
Ikut duduk aku di samping Julissa, kuarahkan pandanganku pada pintu kamar yang masih tertutup. Pandangan mataku kembali teralihkan pada kotak-kotak kayu yang ada di hadapan kami.
"Duduklah di sini bersama mereka," terdengar suara perempuan, kualih pandanganku menoleh ke arah Ajeng yang berdiri di samping Julissa dengan Wasfiah yang juga berdiri di hadapannya.
Kutatap Wasfiah yang menggerakkan tubuhnya duduk di samping Julissa seraya kualihkan pandanganku pada Ajeng yang telah berdiri di hadapan kami dengan memegang bagian atas kotak kayu tersebut.
Tetap kupandangi Ajeng yang menggerakkan tangannya membuka kotak kayu tersebut, membungkuk ia ke samping seraya diletakkannya tutup kayu persegi panjang yang ada di genggamannya tadi ke lantai.
Kembali beranjak Ajeng berdiri sembari kembali diarahkannya kedua tangannya menyusuri bagian dalam kotak kayu tersebut. Sebuah kain berwarna merah diselingi motif benang emas yang menyelimutinya terangkat dari dalam kotak...
Diarahkannya kain merah tadi ke arah kami, kualihkan pandanganku kepada Julissa yang meraih kain darinya tadi seraya bergerak Julissa memberikan kain tersebut kepadaku dan juga Wasfiah.
"Kain tersebut dinamakan Songket dan kalian akan memakainya saat upacara pernikahan. Dan juga," ucapnya, kembali kuarahkan pandanganku padanya yang telah mengangkat tiga kotak kayu berukuran sedang berwarna cokelat di atas tangannya.
"Ambillah," ucapnya lagi, kuangkat telapak tanganku meraih salah satu kotak yang ia berikan padaku.
"Buka dan coba pakailah," sambungnya seraya kembali kuarahkan pandanganku menatap kotak kayu tersebut.
Kugerakkan tanganku perlahan membuka kotak tersebut, kutatap benda-benda mengkilap yang tersusun di dalamnya. Kualihkan pandanganku pada Julissa yang telah mengenakan salah satu gelang emas yang ia genggam di lengannya.
Pandangan mataku kembali terjatuh pada kotak kayu berisi penuh perhiasan tersebut seraya kuletakkan kotak tersebut di hadapanku. Kugerakkan tanganku mengambil salah satu gelang emas yang ada di dalamnya...
"Kalian akan mengenakan semuanya pada acara pernikahan besok, jadi aku pinta kalian untuk beristirahat yang cukup untuk upacara pernikahan besok terlebih kau calon pengantin," ucap Ajeng, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah berbalik menatap ke samping.
"Bagaimana denganmu? Apa kau baik-baik saja?" ucapnya kembali, kutatap dia yang telah mengalihkan pandangannya padaku.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja."
"Sudah berapa hari?"
"Eh?" ucapku kebingungan menatapnya.
"Sudah berapa hari dari waktumu?" sambungnya bertanya menatapku.
"Empat hari, itulah kenapa... Aku baik-baik saja," ungkapku lagi padanya.
"Baguslah, aku akan meninggalkan Wasfiah pada kalian berdua, karena biasanya seorang calon pengantin akan sangat gugup pada hari pernikahannya, jadi pastikan kalian menenangkannya. Aku ingin memeriksa terlebih dahulu persiapan pernikahan lainnya," ucap Ajeng kembali seraya berbalik dan berjalan menjauhi kami.
"Kau baik-baik saja?" terdengar suara Julissa, kualihkan pandanganku menatap padanya yang telah mengalihkan pandangannya ke arah Wasfiah.
"Rasanya, rasanya aku takut sekali. Aku tidak ingin menikah," ucapnya, kugerakkan tubuhku sedikit ke depan untuk dapat melihatnya.
"Tidak, bukan itu," ucapnya dengan suara bergetar, kutatap dia yang masih tertunduk tak bergeming.
"Apa karena Danur bukanlah Pangeran pertama seperti Adinata?" sambungku lagi padanya.
"Tidak, bukan itu."
"Apa karena Danur selama ini selalu dipandang sebelah mata oleh beberapa bangsawan di sini?"
"Ti-"
__ADS_1
"Lalu apa?!" ucapku memotong perkataanya dengan nada suara sedikit meninggi.
"Aku tidak tahu, aku hanya... Hanya," ungkapnya, tetap kupandangi dia yang terlihat menggigit bibirnya dengan tertunduk.
"Danur, dia laki-laki yang baik. Jika bukan karena aturan konyol dunia ini, aku tidak akan menyerahkan dia pada perempuan lemah sepertimu..."
"Danur, dia teman yang juga sangat berharganya untukku, sama seperti Julissa. Dia tidak akan segan-segan melakukan apapun untuk orang di sekitarnya..."
"Harusnya, rakyat biasa sepertimu bersyukur mendapatkan Pangeran yang sangat baik seperti-"
"Aku tahu, aku tahu bahwa aku tidak pantas mengatakan kata-kata seperti itu. Aku tidak yakin pada diriku sendiri, aku tidak yakin apakah aku dapat membahagiakannya," ucapnya memotong perkataanku, tetap kutatap dia yang mengangkat kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.
"Jangan memikirkan apapun, aku sebenarnya tidak ingin menceritakannya, akan tetapi..."
"Danur mengalami hal yang sama seperti yang kau rasakan, dia takut jika kau tidak bisa menerima kekurangannya, dia tidak percaya diri jika calon isterinya akan menerimanya walaupun dia menyandang gelar seorang Pangeran," ucapku lagi, kutatap Wasfiah yang telah mengangkat wajahnya menatapku.
"Apa yang kau katakan? Apa kau mencoba menghiburku?" ungkapnya dengan suara sedikit bergetar.
"Aku hanya mengatakan kejujuran, karena begitulah yang ia katakan padaku. Jadi kumohon, jaga temanku dan berikan dia kebahagiaan," ucapku, kualihkan pandanganku menatap matanya yang sedikit berair itu.
"Awalnya, aku hanya takut... Bagaimana rupa calon suamiku yang sekarang karena terakhir kali aku melihatnya saat kami bertunangan dahulu..."
"Dan saat aku melihatnya, entah kenapa... Aku seperti yakin jika dia adalah seseorang yang memang ditakdirkan untukku..."
"Aku tahu memang sedikit berlebihan akan tetapi, seperti itulah hal yang benar-benar kurasakan..."
__ADS_1
"Aku tidak perduli jika dia berbicara dengan terbata-bata atau dia dikenal sebagai Pangeran yang sedikit tidak waras. Hanya dengan melihatnya tersenyum bersama kalian, membuatku juga ingin ikut hadir di tengah-tengah senyumannya itu..."
"Aku berjanji akan membahagiakan temanmu, aku berjanji akan membuatnya selalu tersenyum saat aku berada di sampingnya," ucapnya lagi seraya lama ia tersenyum menatapku.