
Aku berjalan mengikuti Haruki yang membawa tas milikku di pundaknya, dia menghentikan langkahnya, menoleh ke sekitar sebelum membuka pintu kamar yang sebelumnya ia tiduri bersama yang lain. Haruki membuka pintu tersebut, lebih tepatnya, mengangkat pintu yang telah terlepas dari engselnya itu lalu menggesernya sedikit ke samping agar kami berdua dapat melaluinya.
Kedua kakiku terhenti saat pandangan mataku tertuju ke arah Tsutomu yang membentangkan sebuah kain gelap di lantai. Tangan Tsutomu bergerak, mengangkat satu per satu bagian tubuh laki-laki botak yang kami tangkap sebelumnya. Pertama Tsutomu meletakkan ujung jari kaki hingga dengkul laki-laki itu, lalu Tsutomu meraih sepotong telapak tangan ke dekat potongan kaki tadi, begitu seterusnya hingga terakhir dia meletakkan potongan kepala yang wajahnya sudah tak berbentuk oleh luka menganga.
Aku berbalik ke samping, menatap Eneas dan juga Ryuzaki yang telah berjalan masuk dengan beberapa tas di pundak mereka. “Di mana Izumi?” tanya Haruki yang membuatku menoleh ke arahnya.
Haruki memberikan tas milikku pada Tsubaru yang berdiri di hadapannya, “Pangeran, sedang membersihkan tubuhnya,” jawab Tsubaru sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang sudah tak berpintu lagi.
__________________.
Aku masih tak percaya akan apa yang terjadi sebelumnya, terlebih bagaimana tenangnya para wakil kapten melaksanakan perintah Haruki. Sebelum pergi, mereka benar-benar merapikan tempat itu hingga tak bisa ditemukan setetes bercak darah pun di sana … Bahkan, Tsutomu dan juga Tatsuya, membawa potongan tubuh penjahat-penjahat itu ke kamar mandi untuk mereka basuh sebelum mereka simpan di bungkusan-bungkusan kain yang ada di belakang kuda mereka sekarang.
Langkah kaki kuda kami berhenti ketika Kesatria yang berjaga di perbatasan melangkah maju dengan tombak di masing-masing tangan mereka. “Sebelum pergi, kami harus mengecek semua barang yang kalian bawa,” begitulah kata-kata yang diucapkan salah satu dari mereka kepada Tatsuya.
Tatsuya melirik ke arah belakang, tepatnya ke arah Yuki yang berkuda sedikit di depanku. Yuki membawa kudanya maju mendekati Kesatria-kesatria itu, “dia tidak membawa apa pun, periksa saja aku,” kata Yuki kepada Kesatria yang berdiri di dekat kuda milik Tatsuya.
“Kau akan mendapatkan giliranmu,” jawab Kesatria itu sambil meraih tas secara paksa di tangannya Tatsuya.
Kuda yang ditunggangi Yuki bergerak semakin mendekati Kesatria itu, entah apa yang terjadi … Tangan Yuki bergerak cepat menepuk salah satu bagian tubuh dari laki-laki itu. Laki-laki itu menghardiknya ketika Yuki mengatakan jika dia hanya ingin menepuk lalat yang ada di tubuhnya. Entah apa yang lagi-lagi terjadi, tak lama ketika laki-laki itu meraih tas milik Tatsuya, dia langsung roboh ke depan, tubuhnya sedikit bersandar di kuda yang Tatsuya tunggangi.
__ADS_1
Rekan-rekannya yang berdiri di sekitar gerbang, berjalan maju mendekatinya. Salah satu di antara mereka ada yang memapah tubuh laki-laki itu, sedangkan yang lain mengangkat tombak yang ada di tangan mereka ke arah kami diikuti nada mengancam yang juga ikut keluar dari mereka. Tak lama, Kesatria yang ambruk tadi mulai terlihat aneh, dia mulai tertawa-tawa kencang dengan sendirinya … Dia bahkan berlari meninggalkan temannya mendekati gerbang lalu mengetuk gerbang tersebut dengan telapak tangannya berulang-ulang.
Apa dia terkena halusinasi?
Apa Yuki, ahli racun sama seperti Eneas? Karena itulah, Ayah memintanya untuk menjaga Eneas?
Aku melirik ke arah Eneas saat Yuki melompat turun dari atas kudanya. “Putri, tutupi mulut dan hidungmu menggunakan ini,” aku melirik ke kiri ketika Tsubaru telah berkuda di sampingku sambil mengarahkan sapu tangan bermotif bunga kepadaku.
Aku meraih sapu tangan itu lalu menempelkannya di bibir berserta hidungku. Pandangan mataku kembali beralih kepada mereka semua yang telah menutup hidung sama seperti yang Eneas lakukan, Yuki berjalan maju … Dia terus maju dan terus maju sambil merogoh ke dalam tas kecil yang ia bawa. Yuki menggenggam potongan kain kecil di tangannya, dia melemparkan potongan kain tadi ke wajah Kesatria musuh yang berlari mendekatinya.
“Potongan kain itu berisi bubuk dari jamur beracun, sekali kau menghirupnya … Kau akan bertingkah bodoh seperti Kesatria sebelumnya. Jadi pastikan untuk jangan menghirupnya, Sachi,” aku sedikit melirik ke sudut mata ketika bisikan Lux tiba-tiba menyentuh telinga.
“Mereka akan membunuh diri mereka sendiri tanpa perlu kita mengotori tangan, atau mungkin mereka akan saling membunuh … Itu racun yang baru kami buat, saat kami mengetesnya kepada para penyusup … Mereka yang awalnya tertawa seperti Kesatria itu, lambat laun akan menjerit histeris, seakan mereka bertemu dengan sesuatu yang mereka takuti, mereka berusaha melepaskan diri namun karena gagal … Mereka berakhir dengan membunuh diri mereka sendiri. Racun yang sangat menakjubkan, bukan?”
“Bagaimana kalian dapat membuatnya?” Aku kembali berbisik dengan menggenggam erat tali kekang yang aku pegang.
“Yuki bisa diandalkan, dia pernah berkeliling dunia … Dia paham banyak sekali racun dari banyaknya racun yang berasal dari seluk-beluk Kerajaan lain. Dengan pengetahuannya, dan kemampuan kami berdua … Apa yang tidak bisa kami buat,” sambung Lux dengan balas berbisik.
_______________.
__ADS_1
Aku menarik napas dalam dengan kembali menggenggam tali kekang kuda milikku. Sesekali aku melirik ke arah deretan pohon yang ada di sekitar kami. Para wakil kapten membuka gerbang ketika semua Kesatria musuh berada di bawah halusinasi dari racun yang Yuki berikan.
Saat Izumi ikut bertanya, kenapa tidak langsung membunuh mereka semua saja? Tatsuya menjawabnya, jika racun tersebut memiliki waktu seharian untuk bisa bereaksi secara sempurna. Bisa dikatakan, itu racun yang sempurna, jika kau ingin mencuci tanganmu dari kejahatan yang kau perbuat.
Kutarik tali kekang kuda milikku saat yang lain juga telah menghentikan kuda mereka. Kami berhenti bukan tanpa sebab … Segerombolan singa menghadang jalan kami. Tubuhku tertegun ketika Tatsuya melemparkan bungkusan berisi potongan tubuh penjahat yang sebelumnya kami bunuh ke arah gerombolan singa itu.
“Sachi,” bisik Lux yang pelan terdengar.
“Aku tahu, aku pun sedang merasakan di mana tepatnya dia,” aku balas berbisik sambil menggerakkan kuda milikku ke dekat Ryuzaki.
“Ryu, kau merasakannya, bukan?”
Ryuzaki melirik ke arahku, “apa kau menginginkanku menangkapnya?” Ryuzaki balik bertanya dengan masih menatapku.
Aku mengangguk pelan sebelum Ryuzaki memejamkan matanya, “tunggulah sebentar lagi. Aku, sedang menyebarkan akar berduriku ke seluruh hutan. Mereka bukan hanya satu, jadi membutuhkan waktu untuk mencari di mana mereka lebih tepatnya,” jawab Ryuzaki dengan tetap memejamkan matanya.
“Apa kau memerlukan bantuan?”
“Kau tidak bisa mengendalikan tumbuhan, jadi serahkan semuanya kepadaku.”
__ADS_1
“Tapi aku bisa merasakan mereka semua dengan sangat jelas. Kou bisa merasakan sihir sekecil apa pun, hanya … Ikuti arahan yang aku berikan,” sambungku kembali dengan menatap gerombolan singa yang tengah melahap lima bungkusan kain berisi potongan tubuh di depan mereka.