
Kembali kami berjalan ke arah terbangnya sekumpulan burung tadi. Kualihkan pandangan mataku ke sekitar, rimbunnya pepohonan memangkas jarak pandangku...
Suara gemericik air mengedor pendengaran, kualihkan pandanganku ke arah Izumi yang juga menghentikan langkahnya.
"Sungai," ucap Izumi pelan.
"Benarkah?" ungkap Luana yang berdiri tak jauh di belakangnya.
"Aku akan memeriksanya," sambung Izumi, langkah kakinya terhenti oleh pegangan Sasithorn di lengannya, menggelengkan kepala Sasithorn kepada Izumi seakan melarangnya untuk pergi.
"Aku saja yang memeriksanya," ucap Zeki yang berjalan melewatiku.
Berjalan ia menembus pepohonan yang ada di hadapan kami. Muncul kembali ia dari samping pepohonan, diliriknya kami seraya diangkat dan digerakkannya jari telunjuknya untuk mendekat.
Maju kami melangkah satu persatu mengikuti jejak langkah kakinya, mata kami disilaukan oleh kilapan sinar matahari yang jatuh di atas permukaan air sungai. Berjalan aku mengikuti langkah yang lain semakin mendekati sungai...
Duduk aku dipinggir sungai yang dangkal tersebut, batu-batu kecil yang berhamburan di dasar sungai semakin nampak jelas terlihat di airnya yang jernih. Kuletakkan serta kurapatkan telapak tanganku ke dalam air sungai yang mengalir tersebut, kuambil air tersebut menggunakan telapak tanganku seraya kubasuhkan ke seluruh wajahku...
Rasa lelah ditubuhku perlahan menghilang dengan mengalirnya bulir-bulir air yang jatuh dari wajahku. Kualihkan pandanganku pada yang lain, tampak mereka melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan...
"Apa disungai ini tidak ada ikannya sama sekali?" gumam Julissa pelan, diarahkannya tatapan matanya pada air sungai yang ada di hadapan kami.
"Apa kau lapar?" bisikku pelan padanya, mengangguk ia tanpa menoleh ke arahku.
Terdengar jeritan keras dari Luana, menoleh aku ke arahnya. Kutatap ia yang tampak pucat pasi ketakutan, beralih aku menatap apa yang ditatapnya...
__ADS_1
Aliran air sungai tersebut tiba-tiba berubah merah dan berbau sangat amis, sangking amisnya hingga mengaduk-aduk seluruh isi perutku. Warnanya semakin pekat beriringan dengan semakin derasnya aliran air sungai...
Potongan-potongan tubuh manusia hanyut dibawa aliran air, kutatap sepotong telapak tangan yang menyangkut di hadapan aku dan Julissa. Kugenggam telapak tangannya yang gemetar tak berhenti, sesekali terdengar suara sesenggukan ia menahan tangis...
Kualihkan pandanganku ke arah Danurdara yang mengeluarkan isi perutnya beberapa kali tanpa henti. Tubuhku lemas, kakiku tak dapat digerakkan...
Aku tidak mengenal mereka, aku tidak tahu itu potongan tubuh milik siapa...Tapi ini tetaplah menyakitkan untuk dilihat, Tuhan.
"Berdirilah," suara Zeki mengagetkanku, menoleh aku ke arahnya yang telah berdiri dibelakang. Diraihnya lenganku dan Julissa seraya dibantunya kami berdua berdiri.
"Kita harus segera pergi dari sini," tukas Adinata seraya memapah tubuh adiknya.
Melangkah kami menjauhi sungai tersebut, bersandar kami semua di pepohonan yang lumayan jauh dari sungai. Kuarahkan kepalaku ke atas untuk sekedar menenangkan pikiran...
"Apa kalian semua baik-baik saja?" ucap Haruki, kubalas perkataannya dengan anggukan kepala tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya.
Dengan cepat kuraih busur panah yang ada di punggungku, kuarahkan panah ke arah makhluk kerdil tersebut. Tersungkur ia ke samping dengan anak panah tertancap di bahu kirinya.
Beranjak aku berdiri seraya berlari ke arahnya dengan dua buah pedang di kedua tanganku, kuinjak dengan sebelah kaki tubuhnya yang kerdil tersebut hingga tak dapat bergerak.
"Apa yang ingin kau lakukan pada kakakku?" ucapku menggunakan bahasa Latin.
"Kau, kau bisa menggunakan bahasa kami," ucapnya berusaha beranjak, kutancapkan pedang di tangan kananku ke bahunya. Menjerit ia menahan sakit.
"Kau ingin mencelakakan kakakku, beraninya kau menyentuh kakakku."
__ADS_1
"Siapa kau?" teriaknya, kugeser pedangku yang masih tertancap di bahunya hingga mengiris sedikit demi sedikit tubuhnya. Kembali ia menjerit pilu kesakitan.
"Katakan, dimana inti sihir hutan ini disembunyikan?" ucapku lagi padanya.
"Hahaha kalian hanyalah sebuah makanan untuk tuan kami, manusia tidak berguna."
"Maksudmu Naga yang menguasai hutan ini? Bagaimana jika kau kubuang ke dataran salju tempat kekuasaan Naga yang aku punya?"
"Kau..."
"Apa kau pikir, Tuanmu satu-satunya Naga yang hidup di dunia ini?"
"My..." Dengan cepat kutarik pedang yang aku tancapkan di bahunya, kuarahkan kedua pedang yang ada di kedua tanganku mengapit lehenya yang kecil itu. Kupotong lehernya dengan kedua pedangku sebelum ia menyelesaikan teriakannya...
Darah mengucur keluar hingga menampar wajahku. Beranjak aku berdiri dari tubuhnya, kubalikkan tubuhnya yang telah terpisah dengan kepalanya itu menggunakan kakiku.
"Aku tidak peduli siapa yang ingin kalian bunuh, tapi menyentuh kakak yang berharga untukku. Aku tidak akan memaafkanmu," ucapku kembali menginjak kepala makhluk tadi.
Berjalan aku ke arah Izumi, kuletakkan kedua pedang yang aku genggam seraya kuarahkan telapak tanganku mendekati hidungnya. Ia masih bernafas... Berjalan kembali aku mendekati tempatku tertidur sebelumnya, kuraih tas cokelat yang aku bawa...
Kembali aku berjalan mendekati Izumi seraya mengobrak-abrik isi tas tersebut, duduk aku dihadapannya sembari mengeluarkan sebotol kecil ramuan yang sempat dipersiapkan Lux untukku.
"Lux mengatakan jika ramuan ini dapat menghancurkan obat bius apapun bukan?" ucapku, kubuka tutup pada botol kecil tersebut seraya kutumpahkan sedikit isinya di ujung jariku. Kuusapkan ramuan tersebut disekitar lubang hidung Izumi, kulakukan hal itu berulang kali hingga ia kembali tersadar sedikit demi sedikit...
"Sachi, apa yang terjadi padamu?" ucapnya yang tiba-tiba langsung terbangun dengan memegang kedua pipiku.
__ADS_1
"Syukurlah... syukurlah..."
"Aku pikir aku akan kehilanganmu, nii-chan," ucapku lagi seraya kubenamkan kepalaku di pundaknya.