
"Berpeganglah yang kuat Sa-chan." Ucap Haruki seraya menggerakkan tali kekang yang melekat di tangannya
Kuda tersebut kembali melaju, kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Kugenggam erat rompi bulu berwarna abu-abu yang dikenakannya...
Kubenamkan wajahku di baju zirahnya yang berwarna hitam, dinginnya udara yang mengalir di baju zirah menusuk-nusuk wajahku.
Langkah kuda terhenti, kuangkat kepalaku yang kusandarkan di dadanya sebelumnya. Turun Haruki dari atas kuda, diraih dan digendongnya tubuhku.
Seorang Kesatria berjalan mendekati kami, diraihnya tali kekang kuda yang kami tunggangi tadi. Berjalan Haruki meninggalkan Kesatria tadi menuju tenda tempat kami beristirahat.
"Pastikan tidak ada yang boleh mendekat kesini, kalian mengerti?" tukas Haruki seraya menatap ke arah dua orang Kesatria yang membukakan tirai tenda untuk kami.
"Laksanakan, Yang Mulia." ungkap mereka berdua serempak
Masuk Haruki ke dalam tenda. Berbeda dari tenda sebelumnya, di tenda ini terdapat sebuah ranjang kayu yang memang di khususkan untuk beristirahat.
Melangkah Haruki mendekati ranjang kayu tersebut, diturunkannya tubuhku disana seraya berjongkok ia duduk di hadapanku.
"Apa yang kau katakan tadi itu benar, Sa-chan?" tukas Haruki yang kubalas dengan anggukan kepala
"Tapi sebelum itu, bisakah kau memberikan aku dan Lux selimut? Tubuh kami berdua hampir membeku, nii-chan." ucapku menatapnya, bibirku bergetar menahan dingin
"Aahh maaf, tunggu sebentar." Ucapnya seraya berdiri dan berbalik berjalan menuju tumpukan kain yang ada di sudut tenda
Berjalan kembali ia menuju ke arahku, sehelai selimut tebal berwarna biru digenggamnya. Dibuka lipatan selimut tadi seraya diletakkannya hingga menutupi seluruh tubuhku.
"Aku benar-benar hampir membeku tadi." Tukas Lux di sampingku
"Kau baik-baik saja, Lux?" ucap Haruki seraya menadahkan telapak tangannya ke pundakku
"Aku baik-baik saja."
Diarahkannya kembali telapak tangannya ke pundaknya, berjalan Lux seraya duduk di pundak Haruki. Mereka berdua menatapku tanpa bersuara, sesekali Haruki melirik ke arah lenganku yang kusembunyikan di balik mantel.
"Apa yang kalian bertiga lakukan?" tirai tenda tiba-tiba terbuka dari luar
Menoleh kami secara bersamaan ke arah sumber suara, tampak Izumi berdiri di depan tirai seraya menatap tajam ke arah kami.
"Kalian pasti menyembunyikan sesuatu bukan? Apa itu?" ucapnya lagi seraya berjalan mendekati kami, duduk ia disampingku.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa ada disini, Izumi?" tukas Haruki menatapnya
"Aku mengatakan pada Ayah, kalau aku sakit perut. Jadinya tidak bisa ikut berburu." Ucapnya seraya mengalihkan pandangan
"Kalian bersikap aneh, karena itu aku mengikuti kalian berdua. Apa itu? Apa yang kau sembunyikan, Tupai?" ucapnya lagi seraya menatapku
Ku singkirkan mantel yang menutupi lenganku, Naga putih kecil tadi tampak tertidur pulas. Seluruh tubuhnya masih terlihat basah dipenuhi air, ekornya yang panjang meruncing tampak melengkung menutupi tubuhnya. Sayapnya yang putih tipis dengan gurat-gurat kemerahan menutupi tubuhnya layaknya selimut...
"Seekor Naga, aku mendapatkannya." Tukasku seraya meletakkan Naga kecil tadi ke pangkuanku
"Bagaimana?" ucap Haruki tertahan
"Kau yakin ini Naga? bukan Tikus yang mempunyai sayap?" ungkap Izumi seraya menatapnya dari dekat
"Kau bodoh!" Ucap Haruki kembali dengan setengah berteriak, dipukulnya kepala Izumi menggunakan tangan kanannya
"Ini sakit sekali, apa kau berniat membuat kepalaku cedera?" tukas Izumi seraya mengalihkan pandangannya ke arah Haruki
"Otakmu memang sudah cedera."
"(menghela nafas) Bagaimana bisa kalian mempunyai saudara sepertinya?" lanjut Lux menimpali perkataan Haruki
"Ka..."
"Sa-chan, bisakah aku menggendongnya?" ucap Haruki seraya menatap Naga kecil yang ada di pangkuanku
"Tentu."
Di arahkannya kedua telapak tangannya semakin mendekati Naga tadi. Naga kecil yang awalnya tertidur nyenyak, entah kenapa tiba-tiba terbangun. Berdiri ia menatap Haruki, sayapnya terbuka lebar, matanya yang sebelumnya berwarna hitam tiba-tiba berubah warna menjadi merah.
"Kau lihat, bahkan ia pun tahu yang mana yang baik dan mana yang tidak." Ucap Izumi seraya mengarahkan telapak tangannya ke arah Naga tadi
Digigitnya telapak tangan Izumi, darah menetes pelan keluar dari sela-sela mulutnya yang dipenuhi taring tajam. Izumi diam membisu, begitupun dengan Haruki dan juga Lux.
"Lepaskan, lepaskan gigitanmu darinya. Dia Kakakku." ucapku seraya menatap tajam ke arahnya
Dilepaskannya gigitan di telapak tangan Izumi, tampak terlihat lubang-lubang kecil berjejer rapi dengan darah yang mengalir darinya. Naga kecil tadi berbalik menatapku, matanya yang berwarna merah kembali menghitam...
Berbalik ia seraya berjalan menjauh, tubuh kecilnya jatuh tepat di sebelah kakiku. Melangkah ia mendekati kakiku yang terluka sebelumnya seraya dibukanya mulutnya yang penuh dengan taring tadi...
__ADS_1
Sebuah udara dingin berhembus menembus kulitku, luka memar yang aku dapatkan entah kenapa berangsur-angsur pulih. Kembali ia menatap ke arahku, kuraih dan kugendong tubuh kecilnya tadi ke pelukanku.
"Izumi, tanganmu..." tukas Haruki seraya meraih tangan Izumi yang dipenuhi darah dan diarahkannya ke hadapan Naga kecil tadi
"Apa yang kau lakukan?" ucap Izumi
"Melakukan percobaan..."
"Sa-chan, coba kau perintahkan ia untuk menyembuhkan luka Izumi." lanjut Haruki seraya menatapku
"Bisakah kau menyembuhkan luka Kakakku?" ucapku menatapnya seraya kuraih tangan Izumi ke hadapannya
Ditatapnya luka yang ia buat di tangan Izumi, berbalik ia seraya direbahkan kepalanya di dadaku. Kutatap Haruki yang balik menatapku, ku gelengkan kepalaku seakan memberikan isyarat kalau hal itu mustahil untuk dilakukan.
"Tentu saja dia tidak akan melakukannya. Kalian bodoh sekali..." tukas Lux yang tiba-tiba bersuara
"Naga hanya memikirkan seseorang yang ia anggap pantas sebagai Domino suo, selebihnya jangan harap. Dia akan ikut mati ketika Dominus yang di cintai nya mati, dia akan mengamuk dan menghancurkan apapun jika setetes darah dari Dominus terjatuh ke tanah..."
"Begitulah yang sering diceritakan oleh Ibuku dulu." sambung Lux kembali menatapku
"Tapi aku tidak pernah mendengar adanya Naga yang dapat menyembuhkan Dominus, kecuali..."
"Kecuali apa?" tanya Haruki
"Dominus itu memiliki sihir yang mengimbangi nya." lanjut Lux menatapku
"Sihir? Tapi aku sama sekali tidak bisa sihir." Ungkapku balik menatapnya
"Karena itulah, akupun merasa aneh." Ucap Lux tertunduk
"Dan apa itu Dominus?" tukas Izumi
"Seperti seorang Tuan." sambung Lux seraya mengarahkan pandangannya ke arah Izumi
"Apa kau telah memikirkan nama untuknya?" ucap Lux balik menatapku
"Nama?"
"Dia juga makhluk hidup kau tahu." lanjut Lux seraya menyilangkan lengannya ke dada
__ADS_1
"Kau benar, beri aku waktu sebentar..."
"Aku akan memberimu nama Kou. Kou yang berarti kebahagiaan, cahaya, kedamaian. Aku berharap, kau dapat membantuku meraih itu semua." Tukasku seraya menatap dan membelai lembut kepalanya dengan ujung jariku.