Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLX


__ADS_3

Kedua laki-laki itu membawa kami mendekati pagar, langkah kedua kuda yang kami tunggangi berhenti saat dua orang penjaga yang berdiri di kedua sisi pagar menghalangi kami dengan tombak di tangan mereka. “Mau ke mana kalian?” Aku melirik ke salah satu penjaga yang melangkahkan kakinya mendekati kuda kami.


Laki-laki yang ada di depanku itu membuka penutup kepala pada jubah yang ia kenakan, kepalanya sedikit menunduk ke samping, ke arah penjaga yang aku maksudkan, “kami, diperintahkan Pangeran Alma Mateo untuk mencari sesuatu,” ungkap laki-laki itu singkat.


“Kami, tidak diperbolehkan untuk membuka pagar kepada orang asing,” jawab penjaga itu sembari mengangkat sedikit pandangannya, “kembalilah ke dalam,” tukas penjaga itu kembali sambil menggerak-gerakkan jari telunjuknya itu ke arah kami.


Laki-laki yang menunggangi kuda di depanku itu meraih lalu mencengkeram jari telunjuk penjaga tadi, dia menggerakkan sedikit tangannya hingga penjaga tadi mengerang kesakitan dengan kedua kakinya yang juga sedikit tertekuk di samping kuda kami. “Apa yang kau lakukan?!” Bentak penjaga lainnya yang berjalan mendekat dengan sebilah tombak yang ia genggam tadi mengarah kepada kami.


“Pangeran Alma Mateo, berstatus lebih tinggi dibandingkan Tuan kalian. Jika kami menghabisi kalian berdua, tidak ada hukuman apa pun untuk kami, karena kami hanya menjalankan perintah langsung dari Pangeran. Akan tetapi, jika salah satu dari kalian menyakiti kami … Jangan harap, nyawa kalian akan diampuni olehnya,” aku melirik ke arah laki-laki yang ada di hadapan Eneas, laki-laki itu mendongakkan sedikit kepalanya diikuti matanya yang melirik tajam ke arah penjaga yang terlihat pucat pasi mendengar perkataannya.


Pandangan mataku kembali beralih kepada penjaga yang jarinya dipatahkan oleh pemuda di hadapanku, penjaga itu terjatuh dengan sebelah tangannya menggenggam erat telapak tangannya ketika pemuda atau yang aku maksudkan pengawal Alma, melepaskan cengkeraman tangannya di jari telunjuk penjaga tadi.


“Buka pintunya! Jangan membuang-buang waktu kami,” sambung laki-laki yang duduk membelakangiku itu dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah pagar.


Penjaga itu lama menatapnya sebelum dia menundukkan kepala lalu melangkah mendekati pagar. Dia membuka lalu menarik pagar tersebut hingga terbuka … Dengan perlahan, kuda yang kami tunggangi berjalan melewati pagar tersebut lalu mulai berlari cepat dan semakin cepat saat pagar ataupun penjaga itu mulai tak terlihat.


“Apa kau tahu padang rumput ilalang yang ada di pinggir jalan?” Aku berucap pelan hingga pemuda yang duduk di hadapanku sedikit menoleh ke belakang.


“Apa ada sesuatu di sana?” Dia balas bertanya sebelum mengarahkan kembali pandangannya ke depan.


“Entahlah, aku hanya ingin memastikan. Apa kau bisa mempercepat kudamu, jika tidak bisa … Biar aku, yang langsung menungganginya,” sahutku yang dibalas sebuah decakan lidah darinya.


Aku menoleh ke belakang saat kuda yang kami tunggangi itu semakin jauh meninggalkan laki-laki yang berkuda bersama Eneas. Aku refleks memeluk pinggang laki-laki itu saat kuda yang kami tunggangi itu mengangkat kedua kaki depannya ke atas sebelum akhirnya berhenti.

__ADS_1


“Apa yang terjadi di sini?” Aku melirik ke arahnya yang menggerakkan kudanya mendekati kereta kuda dengan dua mayat laki-laki di sekitarnya.


Apa tidak ada yang menolong mayat mereka?


“Apa mungkin mereka dirampok?” Aku berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi, “apa kita harus menolong mereka?” Aku balik bertanya yang dibalas oleh gelengan kepala laki-laki itu.


“Dia sepertinya seorang Bangsawan, akan membuat masalah untuk kita jika menolong mereka … Karena kemungkinan terburuknya, kita sendiri yang akan diduga sebagai dalang pembunuhannya,” ungkap laki-laki itu sebelum dia menggerakkan kudanya menjauhi kereta kuda tadi.


“Ada apa?” Kami kembali berhenti saat temannya yang membawa Eneas menatap kami dari atas kuda yang dia tunggangi.


“Tidak ada apa-apa, hanya dua mayat yang tidak diperdulikan,” jawab pemuda tersebut sembari mengarahkan kuda yang kami naiki itu berjalan mendekati padang ilalang.


Aku sedikit mengangkat wajahku saat kuda yang kami tunggangi itu membelah padang ilalang yang membentang luas, “coba, ke arah sana,” ucapku dengan menunjuk ke arah kanan.


“Sebenarnya, apa yang ada di sana?” Dia balik bertanya sambil berusaha menoleh ke arahku yang ada di belakangnya.


“Aku mendengar sebuah legenda tempat ini, aku hanya ingin membuktikan kebenaran dari legenda itu. Itu saja,” ungkapku, aku menyipitkan kedua mata … Berusaha untuk memperjelas pandangan.


Semakin kuda kami berjalan maju, semakin kuat juga bau anyir nan busuk yang merebak masuk ke dalam hidung. Aku sedikit melirik ke arah Eneas yang menutup rapat mulutnya menggunakan telapak tangan, berusaha untuk menahan rasa mual yang menjalar di tubuhnya. Tanpa sadar aku menggenggam pakaian yang dikenakan laki-laki yang ada di hadapanku itu, ketika temannya yang bersama Eneas memuntahkan banyak sekali isi perutnya dari atas kuda yang ia tunggangi.


“Apa kau baik-baik saja?” Dia bertanya kepada temannya ketika kuda yang kami naiki itu berjalan mendekati mereka.


“Tempat apa ini? Kenapa busuk sekali?” Jawab laki-kaki tersebut dengan kembali memuntahkan cairan lendir bercampur makanan dari dalam mulutnya.

__ADS_1


Aku membuang pandanganku, menghindari mereka … Kututup kuat bibir dan hidungku menggunakan lengan, sekuat mungkin aku mencoba untuk mengusir rasa mual yang membayangi. Aku menahan napas sembari beranjak lalu turun dari atas kuda tersebut.


“Apa yang kau lakukan, Putri?”


Aku menghentikan langkah kaki lalu berbalik menoleh ke arahnya, “aku, akan memeriksanya sendiri. Kau, jaga saja teman dan adikku,” ungkapku sebelum melanjutkan kembali langkah.


Lagi-lagi langkah kakiku terhenti saat terdengar suara jatuh dari arah belakang, “Pangeran, memerintahku untuk menjaga kalian. Aku, akan kehilangan kehormatanku di hadapan Pangeran jika aku tidak becus melakukan perintahnya,” ucap pemuda itu yang juga telah melompat turun dari atas kudanya.


“Bagaimana dengan temanmu?” Aku berucap dengan sedikit melirik ke arah laki-laki yang duduk di depan Eneas.


“Dia akan menjaga adikmu di sini,” timpalnya yang juga mengarahkan matanya melirik ke arah Eneas.


“Nee-chan, jika kau pergi, aku pun-”


“Eneas,” ucapku memotong perkataannya, “kau masih belum terbiasa dengan bau busuk seperti ini. Tetaplah di sini!”


“Tapi nee-chan.”


“Bagaimana jika di sana ada musuh, dan aku terpaksa bersembunyi untuk menghindarinya. Apa kau bisa sanggup berlama-lama menghirup bau busuk itu?!”


Eneas terdiam saat aku mengatakannya, “kalian, masih saja menganggapku seperti anak kecil,” sindirnya sambil melemparkan pandangannya, berusaha untuk menghindari tatapanku.


“Aku tidak pernah melakukannya. Justru, laki-laki dewasa, akan mengetahui batas diri mereka … Mereka akan memikirkan sesuatu beberapa kali terlebih dahulu sebelum melakukannya … Apa perbuatanku ini akan menghambat perjalanan rekanku? Apa aku akan menyusahkan mereka?”

__ADS_1


“Jika kau masih belum memahaminya? Liriklah, laki-laki, Kesatria yang ada di dekatmu,” ucapku sambil melirik ke arah pengawal Alma yang duduk di dekat Eneas. “Aku pergi, jika aku belum kembali saat matahari terbenam, segera cari aku. Aku mengandalkanmu, Adikku,” sambungku sembari berbalik lalu melangkah pergi meninggalkan mereka.


__ADS_2