
"Mau kau apakan hewan-hewan ini?" Tanya Izumi dengan sedikit berteriak, kulangkahkan kedua kakiku mendekatinya yang telah berdiri di samping kotak kayu besar yang dibawa oleh salah satu anak buah Arata.
"Tentu saja, aku akan menggunakan mereka untuk menghalau pasukan musuh. Aku tidak sengaja melihat hewan-hewan ini, mungkin mereka dulu dijual untuk dikonsumsi oleh pemilik tempat makan itu," ucapku dengan mengangkat telapak tanganku mengusap bagian atas kotak kayu tersebut.
"Bawa hewan-hewan ini, lalu letakkan mereka di tempat yang telah aku sediakan. Kumohon, berhati-hatilah," ucapku kepada empat orang laki-laki yang membawa kotak kayu tadi, keempat orang tersebut mengangguk pelan bergantian ke arahku.
"Kau mempersiapkan semuanya dengan sangat baik," ucap Izumi melangkahkan kakinya di sampingku saat aku berbalik meninggalkan kotak kayu besar tadi, "aku harus melakukannya. Aku, tidak ingin kerja keras yang kita lakukan selama ini berakhir sia-sia," aku menoleh lalu tersenyum menatapnya.
"Aku tahu, aku akan memeriksa beberapa Kesatria yang aku perintahkan membawa perlengkapan senjata," ucap Izumi menepuk pelan kepalaku, tubuhnya berbalik lalu berjalan menjauhiku.
"Lakukan dengan cepat! Musuh sebentar lagi sampai, apa kalian ingin mereka merenggut semua kerja keras kita?!" Bentakku, kuarahkan kepalaku melirik ke arah para Kesatria yang tengah menyusun kendi-kendi kecil di samping tembok benteng.
"Mana mungkin, Hime-sama."
"Kami tidak akan membiarkan mereka melakukannya," mereka kembali mengeluarkan suara bergantian diikuti pergerakan mereka yang semakin cepat melakukan pekerjaan masing-masing, "jika kalian tidak menginginkannya, lakukan semuanya dengan cepat hingga kalian merasa tidak sanggup bernapas lagi!"
"Sesuai perintahmu, Hime-sama!" Teriakan kompak dari para Kesatria itu membuat tubuhku sedikit bergidik, aku berbalik melangkahkan kaki meninggalkan mereka semua.
Kedua kakiku semakin cepat berjalan menaiki anak tangga yang ada di samping benteng, "bagaimana, apa kalian semua telah mempersiapkan semua anak panah yang akan digunakan?!" Ucapku kembali dengan sedikit berteriak ke arah para Kesatria yang tengah melilitkan sedikit ujung anak panah dengan kain bekas lalu meletakkan anak panah tadi ke dalam tong kecil berisi penuh minyak.
"Tinggal sedikit lagi Hime-sama, kami akan menyelesaikannya dengan sangat cepat. Percayalah," ucap salah seorang Kesatria menoleh ke arahku, kutatap telapak tangan Kesatria tadi yang masih melilitkan kain ke mata anak panah yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Aku hanya akan melihat hasil yang kalian lakukan. Cepatlah! Kalian juga tidak ingin mereka mengambil alih tempat ini lagi bukan?!" Aku kembali sedikit berteriak ke arah mereka, "tentu saja tidak, Hime-sama," ucap para Kesatria itu bergantian.
"Jika kalian tidak menginginkannya, lakukan semuanya dengan sangat cepat!" Aku kembali berteriak memberikan perintah kepada mereka, "sesuai perintah darimu, Hime-sama," mereka membalas perkataanku dengan teriakan lantang yang mereka lakukan.
"Hime-sama," suara laki-laki kembali terdengar, kugerakkan tubuhku menoleh ke belakang, "ada apa?" Tanyaku kepada laki-laki berkulit hitam, bertubuh besar yang dulunya menghancurkan kepala pasukan musuh dengan senjata pentungan yang ia bawa.
"Kakak memberikan perintah untuk memberikan ini kepadamu," ucap laki-laki tersebut dengan sebuah gulungan di telapak tangannya. "Gulungan apa ini?" Tanyaku saat mengangkat sebelah tanganku meraih gulungan yang ada di telapak tangannya itu.
"Jadi kau dan juga Gritav yang akan mengawalku?" Tanyaku saat kedua bola mataku masih terpaku pada tulisan yang ada di dalam gulungan kertas tersebut.
"Namamu?" Aku kembali bertanya saat kualihkan pandanganku menatapnya, "Adofo," ucapnya singkat membalas perkataanku.
"Adofo? Darimana kau berasal?" Tanyaku dengan sedikit mengerutkan kening menatapnya. "Aku berasal dari suatu pulau terpencil," ucapnya kembali menjawab pertanyaanku.
"Hime-sama!" Bentakan suara laki-laki mengejutkanku, kuangkat kembali tubuhku beranjak berdiri seperti sebelumnya.
"Apa? Apa yang kau lakukan Hime-sama? Seorang ... Seorang .... Seorang perempuan sepertimu dilarang untuk membungkukkan tubuhnya di hadapan orang lain," ucap Gritav yang dengan sedikit kuat mencengkeram kedua pundakku, aku sedikit mengarahkan pandangan ke arahnya yang telah melirik tajam ke arah Adofo.
"Gritav, aku pun, memohon bantuanmu," ucapku dengan sedikit menundukkan kepala di hadapannya.
"Hime-sama," ucapnya yang pelan terdengar.
__ADS_1
Aku, akan melakukan apapun untuk memenangkan perang ini. Kalian semua, harus tunduk dengan semua perintah yang akan aku perintahkan nanti. Karena itu, takluklah padaku.
"Gritav, kau maupun Adofo, kehadiran kalian benar-benar sangat membantuku nantinya. Seperti yang kalian tahu, aku lemah dan juga mudah terluka. Tapi, aku juga ingin membantu kalian semua di baris depan. Kakakku mungkin sangat mengkhawatirkanku, karena itu ... Mereka meminta kalian untuk menjagaku. Aku benar-benar berterima kasih," ucapku mengangkat kedua tangan menggenggam pergelangan tangan kiri Gritav yang masih memegang pundakku.
Gritav lama menatapku sebelum dia menghela napas panjang, diangkatnya telapak tangan kanannya yang sebelumnya juga menyentuh pundakku itu memijat keningnya. "Hime-sama," ucapnya kembali menghela napas dengan kedua tangannya bersilang di dada.
"Tanpa melakukannya, mereka semua akan menuruti semua perintahmu termasuk aku. Mereka semua telah mengakui, bagaimana engkau memimpin mereka tanpa rasa takut hingga Kerajaan Tao dapat jatuh dengan mudahnya di bawah rencana yang kau lakukan..."
"Lihatlah, lihatlah ke sekitar," ucap Gritav dengan mengangkat sebelah tangannya bergerak menunjuk ke arah sekitar. "Mereka berbondong-bondong berkerja sama untuk memenangkan peperangan ini. Mereka bersemangat dengan harapan, semua rencana yang kau lakukan akan berhasil seperti sebelumnya."
"Asalkan kau tetap hidup Hime-sama, walaupun nanti kita berada di ambang kekalahan, harapan tersebut akan selalu ada. Dan sudah menjadi tugas kami, untuk menjaga harapan tersebut," ucap Gritav kembali, kurasakan tepukan pelan di kepalaku yang dilakukan olehnya.
"Sepertinya, semua yang Luana katakan benar adanya. Calon adik ipar perempuanku, merupakan anak perempuan yang sangat naif. Dia merasa sangat kesulitan di atas penderitaan orang lain, walaupun kepintaran yang ia punya seringkali menghilangkan sedikit sifat naif miliknya, tapi itu bukan berarti ... Dia dapat menghilangkan semua sifatnya itu dengan sangat mudah."
"Jadi Luana, memintaku untuk menjaga dan membantumu jika suatu saat aku berada di pertempuran yang sama denganmu. Luana maupun Sasithorn, sudah seperti Putriku sendiri. Aku, mengikuti Kakakmu ... Bukan karena bantuan yang ia tawarkan."
"Aku, mengikutinya ... Karena aku merasa takjub kepada kalian yang saling mendukung satu sama lain. Apa kau tahu, kata-kata pertama yang diucapkan Kakakmu Haruki ketika pertama kali kami bertemu?" Ungkap Gritav kembali, aku menggeleng pelan membalas perkataannya.
"Jika aku tidak salah mengingat, saat itu usianya baru menginjak sembilan tahun, dan dia mengatakan ... Aku membutuhkan bantuanmu Paman, untuk menjaga keluargaku dari balik bayangan."
"Dan asal kau tahu Putri, saat kalian mengunjungi desa Kuma untuk membantu mereka mengolah jeruk dua belas tahun yang lalu. Bukankah aneh, jika perjalanan kalian saat itu terasa mulus begitu saja?"
__ADS_1
"Hal itu, karena aku dan beberapa penjahat yang dibebaskan diam-diam oleh Kakakmu, mengikuti perjalanan kalian secara sembunyi-sembunyi. Aku tidak bisa menghitung, berapa banyak pembunuh bayaran yang kami bunuh saat itu. Aku, telah menjagamu sejak kau masih digendong oleh Pengawal pribadimu, Putri. Dan aku, akan tetap menjagamu hingga kalian semua ... Berhasil mencapai semua kemenangan," ucap Gritav tersenyum menatapku, ikut kurasakan tepukan-tepukan pelan yang ia lakukan di kepalaku.