Fake Princess

Fake Princess
Chapter LXXII


__ADS_3

"Di sebelah kanan kalian, terdapat tumpukan senjata yang dapat kalian pergunakan. Kalian dapat memilih senjata apapun yang ingin kalian bawa, dan di sebelah kiri kalian terdapat beberapa bahan makanan, kalian juga dibebaskan memilih apapun untuk cadangan makanan kalian ketika disana," ucap laki-laki tua yang kemarin membacakan pengumuman.


"Senjata apa yang akan kau pilih?" ucap Izumi seraya berusaha mengikat sebuah kain pada lengannya.


"Mungkin hanya pedang dan juga panah, aku ingin menggunakan keduanya," ucapku, berbalik aku seraya meraih kain tersebut dan mengikatkannya.


"Pedang... dan juga panah?" tukas Adinata menatapku, tampak terlihat yang lainnya ikut menatapku bergantian.


"Dari kecil aku sudah belajar beladiri, panahan, dan juga bertarung menggunakan pedang," ucapku balas menatap mereka satu persatu.


"Tapi, bukankah..."


"Karena aku perempuan? Apakah ada larangannya jika perempuan tidak diperbolehkan melakukannya?" ucapku memotong perkataanya.


"Kalian bertiga, bawa bahan-bahan makanan yang dirasa perlu. Kalian dapat melakukannya bukan?" ucap Haruki menatap ke arah Julissa, Luana dan juga Sasithorn, dibalasnya perkataan Haruki dengan anggukan kepala dari mereka.


"Apa kau bisa beladiri?" ucap Haruki kembali seraya menatap kearah Arion.


"Aku tidak bisa," balasnya seraya menggenggam kuat telapak tangannya.


"Kalau begitu, kau bantu para perempuan memilih bahan-bahan makanan," sambung Haruki berbalik dan berjalan menjauh.


Berjalan aku dan Izumi mengikutinya dari belakang. Adinata, Danurdara dan bahkan Zeki juga ikut mengikuti langkah kami bertiga menuju tumpukan senjata.


"Coba pedang ini, ini sedikit ringan dan tidak akan terlalu berat untukmu Sa-chan," ucap Haruki seraya menyerahkan sebuah pedang yang dibalut sarung kayu berwarna hitam.


Kuraih pedang tersebut seraya coba aku keluarkan dari sarungnya. Kilatan sinar matahari yang jatuh di atas pedang tersebut tampak sedikit menyilaukan mata.

__ADS_1


"Cobalah panah ini, ukurannya hampir sama seperti yang sering kau gunakan," sambung Izumi berbalik menatapku, diambilnya pedang yang ada di tanganku seraya digantinya dengan busur panah yang ia coba berikan padaku.


"Lihatlah itu, seorang perempuan mencoba untuk memanah? Apa mereka sedang bercanda?" bisik beberapa orang laki-laki seraya menatapku disertai sebuah senyum mengejek terukir di wajah mereka masing-masing.


"Aku akan memberikanmu sepuluh perhiasan baru jika kau dapat menutup mulut mereka Sa-chan, aku memberikanmu izin untuk melakukannya."


"Pastikan kau tidak menarik kata-katamu nii-chan, karena kau sendiri telah paham bagaimana tergila-gilanya aku dengan uang," ucapku, berbalik aku seraya meraih satu anak panah yang tersusun di dalam kotak kayu.


Kuletakkan anak panah tersebut pada busur yang aku pegang, kuangkat seraya kutarik dengan kuat tali yang menyambungkan busur tersebut. Kuarahkan anak panah tersebut pada seorang anak laki-laki yang tampak sibuk berbicara dengan laki-laki lain dihadapannya.


Kulepaskan telapak tanganku yang memegang kuat tali tersebut, melesat jauh anak panah tersebut memukul gelas yang dipegang laki-laki tadi. Gelas kaca tersebut berhamburan pecah, air yang mengenang di dalamnya tampak mengalir membasahi telapak tangan laki-laki tadi.


Bisikan-bisikan penggugah emosi sebelumnya meredam, mereka diam membisu. Berjalan aku mendekati mereka, berlutut aku seraya meraih anak panah yang tergeletak di hadapan dua orang laki-laki tadi.


"Maaf, tanganku tak sengaja tergelincir ketika memegangnya," ucapku seraya beranjak dan berbalik berjalan menjauh.


"Aku menyukai panah ini," ungkapku lagi seraya menatap Izumi dan Haruki yang tengah membuang pandangannya menahan tawa.


"Aku tidak tahu harus berkata apa? Jika saja tunanganku sama sepertinya," ucap Adinata menatapku.


"Maaf, tapi dia tunanganku," ungkap Zeki berjalan mendekat ke arahku, diletakkannya lengannya di atas pundakku.


"Siapa yang memberikanmu izin untuk menyentuh adikku?" lanjut Izumi berdiri di hadapan kami, diangkatnya lengan Zeki dengan jari tangannya.


"Apa aku harus meminta izinmu setiap kali aku mau berkomunikasi dengan tunanganku, calon kakak ipar," ungkap Zeki, digenggamnya tangan Izumi yang memegang lengannya menggunakan tangannya yang lain, tersenyum ia balas menatap Izumi.


"Sa-chan, kemarilah."

__ADS_1


Menoleh aku ke arah Haruki yang tengah melambaikan telapak tangannya beberapa kali ke arahku, berjalan aku mendekati Haruki yang masih mengukirkan senyum dingin di wajahnya.


Di dunia ini, tak ada yang lebih menakutkan untukku dibandingkan senyum dingin Haruki.


"Aku datang, nii-chan," ucapku berjalan dan berdiri di sampingnya.


"Disini ada perlengkapan-perlengkapan lainnya, haruskah kita membawa beberapa macam barang yang lainnya," ucapnya menatapku.


"Hutan larangan, apa kau mengetahui tentangnya nii-chan?"


"Apa kau masih takut akan sihir hitam setahun yang lalu?" ucapnya pelan.


"Aku lebih mengkhawatirkan kalian, sihir hitam tersebut tak akan menyerangku karena Kou sendiri memberikan sihirnya sebagai perisai tak terlihat di tubuhku..."


"Tapi kalian," ucapku tertunduk.


"Kami, akan baik-baik saja. Selama kau menyayangi kami, sihir apapun tidak akan menyentuh kami."


"Apa yang kau maksudkan nii-chan?" ucapku mengalihkan pandangan kepadanya yang ikut tertunduk.


"Apa aku mengatakan sesuatu?" ucapnya balas menatapku.


"Mungkin aku salah mendengarnya. Apa kau bisa menyalakan api nii-chan?"


"Apa kau pernah melihatku menyalakan api sebelumnya?"


"Izu nii-chan!" teriakku seraya menoleh kearah Izumi yang masih berseteru dengan Zeki.

__ADS_1


"Ada apa?" balasnya berjalan mendekatiku.


"Apa kau bisa menyalakan api?" ucapku menatapnya yang telah berdiri disampingku.


__ADS_2