
"Izumi," ucap Haruki saat Izumi melangkah pergi.
"Sebenarnya, apa yang terjadi padanya," sambung Haruki kembali, dia berjalan pergi setelah memukul keras meja makan.
"Maafkan kedua Kakakku," ucapku beranjak berdiri dengan Cia yang ku rangkul erat di gendongan.
"Eneas, bisakah kau menjaganya," ucapku berjalan mendekatinya, Eneas mengangkat tangannya meraih Cia yang ada di gendonganku.
Aku berbalik melangkah meninggalkan ruangan, ku susuri satu persatu ruangan yang ada di rumah ini. Beberapa kali aku mengetuk pintu pada beberapa ruangan yang pintunya tertutup rapat...
Kedua kakiku melangkah mendekati pintu rumah, kubuka pintu tersebut dengan kuarahkan kepalaku sedikit keluar sekedar memastikan keadaan. Kutatap Izumi yang tengah duduk di teras... Pandangan matanya, menatap lurus ke langit malam.
"Izu nii-chan," ucapku berjalan mendekatinya.
"Jangan mendekat... Kumohon," ungkapnya tertunduk diikuti kedua tangannya bergerak mengusap wajahnya.
"Nii-chan," ungkapku menghentikan langkah kaki di belakangnya.
"Maaf, berikan aku waktu untuk menenangkan diri," ungkapnya tertunduk dengan wajah bersembunyi di antara kedua kakinya yang bertekuk.
"Setiap ia tersenyum terasa menyakitkan, kau tahu."
"Aku masih mengingat jelas kata-kata mu malam itu, nii-chan," sambungku dengan suara bergetar, Izumi menoleh menatapku dengan kedua matanya yang telah basah.
"Bagaimana kau?"
"Aku melihatmu, malam itu aku memperhatikan mu, Kakak..."
"Anak laki-laki yang duduk di samping Ibuku ketika dia meninggal. Apakah itu kau?" Ungkapku lagi padanya.
"Sachi."
__ADS_1
"Bukan hanya kau, aku pun selalu dihantui mimpi buruk itu. Aku tidak tahu kenapa? Aku tidak tahu itu mimpi atau kenyataan, tapi mimpi itu terasa sangat nyata untukku, terlebih saat kau menangis di samping Ibuku. Katakan nii-chan, apa yang harus aku lakukan untuk kalian?"
"Izumi," terdengar suara Haruki dari arah belakang, aku berbalik menatapnya yang tengah berjalan mendekat.
"Apa yang kau inginkan?" Balas Izumi mengalihkan pandangannya.
"Dengarkan penjelasan ku, aku punya alasan kenapa melakukannya," sambung Haruki berdiri di sampingku.
"Tutup mulutmu Haruki, aku sedang tidak ingin mendengarkan apapun sekarang."
"Aku paham, jika kau akan melakukan apapun untuk mencapai tujuanmu. Tapi apa kau lupa, siapa pembunuh Ibu kita," ungkap Izumi lagi, diangkatnya kepalanya kembali menatap langit.
"Aku ingat, aku ingat semuanya."
"Kau tidak tahu apa-apa Haruki, jadi tutup mulutmu," ucap Izumi menjawab perkataan Haruki dengan suara bergetar.
"Kenapa, kenapa kita harus bekerjasama dengan mereka. Mereka baru berhenti menjadi Kesatria Kekaisaran enam tahun yang lalu, lebih lama dari itu... Mereka masih menjadi Kesatria yang melayani Kekaisaran."
"Tenangkan pikiranmu terlebih dahulu, Izumi."
"Pikiranku sudah sangat tenang sejak lama, jika tidak... Aku telah membunuh mereka semua, apa kau tahu itu Kakak?" Tukas Izumi melepaskan genggaman tangan Haruki di lengannya.
"Izumi," ucap Haruki memukul kuat wajah Izumi.
"Nii-chan," ucapku beranjak berdiri, kuraih dan kutarik lengan Haruki yang masih berusaha memukul Izumi.
"Apa kau pikir hanya kau yang terluka?!" Bentak Haruki menatap Izumi yang telah terduduk akibat pukulan Haruki.
"Aku, Sachi, Ayah, semuanya terluka... Bukan hanya kau," ucap Haruki menarik kerah pakaian Izumi.
"Apa kau lihat dia? Kau lihat Sachi yang ada di sampingku sekarang, apa kau ingin dia mengkhawatirkanmu seumur hidupnya?!"
__ADS_1
"Kau tidak akan mengerti!"
"Kami tidak akan mengerti jika kau tidak ingin menceritakannya! Katakan Izumi, kami keluargamu bukan?" Ucap Haruki duduk di hadapannya, kulepaskan tanganku yang menggenggam lengannya saat kepalanya bersandar di pundak Izumi.
"Akulah penyebab kematian Ibumu Sachi. Jika dia tidak mencoba melindungi ku, kau mungkin masih akan bersamanya sekarang. Kalian, mungkin masih bersamanya sekarang. Maafkan aku," ucapnya terdengar pelan.
"Ini bukan kesalahanmu nii-chan, semuanya bukan kesalahanmu," ungkapku duduk di sampingnya, kuraih kepalanya bersandar di pundakku.
"Aku tidak pernah bersikap baik kepadanya. Walaupun dia selalu bersikap baik padaku, aku selalu membalasnya dengan kata-kata kasar. Aku terlalu banyak melukai Ibumu, Sachi," ucapnya, kurasakan genggaman erat di punggungku.
"Aku telah membohongi kalian selama ini, karena itulah... Maaf," ucapnya terdengar samar, Haruki menatapnya lama sembari tangannya bergerak menepuk-nepuk kepala Izumi.
"Apa Ibu pernah mengatakan jika dia membencimu?"
"Apa kau tahu Izumi, dia selalu bersemangat menceritakan mu saat dia membawakan makanan untukku. Izumi memakan habis masakan ku, Izumi seperti ini, Izumi seperti itu... Sampai aku berpikir, aku ingin sekali bertemu dengan Adik laki-laki ku itu," sambung Haruki kembali padanya.
"Aku yakin, Ibu tidak menyimpan dendam sedikit pun padamu... Ibu, akan memaafkan semua kesalahan yang mungkin kita perbuat. Jika Ibu bertindak jahat kepadamu, kau tidak akan menyayanginya seperti saat ini bukan?"
"Apa kau ingat pesan Ayah?"
"Kenapa perasaan dan pikiran tercipta bersama. Karena jika hanya mengandalkan perasaan, dunia ini akan hancur. Orang itu berlaku tidak adil padaku maka aku akan membunuhnya, orang itu tidak mengerti perasaanku, maka aku akan menghabisinya. Begitu seterusnya..."
"Tapi, setiap manusia pasti akan mengalami perubahan, entah itu dari bentuk tubuhnya atau bahkan dari jiwa yang ada di dalamnya. Sama seperti yang dikatakan Sachi, jangan terlalu memusatkan perhatian pada keburukan seseorang... Tapi lihat, sisi baik dari orang itu."
"Bagaimana jika sekarang Sachi membenci mu karena perbuatan yang dulu kau lakukan pada Ibunya, apakah kau akan menerimanya?"
"Maaf," terdengar suara Yoona dari arah samping, kepalaku bergerak menoleh ke arahnya yang tengah berdiri dengan Eneas, Cia, Jabari dan yang lainnya di belakangnya.
"Jika kau meragukan kami semua akan berkhianat atau tidak. Kami siap untuk disumpah darah," ucap Jabari menimpali perkataan Yoona.
"Atau, kami akan membeberkan semua rahasia Kekaisaran yang hanya diketahui oleh para Kesatria kepada kalian..."
__ADS_1
"Walaupun, kami akan kehilangan nyawa saat ini juga," Sambungnya kembali dengan berlutut menatapi.