Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXXII


__ADS_3

"Apa kau yakin ingin menunggangi kuda sendirian?" ucap Izumi, kuarahkan pandanganku padanya yang telah menunggangi kudanya di samping kuda milikku.


"Naiklah!" ikut terdengar suara Zeki, kualihkan pandanganku padanya yang juga telah menunggangi kudanya di sampingku.


"Aku ba..."


"Naiklah dan duduk di belakangku, apa aku harus mengulangi perkataanku?" ucapnya lagi memotong perkataanku.


"Berikan kuda milikmu padaku, aku akan meminta seorang pasukan membawakannya untukmu," sambung Izumi, kualihkan kembali pandanganku padanya yang mengarahkan telapak tangannya padaku.


"Aku mengerti," ucapku, ikut kuarahkan tali kekang kuda yang ada di genggamanku padanya.


Berbalik melangkah aku mendekati Zeki, kuarahkan telapak tanganku menggenggam telapak tangannya yang ia arahkan padaku seraya kugerakkan tubuhku naik ke atas kuda miliknya...


"Dekatkan lagi tubuhmu padaku, apa kau ingin jatuh jungkir-balik dari atas kuda?" ucapnya, kualihkan pandanganku menatapnya yang juga menggerakkan kepalanya menoleh ke belakang.


"Tapi luka di punggungmu?"


"Astaga... Takaoka Sachi, apa kau tidak tahu betapa panasnya udara di Kerajaan ini, jangan membuat kepalaku ikut panas karenamu," ungkapnya lagi padaku.


Kugerakkan telapak tanganku menyentuh pundaknya seraya mencoba bergeser aku mendekatinya, kembali kugerakkan tanganku tadi merangkul pinggangnya... Kuletakkan kepalaku bersandar di pundaknya, kuda yang kami tunggangi bergerak perlahan.


"Apa kau tidak ingin mengatakan sepatah katapun?"


"Apa itu penting?" ucapku balas bertanya padanya.


"Kau diam membisu seperti itu membuat perasaanku tidak tenang."


"Aku hanya bersikap layaknya manusia biasa."


"Maaf, kau marah karena mengkhawatirkan kami bukan?"

__ADS_1


"Aku baik-baik saja," sambungku menanggapi perkataannya.


"Pegangan yang erat," ucapnya, tubuhku terhentak pelan saat kurasakan kuda yang kami tunggangi bergerak lebih cepat dari sebelumnya.


"Kau ingin membawa Adikku kemana, Zeki?!" terdengar teriakan Izumi, menoleh aku ke belakang menatap mereka yang terlihat semakin jauh dari kami.


"Kau ingin membawaku kemana?" ungkapku, kembali kuarahkan pandanganku menatap belakang lehernya.


"Kau diam membisu seperti itu membuatku khawatir, aku akan mengajakmu ke sebuah tempat yang tak sengaja kulihat saat perjalanan menuju ke sini sebelumnya," ucapnya menjawab perkataanku.


"Lihatlah ke sana!"


"Aku tidak bisa melihat apa-apa, kau menutupi pandanganku," ucapku, kugerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri berusaha melihat apa yang ia maksud.


"Lihatlah ke sana!" ucapnya lagi, Zeki memiringkan sedikit tubuhnya seraya dirangkulnya tubuhku di bawah lengan kanannya.


Kutatap sebuah sungai panjang yang sedikit jauh di hadapan kami, beberapa puluh perahu berbaris di sana... Beberapa dari mereka bahkan ada yang mengantarkan beberapa bahan makanan ke perahu lainnya.


"Apa itu?" ungkapku, kuarahkan pandanganku ke atas menatapnya.


"Apa kau ingin ke sana? Kau tahu bukan? Kita tidak pernah menghabiskan waktu yang normal sebagai pasangan selama ini," ungkapnya lagi padaku.


"Apa yang kau maksudkan itu kencan?"


"Kencan? Apa itu kencan?"


"Tidak, bukan apa-apa. Bawa aku ke sana Darling," ucapku balas tersenyum menatapnya.


Kuangkat tubuhku kembali duduk di belakangnya, Zeki kembali menggerakkan kuda miliknya mendekati sungai tadi. Kuda yang kami tunggangi, kulepaskan pelukanku di pinggangnya seraya kutatap ia yang menggerakkan kakinya menuruni kuda.


Zeki mengarahkan kedua tangannya ke arahku, ikut kuarahkan kedua tanganku menyentuh pundaknya seraya kugerakkan kedua kakiku menuruni kuda yang kami tunggangi sebelumnya...

__ADS_1


Seorang laki-laki berjalan ke arah kami, laki-laki tadi menatap Zeki yang dibalas sebuah anggukan kepala darinya. Menunduk laki-laki tadi meraih tali kekang yang mengikat kuda seraya ditariknya kuda tersebut mengikutinya...


Langkah kakiku ikut bergerak mengikuti tarikan pelan yang ia lakukan, kuarahkan pandanganku pada genggaman yang ia lakukan padaku. Kembali kuarahkan pandanganku ke depan, langkah kaki kami terhenti pada satu perahu yang dibawa oleh seorang kakek tua di pinggir sungai...


Zeki melangkahkan kakinya menaiki perahu tersebut, ikut kulangkahkan kakiku mengikutinya seraya masih kurasakan genggaman tangannya yang enggan terlepas dariku.


Duduk aku di pinggir perahu kecil itu, menoleh aku ke arah Zeki yang juga telah duduk di sampingku. Kualihkan pandanganku pada Kakek-kakek tua yang ada di hadapan kami, bambu yang ada di tangannya bergerak pelan diiringi bergeraknya juga perahu yang kami naiki.


"Kau ingin apa?" ucapnya, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya.


"Aku lapar."


"Maaf, bisakah kau membawa kami ke perahu yang menjual makanan?" ucap Zeki, dialihkannya pandangannya ke arah kakek tua tadi.


Perahu yang kami naiki berhenti sejenak, kurasakan perahu tersebut berbelok pelan lalu bergerak kembali seperti biasa. Pandangan mataku teralihkan pada sebuah perahu sedikit berukuran besar yang terdapat berbagai macam makanan beraneka warna tersusun di atasnya...


"Apa yang ingin kau makan?"


"Aku ingin benda bulat-bulat berwarna hijau yang diselimuti putih-putih itu," ucapku padanya.


Zeki bergerak mendekati pedagang itu, diraihnya beberapa keping uang dari dalam kantung yang ia keluarkan dari dalam pakaian yang ia kenakan. Diberikannya kepingan uang tersebut pada pedagang tadi seraya sebelah tangannya membawa sebuah bungkusan daun berisi makanan dari pedagang tadi...


"Makanlah," ungkapnya, duduk ia disampingku seraya diarahkannya bungkusan daun berisi lima buah benda bulat tadi.


Kuarahkan jariku mengapit makanan bulat berwarna hijau tersebut, kuambil sedikit benda putih yang menyelimuti makanan tadi seraya kumasukkan benda tersebut ke dalam mulutku...


"Ini kelapa," ucapku menatap Zeki, seraya kuarahkan makanan bulat berwarna hijau tadi semakin mendekati mulutku...


"Apa ini gula? Ini seperti meleleh di dalam mulutku. Cobalah!" ungkapku, kuarahkan makanan bulat berwarna hijau yang masih setengah di tanganku kepada Zeki.


Zeki menggerakkan mulutnya menggigit makanan yang ada di tanganku tadi, kutatap dia yang mengunyah pelan makanan tadi... Sesekali kutatap ia yang mengangguk seakan menikmatinya.

__ADS_1


Kutatap mata Zeki yang beberapa kali melirik ke arah kiri tubuhnya sembari kugerakkan mataku mengikuti lirikannya. Tampak terlihat Kakek tua tadi beberapa kali meneguk ludahnya sendiri seraya lama ia menatap daun berisi makanan yang ada di tangan Zeki.


"Kakek, apa kau juga ingin mencobanya?" ucapku menatapnya, terhentak pelan tubuhnya tadi balik menatapi kami.


__ADS_2