
"Apa yang kau lakukan?" ucapku menatap Zeki yang tengah duduk dengan sebuah pisau kecil dan beberapa batang kayu panjang disampingnya.
"Membuatkanmu anak panah," ungkapnya tanpa menoleh, fokus ia mengasah pisau kecil yang ada di tangannya ke satu persatu batang kayu tersebut.
"Membuatkanku?" ucapku seraya merangkak mendekatinya.
"Anak panahmu telah habis bukan? jadi aku membuatkannya untukmu, aku tidak ingin kau langsung terjun ke pertempuran seperti tadi."
"Apa kau merasa lebih baik sekarang?" sambungnya, sesekali meniupkan udara di kayu yang sedang di asah tersebut.
"Maaf," ucapku menatapnya.
"Kau sudah melakukan yang terbaik selama ini, dan apa yang dikatakan kedua kakakmu juga benar adanya."
"Apa kau lihat kedua bintang yang ada disana?" ucapku seraya menunjuk ke arah dua bintang yang ada di langit.
"Mereka disebut Altair dan Vega, Hikoboshi dan Orihime-sama."
"Bukankah mereka sama seperti bintang yang lainnya?"
"Kedua bintang tersebut mempunyai kisahnya tersendiri..."
"Orihime-sama seorang Putri dari Dewa Bintang, ia selalu menenun pakaian untuk Ayahnya. Karena sang Putri selalu menenun dan menenun, ayahnya pun khawatir akan keadaannya..."
"Untuk mengobati rasa khawatirnya, Dewa Bintang mencarikan teman untuk Putrinya. Bertemulah ia dengan Hikoboshi, pengembala sapi yang ulet dan juga rajin..."
"Semenjak dipertemukan Dewa, mereka saling jatuh cinta, mereka semakin sering menghabiskan waktu bersama. Pekerjaan merekapun akhirnya terbengkalai, Putri tidak lagi menenun pakaian untuk Ayahnya sedangkan Hikoboshi lupa mengurus sapi-sapinya..."
"Dewapun murka dan memutuskan untuk memisahkan mereka dengan sebuah sungai Amanogawa yang membatasi, mereka hanya diizinkan bertemu satu kali dalam setahun... yakni pada bulan ketujuh di hari ketujuh di bulan itu..."
"Jika cuaca sedang bersahabat saat itu mereka akan bertemu, akan tetapi jika tidak... sungai tersebut akan meluap dan mereka tidak akan bertemu. Karena itu, tepat sehari sebelum waktu mereka untuk bertemu..."
"Mereka berdoa kepada Dewa untuk tidak hujan supaya mereka dapat bertemu. Katakan Zeki, jika saat ini kau memiliki kesempatan untuk berdoa... Apa yang ingin kau inginkan?" ucapku lagi, kuangkat kepalaku lagi seraya ikut mengangkat telapak tangan menutupi pandangan.
"Bagaimana denganmu?"
"Entahlah, keinginanku terlalu banyak. Bahkan Dewa atau Deux pun mungkin akan bosan mendengarkannya," ucapku tersenyum menatapnya.
__ADS_1
"Dan akupun seperti itu," ucapnya balas menatapku.
_______________
Digenggamnya telapak tanganku oleh Haruki dengan Izumi yang juga ikut berjalan di belakangku. Menoleh aku ke sebelah kiri, tanaman-tanaman merambat terlihat memeluk pohon demi pohon, sungguh sebuah parasit yang menyusahkan.
Kembali kutatap Haruki yang berjalan di depanku, sinar kelelahan tampak terlukis jelas di raut wajahnya. Angin musim panas yang menyentuh tubuhku, terasa hangat dan sedikit memilukan untuk dirasa.
Berhenti kami semua, sebuah jurang yang hitam nan gelap terhampar di hadapan kami. Maju Izumi beberapa langkah seraya melihat apa yang ada di dalamnya...
"Apa yang kau lihat Izumi?" ucap Adinata berjongkok di sampingnya.
"Ular, ratusan... tidak, mungkin ribuan. Dan juga... tumpukan tengkorak manusia," sambung Izumi menjelaskan apa yang dilihatnya.
"Bagaimana denganmu Danur?" ungkap Haruki mengalihkan pandangannya kepada Danur.
"A-aku me-merasakan se-sesuatu me-mendekat ke a-arah ki-kita da-dari be-belakang."
"Apa yang akan kita lakukan?" ucap Zeki ikut berjongkok.
"Kita juga tidak bisa menyeberang, kalaupun kembali... kita akan berhadapan dengan makhluk yang tidak kita ketahui," ucap Haruki membalas perkataan Zeki.
"Jebakan?" balas Adinata beranjak berdiri.
"Dengan jebakan kita bisa menyerang musuh sekaligus bersembunyi bukan?" sambungku kembali seraya menatapi mereka.
"Hime-sama, kau memang yang terbaik," ucap Izumi berjalan mendekat lalu menepuk pelan kepalaku.
"Hime-sama?" ucap Adinata.
"Panggilan kesayangan dari para Kesatria di Kerajaan kami untuknya," jawab Haruki, berbalik ia seraya tersenyum menatapku.
_________________
Duduk aku disamping Julissa, dengan Luana dan juga Sasithorn disebelah kami. Kedua kakakku melarangku untuk membantu mereka, jadi hanya para laki-laki saja yang berkerja.
Beranjak aku berjalan mendekati Haruki, Adinata dan juga Danurdara yang tengah menggali sebuah lubang untuk jebakan. Duduk aku berjongkok menatapi mereka dari atas lubang yang mereka gali...
__ADS_1
"Apa kau yakin nii-chan menggali sedalam ini?" ucapku, kuangkat telapak tanganku menopang dagu menatap mereka.
"Apa maksudmu, Hime-sama?" ucap Adinata mengikuti panggilan yang sering dilontarkan Izumi padaku.
"Jebakan sedalam ini mungkin akan berhasil pada manusia atau hewan-hewan yang biasa kita temui, tapi..." ungkapku lagi, menoleh mereka bertiga kepadaku.
"Hal itu akan sulit berhasil jika musuhnya sendiri seorang raksasa yang dilihat Izu nii-chan sebelumnya."
"Apa maksudmu Sa-chan?"
"Coba nii-chan atau kalian berdua bayangkan..." sambungku menatap mereka dari atas bergantian.
"Jika seorang raksasa yang punya tinggi badan beberapa kali lipat jatuh kedalam jebakan sedalam ini dan ketika dia sadar akan jatuh, dengan cepat ia merentangkan tangannya di kedua sisi lubang. Apa kalian pikir, dia akan dengan mudahnya jatuh hingga ke dasar lubang jebakan?" ucapku kembali menatapi mereka, menoleh mereka menghindari tatapanku.
"Jadi maksudmu kita hanya harus menggali lubang yang tidak terlalu dalam?" ucap Haruki, mengangguk aku seraya menatapnya.
"Semakin dangkal lubang, semakin cepat juga ia akan jatuh ke dasarnya."
"Kami telah mendapatkan yang kalian inginkan," terdengar suara Izumi, menoleh aku ke arahnya. Tampak terlihat Izumi, Zeki, dan Arion berjalan mendekati kami dengan beberapa batang bambu yang mereka bawa.
"Batang bambu, darimana kalian mendapatkannya? dan untuk apa?" ucapku menatapi mereka bertiga, diletakkannya bambu-bambu tersebut oleh mereka bertiga disampingku.
"Kami mencarinya disebelah sana, dan tentu saja untuk jebakan," ucap Zeki menatapku dengan wajah penuh keringat.
"Tapi..."
"Bambu akan berhasil jika musuhnya seorang manusia atau hewan lainnya. Tapi, akan sulit jika yang kita hadapi seorang raksasa, benar bukan Hime-sama?" ucap Adinata menatapku, mengangguk aku membalas tatapannya.
"Bambu sering dibuat untuk jebakan," balas Zeki.
"Tapi bambu mudah patah terlebih lagi jika beban yang menimpanya terlalu berat," ucapku kembali menatapnya.
"Jadi, apa yang harus kami lakukan Hime-sama?" tanya Izumi ikut menatapku.
"kita akan membuat jebakan dengan lubang yang tak terlalu dalam, dan tentu saja... kita akan menggunakan itu," ungkapku seraya menunjuk pada bungkusan dibawah pohon yang berisi pisau milik para kurcaci yang kami kumpulkan kemarin.
"Apa kau yakin Hime-sama?" lanjut Haruki tersenyum menatapku.
__ADS_1
"Jebakan berfungsi untuk menjebak, target terbunuh itu hanyalah sebuah bonus. Menyerang titik vital musuh seperti kaki akan membuatnya susah meloloskan diri... Dan jika telah seperti itu, kita hanya perlu..."
"Me-menghabisinya," tukas Danurdara, mengangguk seraya tersenyum aku membalas tatapannya.