
"Aku telah mengatakan pada Ande jika besok kita akan langsung meninggalkan Kekaisaran," ucap Haruki seraya merebahkan tubuhnya ke kursi.
"Kapan?"
"Saat kau sedang bersama Julissa, kami berdua menemuinya dan mengatakan jika Putri tengah terluka..."
"Lagipun, aku mendengar kabar jika Kaisar tidak akan memunculkan dirinya. Jadi untuk apa kita menghabiskan waktu disini," sambung Haruki kembali.
"Aku juga tidak terlalu peduli akan hal itu, akan tetapi lebih cepat kita pergi dari sini itu lebih baik," ucapku seraya membaringkan tubuhku di ranjang.
___________________
"Apa semuanya telah kau persiapkan?" ucap Haruki menatapku.
"Aku telah melipat semua pakaianku dan juga kalian, semuanya telah siap," sambungku membalas perkataannya.
"Bawa ini," ucap Izumi, dilemparkannya sebuah pisau kecil padaku.
Kuangkat gaunku seraya ku selipkan pisau tersebut di sepatu yang aku kenakan. Kuturunkan kembali gaunku sembari menghentakkan kakiku berulang kali untuk memastikan ia tidak akan terjatuh.
Terdengar suara ketukan dari luar, kembali Haruki mengizinkannya untuk masuk. Empat orang laki-laki tampak berbaris masuk ke kamar kami, berjalan mereka mendekati peti kayu yang memuat barang-barang kami lalu diangkatnya peti-peti kayu tersebut keluar oleh mereka.
Berjalan kami mengikuti langkah kaki mereka, terlihat dari jauh Zeki, Adinata, Danurdara, Julissa, Luana, Sasithorn, Alma, Alvaro dan juga Arion telah berdiri menunggu kami di depan gerbang.
Kuikuti langkah Haruki dan juga Izumi yang telah terlebih dahulu berjalan mendekati mereka, kutatap Haruki yang tengah berdiskusi bersama Adinata sedangkan Izumi sendiri tampak kembali berseteru bersama Zeki...
"Sa-sachi," ucap Danurdara, menoleh aku ke arahnya yang tertunduk.
"Te-terima ka-kasih, ka-karena ka-kau o-orang ke-ke du-dua ya-yang pe-percaya pa-padaku se-selain ka-kakakku," ucapnya lagi, ditutupnya kedua matanya menggunakan lengannya.
"Kau harus lebih percaya pada dirimu sendiri, dan baru kali ini aku mendapatkan rekan memanah yang menakjubkan," ucapku tersenyum padanya.
__ADS_1
"Ka-kaupun sa-sama me-menakjubkan," balasnya tersenyum menatapku.
"Sachi," rengek Julissa, dipeluknya kembali tubuhku dengan kuat.
"Tadi ia tersenyum padaku, dan itu manis sekali," bisik Julissa, semakin kuat pelukan yang ia lakukan.
"Kenapa kau tidak langsung mencoba berkomunikasi dengannya," ikutku yang juga berbisik di sampingnya.
"Aku akan mati mendadak jika melakukannya," sambungnya, ditatapnya aku dengan wajahnya yang memerah.
"Adinata, bisakah aku menitipkan temanku ini padamu?" ucapku menoleh padanya.
"Tentu, aku akan menjaganya," ungkap Adinata balas menatapku.
"Kau lihat itu bukan, aku telah membantumu," bisikku pelan pada Julissa yang berdiri di sampingku lalu tersenyum aku seraya menjawab perkataan Adinata tadi.
"Apa yang tengah kalian berdua bisikkan? dan kenapa kau menatapi Adinata terus-menerus. Apa kau tertarik padanya?" terdengar suara Zeki diikuti beban berat di kepalaku.
"Lalu?"
"Kemarilah! aku akan membisikkan sesuatu," ucapku lagi seraya kulambaikan telapak tangan kiriku ke belakang.
"Apa yang ingin kau bisikkan?" ucapnya mengarahkan kepalanya ke samping.
"Terlalu dekat, wajahmu terlalu dekat. Menjauhlah sedikit," tukasku, kuletakkan telapak tanganku ke wajahnya lalu coba kudorong menjauh.
"Apa kau telah bosan hidup? Jika benar, aku akan membunuhmu saat ini juga," ucap Izumi seraya melingkarkan lengannya di leher Zeki.
"Apakah ini caramu berterima kasih pada seseorang yang telah menyelamatkan nyawamu, wahai kakak ipar?" ucap Zeki yang juga mencengkeram kuat lengannya Izumi.
"Aku akan lebih berterima kasih jika kau menjauhi adikku saat ini juga," sambung Izumi kembali.
__ADS_1
"Menjauhlah Sa-chan," terdengar suara Haruki, maju aku beberapa langkah seraya menarik Julissa.
Terdengar suara jatuh yang keras dari arah belakangku, menoleh aku kebelakang. Kulihat Izumi dan juga Zeki yang telah jatuh di belakangku, kulirik Haruki yang menurunkan kakinya kembali...
"Apa kalian berdua telah mengabaikanku? Apa kalian berdua telah lupa, siapa yang paling tua diantara kalian? Jangan libatkan adik perempuanku dalam pertarungan konyol kalian berdua, apa kalian mengerti?!" bentak Haruki kepada mereka berdua.
"Cih," ucap mereka berdua bersamaan.
"Aku benar-benar akan merindukan kalian," sambung Adinata ikut berjalan mendekati kami.
Berjalan aku menjauh dari mereka yang tengah bercengkrama satu sama lain, kutatap para pelayan yang masih tampak sibuk memindahkan barang-barang kami...
Setangkai bunga Matahari muncul dari samping tubuhku, kubalikkan tubuhku mengikuti bunga Matahari tersebut. Menunduk Arion seraya mengarahkan bunga Matahari yang ia genggam itu padaku...
"Untukku?" mengangguk ia menjawab pertanyaanku.
"Terima kasih," ucapku lagi seraya meraih bunga yang ia berikan.
"Apa kau baik-baik saja? tubuhmu tidak ada yang terluka bukan?" ucapku lagi, kembali ia tertunduk seraya mengangguk pelan.
"Terima kasih, telah memilihku," ungkapnya kembali tertunduk, kulirik ia yang tidak henti-hentinya memainkan jari-jari tangannya.
"Akupun bersyukur karena tidak salah untuk memilihmu bergabung," ucapku seraya tersenyum ke arahnya.
"Kau memang menakjubkan seperti yang mereka ceritakan, Hime-sama," ucapnya balas tersenyum menatapku.
"Sachi! cepatlah!" teriak Izumi berkali-kali, kugerakkan kepalaku menoleh menatapnya.
"Tunggu sebentar!" balasku berteriak seraya menoleh kembali ke arah Arion.
"Apa kau mengenalku A..."
__ADS_1
"Rion," ucapku pelan. Kugerakkan kepalaku ke sebelah kanan dan juga kiri tubuhku, tapi tetap saja... Aku tak menemukannya.