
"Apa kau tahu dimana desa yang dimaksudkan Ayah itu, nii-chan?" ucapku seraya kuarahkan kuda yang aku tunggangi berjalan di belakang Haruki.
"Desa Balian, aku pun baru pertama kali mendengarnya," ucap Haruki tanpa menoleh ke arahku.
"Tapi Ayah menyuruh kita ke Utara, jika kita menuju ke Utara, kita pasti akan menemukannya," sambung Haruki kembali.
"Tapi ini sudah sepuluh hari, dan sebanyak apapun desa yang kita datangi. Tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui desa itu," ucap Izumi menimpali perkataan Haruki.
"Tapi mau bagaimana, ini salah satu syarat dari Ayah agar kita diberikan izin olehnya untuk melanjutkan perjalanan," ungkap Haruki kembali, digerakkannya kepalanya menatap Izumi yang juga telah menunggangi kudanya di sampingku.
"Kita akan membuang-buang banyak sekali waktu jika pergi tanpa arah tujuan yang jelas seperti ini," sambung Izumi, kuarahkan pandanganku menatapnya yang telah mengarahkan pandangannya ke arah Haruki.
"Nii-chan, nee-chan... Di sana ada asap hitam mengepul, kenapa kita tidak mencoba ke sana," terdengar suara Eneas, kugerakkan kepalaku menatapnya yang telah duduk menunggangi kudanya di hadapan kami, tampak sebelah tangannya menunjuk ke sebuah kepulan asap hitam yang membumbung jauh di udara.
Terdengar suara derap langkah kaki kuda, kualihkan pandanganku pada Haruki yang telah menunggangi kuda miliknya dengan kecepatan tinggi meninggalkan kami. Kugerakkan tanganku menggerakkan tali kekang yang ada di genggaman, kuda yang aku tunggangi melaju cepat menyusul Kakakku itu.
Kutarik tali kekang yang masih kugenggam erat, kuda yang aku tunggangi terangkat kedua kakinya ke depan beberapa saat. Kualihkan pandanganku pada Haruki yang juga telah menghentikan kuda yang ia tunggangi, pandangan mataku terjatuh pada seorang Kakek-kakek tua yang berdiri membungkuk di hadapan kuda yang Haruki tunggangi dengan tumpukan ranting pohon di atas punggungnya.
"Apa kau baik-baik saja Kakek?" terdengar suara Izumi, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah menggerakkan kudanya berjalan melewatiku.
"Aku baik-baik saja," ucap Kakek tua tadi dengan suara yang terdengar tergopoh-gopoh.
__ADS_1
"Aku akan membantumu," ucap Izumi, masih kutatap dia yang telah turun dari kudanya.
Kutatap Izumi yang berjalan semakin mendekati Kakek tua tadi, tampak terlihat kedua tangannya telah meraih tumpukan ranting yang terikat menjadi satu di punggung Kakek tua itu...
Izumi mengarahkan sebelah tangannya yang lain memapah Kakek tua itu, berjalan mereka berdua mendekati kuda milik Izumi. Kutatap Kakek tua tadi yang bersusah-payah menggerakkan tubuhnya menaiki kuda milik Izumi seraya sebelah tangannya menggenggam lengan Izumi yang menjadi tumpuannya...
Izumi meletakkan tumpukan kayu bakar tadi di hadapan Kakek tua tadi yang telah duduk di atas kuda miliknya, berbalik Izumi seraya tertunduk ia meraih tali kekang kuda yang menjuntai ke tanah... Izumi melangkahkan kakinya dengan menarik pelan tali kekang yang telah ia genggam.
"Kakek, apa Kakek tahu tentang desa Balian?" ucap Izumi membuka pembicaraan, kualihkan pandanganku menatapnya yang telah menggerakkan kepalanya menatapi si Kakek.
"Apa yang ingin kalian lakukan di sana?" ungkap si Kakek menanggapi perkataan Izumi.
"Apa kalian bermaksud ingin merusak desa yang memang telah rusak tersebut?" ucap si Kakek, tampak terdengar nada suaranya yang telah sedikit berubah dari sebelumnya.
"Desa? Rusak? Kami sungguh-sungguh tidak mengerti," ucap Haruki, kutatap dia yang tampak terlihat menyiratkan kebingungan di wajahnya.
"Sepertinya kalian memang tidak tahu apa-apa..." ucap si Kakek lagi, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya yang terlihat mengembuskan kuat napasnya.
"Desa yang kalian cari, adalah desa tempatku sendiri. Desa tersebut berada tersembunyi di balik hutan curam yang ada di balik kepulan asap tersebut..."
"Kepulan asap..."
__ADS_1
"Itu bukanlah kepulan asap yang berasal dari rumah penduduk, itu kepulan asap yang berasal dari gunung yang ada di desa kami," ucap si Kakek memotong perkataan Haruki sebelumnya.
"Lalu kenapa Kakek membawa kayu bakar jika Kakek sendiri tinggal di hutan?" kali ini suara Izumi terdengar, kembali kuarahkan pandanganku menatapnya yang tengah menatap si Kakek di atas kuda miliknya.
"Aku membutuhkan uang untuk membeli keperluan lainnya, dan ketiga cucuku juga ingin memakan makanan yang belum pernah mereka makan di desa kami," ucap si Kakek dengan kepala tertunduk, kualihkan pandanganku menatapnya yang seakan menatap kosong ke depan.
"Jadi, karena itulah Kakek membawa kayu bakar sebanyak ini. Kami mempunyai banyak makanan, dan juga sedikit uang. Jika Kakek membawa kami mengunjungi desa Kakek, maka kami akan memberikan semua itu padamu," ucap Haruki, kutatap dia yang menggerakkan pandangnya menatap si Kakek yang masih tertunduk.
"Ketua suku pasti akan membunuhku jika aku membawa seorang asing masuk ke desa kami, terlebih empat... Apa kalian ingin berniat membunuhku berserta ketiga cucuku?" ungkap si Kakek, kembali kualihkan pandanganku menatapnya yang telah menggerakkan kepalanya balas menatap Haruki.
"Kami tidak akan membiarkan apapun terjadi padamu, kami berjanji," ucap Haruki kembali padanya.
"Apa kau pikir aku akan percaya?" ungkapnya membalas perkataan yang Haruki lontarkan padanya.
"Kakakku yang berjalan di sampingmu menolongmu bukan, Kakek?" ucapku, kutatap dia yang telah menggerakkan kepalanya balas menatapku.
"Apa maksudmu?"
"Kakakku berbuat baik padamu..." ungkapku, ikut kuhentikan langkah kaki kudaku mengikuti mereka yang juga telah menghentikan langkah kaki kuda mereka.
"Apa Kakek pikir, Kakakku yang telah menolongmu akan berniat jahat kepadamu dan keluargamu? Karena itulah Kakek, bawa kami semua mengunjungi desa mu," sambungku tersenyum menatapnya.
__ADS_1