
Apa aku tertinggal sesuatu?
Kenapa? Hari ini terlihat banyak sekali Kesatria yang berkeliaran.
“Bagaimana dengan tombak? Apa kau telah memeriksa semuanya?!”
“Cepatlah! Kita tidak memiliki banyak waktu sebelum Pangeran dan Putri pulang.”
Suara para Kesatria tak berhenti mengusik telingaku. Beberapa dari mereka ada yang mendorong gerobak penuh akan anak panah, sedangkan beberapa yang lain- “Anielia, apa yang kau lakukan di sini?!”
Aku berbalik, menatap kak Luana yang berjalan mendekat dengan menggandeng tangan Hikaru di sampingnya, “kakak, apa yang terjadi?” tanyaku bingung menatapnya.
“Ikut aku!” perintahnya diikuti sebelah tangannya yang lain menggenggam lenganku, “Kaisar menyerang Sora secara tiba-tiba dengan banyak sekali pasukan. Akan terjadi perang besar, kita diperintahkan Ayah untuk berlindung,” ucapnya melangkah sambil menarik tanganku.
“Tapi-”
“Kau tidak tahu betapa mengerikannya Kaisar. Kau tidak tahu, makhluk-makhluk berbahaya yang berada di bawah perintahnya. Saat semua berperang, pikiran mereka akan lebih tenang jika kita telah terlindungi,” ungkapnya berbalik sembari menatap tajam ke arahku.
“Ibu, dingin,” pandangan mataku dan matanya beralih ke arah Hikaru yang berbicara gemetar dengan memeluk pinggang Luana.
“Itu pasti Sachi. Cepatlah, mereka semua pasti telah pulang,” sambung Luana kembali, semakin kuat genggaman tangannya yang menarikku itu.
Dia terus berjalan menarikku tanpa sedikit pun menoleh ke belakang, semakin lama kami berjalan … Semakin basah pula tangannya oleh keringat. “Tsutomu! Persiapkan baju zirahku!” suara teriakan Izumi menghentikan langkah kaki kami di hadapan mereka.
Tubuhku mematung ketika mataku terjatuh ke arah makhluk besar bersayap yang berdiri di dekat mereka. Seluruh tubuh makhluk itu berwarna putih, hanya matanya yang merah menyala saja yang sedari tadi bergerak memutari sekitar. “Tatsuya, apa kau telah menyiapkannya?”
“Telah dipersiapkan semuanya, Yang Mulia,” jawab laki-laki bernama Tatsuya yang melangkahkan kakinya di belakang Haruki.
__ADS_1
Pandangan mataku beralih, ke rerumputan yang telah membeku di dekat kaki makhluk tersebut. Ketika aku mengangkat pandangan kembali ke atas, mulutnya itu tak henti-hentinya mengeluarkan asap putih. “Satoru, kau telah menyiapkan semua yang aku perlukan?”
Aku segera menoleh lalu membungkukkan tubuh ketika suara Ayah mengetuk telinga. Laki-laki paruh baya yang berdiri di belakang Ayah itu membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya dia berjalan meninggalkan Ayah. Aku kembali berbalik, menatap Ibu yang tengah berjalan mendekati kami dengan Sasithorn dan juga Miyu di belakangnya.
Pandangan mataku teralihkan ke arah Izumi dan Haruki yang berjalan dengan dua laki-laki di belakang mereka. Baju zirah yang mereka kenakan, tampak silau ketika sinar matahari jatuh di atas permukaan baju zirah mereka. Langkah mereka berempat terhenti, baik Haruki dan juga Izumi berdiri dengan menundukkan kepalanya di depan Ayah.
“Ayah!”
“Hikaru, jangan seperti itu,” ucap Luana, dia berjongkok, berusaha menghalangi Hikaru yang hendak berlari.
“Ayah, pasti akan pulang, bukan?!” Dia menundukkan wajahnya, mengangkat sebelah tangannya mengusap mata sebelum mengangkat wajahnya itu kembali, “berjanjilah, Ayah akan pulang.”
Haruki berjalan mendekat lalu duduk berjongkok di hadapan mereka dengan mengangkat kedua tangannya, “berapa usiamu sekarang, Hikaru?” tanyanya sambil menggenggam tangan Hikaru.
“Tu-tujuh.”
“Karena Kakek yang biasanya menjaga kami ikutan pergi, jadi sudah menjadi tugasku untuk melindungi mereka. Aku mengerti, Ayah tidak perlu khawatir.”
“Apa yang tengah kalian bicarakan?”
Aku terhenyak saat pandangan mataku terjatuh ke arah Sachi yang berdiri dengan laki-laki bernama Tsubaru di belakangnya. Baju zirah berwarna hitam yang ia kenakan, terlihat melekat kuat hingga memperlihatkan lekuk pinggangnya yang selalu bersembunyi di pakaian longgar yang acap kali ia kenakan.
“Dia menangis-”
“Aku tidak menangis,” timpal suara Hikaru kepada Izumi.
“Jadi seperti itu,” ucap Sachi sambil berjalan mendekat, “Hikaru, apa kau masih mengingat kata-kata rahasia yang bibi ajarkan kepadamu?”
__ADS_1
Hikaru menganggukkan kepalanya yang dibalas suatu kata-kata yang tak aku mengerti, keluar dari bibir Sachi. Aku terhenyak, saat sebuah lingkaran es terbentuk … Aku lebih terkejut, ketika banyak sekali hewan yang tak pernah aku lihat sebelumnya keluar dari lingkaran tersebut. “Mereka para Manticore yang Bibi miliki. Mereka, akan membantumu menjaga Istana. Mereka hanya akan mendengarkan perintah darimu, Hikaru … Perintahkan mereka menggunakan kata-kata yang Bibi ajarkan, lalu bantu kami untuk melindungi Istana. Keponakan Bibi yang gagah ini pasti dapat melakukannya, bukan?” tukas Sachi sambil mengusap beberapa kali kepala Hikaru.
"Ayah akan segera pulang. Ayah menitipkan mereka semua kepadamu," ucap Haruki mencium pipi Putranya itu, "Miyu," sambungnya mengangkat sebelah tangan hingga Miyu berjalan menyambut tangannya tersebut.
"Kau paham apa yang harus dilakukan, bukan?" tukasnya yang telah berdiri di depan Miyu, Miyu menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, "Ayah mengandalkanmu, Putriku," ungkapnya lagi sembari membungkuk lalu mencium kening Miyu yang tertunduk.
"Luana."
"Aku, akan menjaga mereka semua dengan baik. Jangan mengkhawatirkan kami, hanya kembalilah pulang," timpal Luana yang dibalas anggukan kepala dari Haruki.
"Kak, jaga mereka," Luana menganggukkan kepalanya saat Sachi menghentikan kata-katanya.
Mereka berdua kembali berjalan mendekati Ibu, bersama dengan Izumi, Ryuzaki dan tentu saja dia. “Berjanjilah kalian kepada Ibu untuk kembali pulang. Jika tangan atau kaki kalian terpotong, berjanjilah untuk tetap pulang. Apa kalian mendengar apa yang Ibu, katakan?”
“Kami mengerti, Ibu. Jangan khawatir, kami semua akan pulang,” timpal Haruki, dia memeluk Ibu diikuti dengan yang lainnya.
“Ryu!”
Ryuzaki memejamkan matanya saat Sachi memanggil namanya … Entah dari mana, pagar yang terbuat dari tanaman tiba-tiba tumbuh tinggi seperti dinding yang mengelilingi Istana. Eneas memalingkan wajahnya saat mata kami saling bertemu, dia melangkah menjauh mengikuti Ayah yang juga telah melangkah pergi.
Pandangan mataku kembali teralih ke arah Sachi yang bergerak mendekati hewan putih bersayap yang sebelumnya aku lihat. Dia bergerak menaiki hewan tersebut sebelum kepakan kuat dari hewan itu membawanya terbang tinggi menjauh.
“Menakjubkan,” gumamku pelan saat hewan putih itu semakin terbang cepat lalu menghilang ke balik dinding tanaman yang Ryuzaki buat.
“Kau benar, dia memang menakjubkan. Bahkan dia juga, yang dulu menyelamatkan kami dari jebakan Kaisar.”
Kepalaku menoleh menatap Luana yang tersenyum dengan kepalanya yang sedikit mendongak. “Luana,” Luana berbalik menatap Ibu yang memanggilnya.
__ADS_1
“Persiapkan semuanya, kita akan melakukan upacara untuk mendo’akan mereka,” sambung Ibu kembali yang dibalas anggukan kepala oleh Luana.