
Duduk aku di salah satu tong kayu sembari kualihkan pandanganku pada Kou yang masih lahap memakan tubuh makhluk tadi. Suara dentingan besi yang terpukul berulang-ulang mengetuk telingaku.
"Kalian lambat sekali!" Teriak Aydin, menoleh aku menatapnya yang tengah berdiri di samping sisi kanan kapal dengan kedua tangan disilangkannya di dada.
"Tapi benda ini tebal sekali Tuan," ucap seorang laki-laki membalas perkataan Aydin.
"Sa-chan, bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja nii-chan," ucapku menoleh ke arahnya, kutatap ia yang berjalan mendekat dengan sehelai kain tebal berwarna gelap di tangannya.
"Benarkah?" lanjutnya, berdiri ia dihadapanku seraya membentang kain tadi membungkus tubuhku.
"Maaf, kau hampir celaka karena kebodohanku," sambungnya, berlutut ia menggenggam tanganku seraya disandarkannya kepalanya di lututku.
"Aku ditangkap makhluk tadi memang diluar rencana kita, tapi membiarkan Kou untuk tetap di dunia manusia bukanlah ide yang buruk. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri," ucapku seraya kuangkat telapak tanganku yang lain mengusap pelan rambutnya.
"Jadi, apa kau telah memutuskan kemana kita akan pergi selanjutnya?"
"Aku telah memutuskannya," ucapnya pelan, diangkatnya kepalanya menatapku. Kuarahkan kembali telapak tanganku mengusap matanya yang memerah.
"Apa kau merindukan temanmu?" ucapnya lagi padaku.
"Maksudnya Julissa?"
"Bukan, tapi temanmu yang lain," ungkapnya kembali seraya tersenyum menatapku.
"Haruki!" teriak Izumi, menoleh aku mengikuti Haruki yang terlebih dahulu menoleh ke arahnya.
"Ada apa?!" jawabnya dengan setengah berteriak.
"Kemarilah! Ada hal penting yang ingin aku tunjukkan pada kalian berdua," ucapnya lagi, kualihkan pandanganku pada salah satu potongan tentakel makhluk tadi yang ia genggam di tangannya.
__ADS_1
Beranjak dan berbalik berjalan Haruki mendekati Izumi, ikut kulangkahkan kakiku mengikuti langkahnya. Digenggamnya tanganku oleh Haruki berjalan di atas lempengan es yang dibuat Kou sebelumnya.
Kualihkan pandanganku ke para awak kapal yang masih berusaha menghancurkan es yang menempel di sisi-sisi kapal. Kembali kutatap Kou yang juga ikut berjalan mendekati kami...
"Lihatlah, ini lambang Kekaisaran bukan?" ucap Izumi, menoleh aku ke arah tentakel yang dilemparkannya di hadapan kami.
"Kau ingin mengatakan jika Kaisar yang mengirimkannya?" sambung Haruki, berjongkok ia seraya ditatapnya bekas luka bakar berbentuk ular berkepala dua yang kepalanya saling membelakangi satu sama lain...
"Ada apa?" terdengar suara Aydin, menoleh aku ke arahnya yang tengah berjalan ke arah kami dengan Emre dan juga Erol di belakangnya.
"Kau bisa memeriksanya sendiri," ungkap Haruki beranjak berdiri seraya kembali berjalan dan berdiri di sampingku.
"Apa yang harus aku periksa?" ungkapnya seraya berjongkok di hadapan tentakel tadi.
"Apa kau tidak melihatnya? Simbol Kekaisaran yang ada di atasnya?" ucap Haruki, kualihkan pandanganku kembali pada Aydin yang menatap tentakel tadi dengan bola matanya yang sedikit membesar seraya diletakkannya telapak tangannya di atas simbol yang dimaksudkan Haruki.
"Jadi maksud kalian, Kaisar sialan itu sendiri yang mengirimkan makhluk ini pada kami?" ucap Aydin, kutatap Haruki yang mengangguk membalas perkataannya.
"Saat banyak Pangeran dan juga Putri mati tiba-tiba?"
"Kau benar, Kaisar sendiri yang membunuh mereka. Bisa dikatakan bahwa kamipun hampir menjadi santapan untuk makhluk-makhluk aneh miliknya. Kaisar menghindari adanya pemberontakan yang akan terjadi padanya di masa depan..."
"Dan kupikir, cara yang sama dilakukannya pada kalian," sambung Haruki kembali.
"Kaisar memiliki banyak sekali makhluk-makhluk aneh seperti ini. Aku tidak menyangka jika dia dalang dibalik Monster ini," ucapku ikut menimpali perkataan Haruki.
"Apa yang kalian bicarakan My Lord?"
"Makhluk ini, Kaisar yang mengirimkannya kepada mereka."
"Maafkan aku, My Lord."
__ADS_1
"Untuk apa kau meminta maaf Kou?"
"Karena sihirku yang ada di dalam tubuhmu, kau jadi diserang oleh ikan tadi," ungkapnya seraya kuarahkan telapak tanganku membelai punggungnya.
"Sihirmu yang telah berkali-kali menyelamatkanku, jangan meminta maaf untuk itu Kou. Kemarilah, aku akan membantumu membersihkan tubuh," ucapku, berbalik aku seraya melangkah menjauh diikuti Kou dari belakang.
"Kau ingin kemana Sachi?!"
"Membantu Kou membersihkan tubuhnya," ucapku tanpa menoleh ke arah Izumi.
Kembali aku melangkahkan kaki mendekati ujung es yang dibuat Kou. Kualihkan pandanganku padanya yang telah masuk ke dalam air, kutatap air yang mengelilinginya sedikit membeku karenanya...
"Naiklah My Lord," ucapnya menatapku.
Kulepaskan kain tebal yang membalut tubuhku sebelumnya seraya melangkah aku menaiki punggung Kou dan duduk di atasnya. Kou menggerakkan tubuhnya berenang semakin ke tengah laut...
"Tahan napasmu My Lord," ucapnya lagi sembari tertegun aku sejenak mendengarnya.
Kou memasukkan kepalanya ke dalam air, kutarik napasku dalam-dalam mengikuti tubuhku yang juga semakin masuk ke dalam air. Kulingkarkan lenganku di lehernya, tubuhku mengambang di dalam lautan bersamanya...
Entahlah, apa ini karena kami telah melakukan kontrak jadi aku tidak terlalu berpengaruh pada suhu tubuhnya...
Kuarahkan sebelah telapak tanganku menyentuh kepingan es yang membeku di dalam air. Terumbu karang yang menghampar di dalamnya semakin memanjakan mataku menatap sekitar...
Kualihkan pandanganku pada ratusan ikan kecil beraneka warna yang mencoba berlari menjauh. Kutatap seekor belut yang menggeliat berenang seraya bersembunyi menjauhi kami...
Bergerak Kou ke permukaan, kuhirup kembali udara sebanyak mungkin yang bisa aku dapatkan. Seluruh pakaian yang aku kenakan basah karenanya, kuangkat sebelah telapak tanganku menyisir rambutku yang juga ikut basah terkena air...
Kutatap sinar mentari yang kian meredup di hadapan kami, kupeluk kembali leher Kou seraya kutatap matahari terbenam yang ada di hadapan kami... Perpaduan warna jingga bercampur biru semakin memperindah pemandangan yang ada di hadapan kami.
"Apa aku telah membuatmu bangga, Ibu? perkataan Kou membuatku tertegun, semakin kuat pelukanku di lehernya.
__ADS_1
"Kau selalu membuatku bangga Putraku, aku benar-benar bersyukur membesarkanmu, Kou," ungkapku menjawab perkataannya seraya berkali-kali kucium leher Naga putih kesayanganku itu.