semua itu?" teriak beberapa orang bergantian
"Kami akan memberikan kalian waktu untuk bersiap, jadi carilah kelompok yang terbaik untuk kalian, dan berundinglah tentang apa yang akan kalian lakukan," ucap laki-laki tua tadi berbalik dan berjalan menjauh
"Cih, merepotkan sekali," ucap Izumi menggenggam telapak tangannya
"Kita bertiga, berarti kurang tujuh orang lagi," ucapku menatap Haruki dan Izumi bergantian
"Bukankah tinggal lima orang lagi? Aku dan adikku akan bergabung di kelompok kalian," ucap Adinata berdiri dihadapan kami seraya tersenyum.
"Kami belum mengatakan setuju tentang itu," ucap Izumi balik menatapnya
"Laki-laki tua tadi mengatakan sihir bukan? Dan adikku sedikit bisa merasakan sihir," balasnya mengalihkan pandangan kepada Haruki
"Bagaimana menurutmu, Sa-chan?" ucap Haruki menatapku
"Tidak ada masalah untukku, berarti kalau begitu... tinggal tiga orang lagi," ucapku, kugigit pelan ujung ibu jariku
"Tiga orang?" ungkap Haruki.
"Masing-masing tunangan kalian, apa kalian ingin menelantarkan tunangan kalian?" ucapku menatap mereka bergantian.
"Sachi, akhirnya aku menemukanmu," terdengar suara perempuan mendekat, kualihkan pandangan mataku ke arah sumber suara.
"Julissa," ucapku menatapnya
__ADS_1
"Aku mencarimu kemana-mana, aku ikut denganmu ya?" ucapnya berlari memelukku
"Siapa dia?" ucap Izumi menatap kami
"Temanku, Julissa Laura. Putri dari Kerajaan Leta," ungkapku balas menatap Izumi
"Sachi, siapa dia?" bisik Julissa pelan padaku
"Kakakku, Takaoka Izumi. Serta kakak tertuaku, Takaoka Haruki," ucapku seraya memperkenalkan kedua kakakku pada Julissa
"Kau tidak pernah mengatakan jika kedua kakakmu sangat... sangatlah tampan," bisik Julissa lagi padaku
"Benarkah, mungkin karena aku tumbuh besar bersama mereka jadi sedikit tidak menyadarinya," sambungku berbisik padanya
"Nii-chan, bisakah temanku ini... ikut dengan kita?" ucapku menatap Haruki
"Jika aku tidak mengizinkannya, kau akan terus menerus berbicara tanpa henti. Jadi terserah kau saja," ungkap Haruki membuang pandangannya
"Terima kasih, nii-chan."
Kualihkan pandangan mataku ke sekitar, pandangan mataku terhenti menatap Zeki yang tengah berdiri sendiri dengan kedua lengan disilangkan ke dada. Kemeja putih yang ia kenakan, semakin melekatkan kesan dewasa yang terlihat lebih tumbuh dari terakhir kali kami bertemu...
"Apa kau menghindariku?"
"Sampai kapan kau akan menghindariku seperti ini?" ucapku lagi dengan setengah berteriak, kulangkahkan kakiku semakin cepat ke arahnya seraya kulemparkan jas hitam yang ada di genggamanku padanya
"Apa yang kau inginkan?" ucapnya balas menatapku
"Harusnya aku yang bertanya, beberapa kali aku mengirimkan surat menanyakan kabarmu. Tapi apa?"
"Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," ucapnya membuang pandangan
Kugenggam dengan kuat rok gaunku seraya kuangkat sedikit, kutendang dengan kuat pinggangnya. Berlutut ia kesakitan di hadapanku dengan telapak tangan menyentuh pinggangnya.
Berjalan aku mendekatinya dengan sedikit tertatih, sepatu hitam yang ada di kaki kananku telah terbang jauh dibelakangnya. Kuarahkan kedua telapak tanganku seraya mencengkeram kuat kerah kemeja yang ia kenakan.
"Jangan bercanda!" teriakku menatapnya
"Kau pikir kau siapa memperlakukan aku seperti itu. Sudah beratus-ratus kali aku katakan berhenti menyalahkan diri sendiri..."
__ADS_1
"Kenapa kalian selalu bersikap bodoh seperti itu," ucapku lagi, kututup seluruh wajahku menggunakan kedua telapak tanganku
"Aku mengirimkanmu surat setahun yang lalu, kau tahu. Disana tertulis jika aku hampir mati, apa kau membacanya?"
"Kau tidak membacanya bukan?"
"Maaf," ucapnya pelan
Kuturunkan telapak tangan yang menutupi wajahku, kutatap dan kuraih pisau kecil yang ia letakan di samping pinggangnya. Kuraih telapak tangannya menggunakan telapak tanganku yang lain, kuangkat rambut cokelatku menyamping...
"Lakukan, kau ingin mengakhirinya bukan? kau bisa menghapus namamu yang ada di tubuhku."
"Berhenti bercanda," ucapnya, dilemparkannya pisau kecil tadi ke tanah
"Apa aku terlihat bercanda di matamu? Kau yang sangat mengenalku bukan?" ucapku menatapnya
"Kau akan berada dalam bahaya jika bersamaku," ucapnya pelan
"Kau salah, kau sendirilah yang akan berada dalam bahaya jika terus bersamaku," ungkapku balas menatapnya
"Maaf, harusnya dulu aku menjauhkanmu dari Ayahku."
"Nazar boncuğu, ayahmu yang mengurungku akan tetapi jimat pemberiannya menyelamatkanku," ucapku, seraya mengeluarkan kalung giok berwarna biru dari balik gaun.
"Apa yang tengah kau lakukan, Sa-chan?" terdengar suara Haruki disertai cengkeraman kuat di kepalaku
"Berbicara dengan tunanganku, nii-chan," ucapku berusaha berdiri, kugenggam lengannya yang mencengkeram kepalaku itu.
"Apa kau Zeki Bechir?" ucap Haruki lagi seraya menatap ke arahnya
"Benar, Zeki Bechir. Pangeran keempat dari Kerajaan Yadgar, tunangan dari..."
"Heh," tukas Izumi memotong perkataan Zeki
"Aku tidak akan mengizinkan seseorang yang lemah dariku menjadi pendamping adikku," sambungnya seraya menatap Zeki
"Kau pasti Izumi bukan? Apakah itu caramu berbicara dengan yang lebih tua darimu?" ungkap Zeki balas menatap Izumi
"Bagaimana denganmu? Apakah itu caramu berbicara dengan yang lebih tua darimu?" sambung Haruki yang ikut menatap Zeki dengan senyum tipis mengukir di kedua sisi wajahnya.
__ADS_1