
Kulangkahkan kakiku menyusuri lorong kastil, beberapa obor yang menggantung di sepanjang lorong tampak sedikit meredup di bandingkan sebelumnya. Mataku sedikit menyipit saat sinar mentari menjatuhi wajahku.
Langkah kakiku bergerak menjauhi pintu kastil, angin tipis yang berembus sedikit memberikan kesegaran di seluruh tubuhku. Kakiku semakin bergerak mendekati kolam yang terbentang di sudut dinding, susunan batu-batu kecil yang mengelilingi kolam seakan memberikanku isyarat untuk menghentikan langkah.
Lama kutatap air kolam yang sedikit keruh tersebut, airnya tampak tenang seakan tak memiliki kehidupan di dalamnya. Kugerakkan tubuhku duduk berjongkok di samping kolam tersebut seraya berkali-kali kugerakkan telapak tangan kananku berusaha meraih rambutku yang terjatuh lalu ku selipkan kembali ke samping telinga.
"Apa yang kau lakukan disini?" terdengar suara laki-laki, kugerakkan kepalaku berbalik menatap Niel yang telah berdiri di belakangku dengan seekor bangkai ayam yang terikat tali panjang.
"Mencari udara segar, kau sendiri? Untuk apa membawa bangkai ayam?" ungkapku sembari kugerakkan kembali kepalaku menatapi kolam.
"Memberi makan ikan peliharaanku," ungkapnya, tampak bayangannya telah berdiri terlihat di sudut mataku.
Pandangan mataku kembali terjatuh pada bangkai ayam yang melayang di tengah kolam dengan tali yang masih mengikat tubuhnya. Bangkai ayam tadi bergerak masuk dan keluar berulang-ulang dari dalam air kolam...
Air yang semula tenang tiba-tiba bergemericik, yang mulanya hanya menggoyangkan pelan permukaan air, lama kelamaan bergerak semakin tak beraturan. Pandangan mataku sedikit membesar tatkala warna merah memenuhi permukaan kolam, kualihkan pandanganku pada Niel yang masih mengarahkan pandangannya menatap lurus ke arah kolam.
Tali yang mengikat bangkai ayam tadi semakin bergerak ke atas, bulu-bulu dari bangkai ayam tadi ikut berhamburan memenuhi permukaan kolam. Kugerakkan tubuhku sedikit mundur dari kolam tatkala tubuh bangkai ayam yang terangkat tadi hanya bersisa tulang belulang.
"Hewan apa yang ada di dalamnya?" ungkapku beranjak berdiri menatap Niel.
"Ikan," balasnya singkat, bergerak ia berbalik berjalan menjauh dengan sebelah tangannya menggenggam tali yang masih mengikat tulang belulang ayam itu.
"Ikan? Maksudmu Piranha?" Ucapku ikut berbalik dan berjalan mengikuti langkah kakinya.
__ADS_1
"Piranha? Entahlah, aku mendapatkannya dari seorang kenalan," ungkapnya tetap berjalan tanpa sedikitpun menoleh.
"Aku melupakan sesuatu, tangkap!" sambungnya berbalik dengan menggerakkan sebelah tangannya yang lain.
Langkah kakiku terhenti tatkala pandangan mataku tertuju pada benda yang ia lemparkan. Kugerakkan kedua tanganku menangkap benda yang dilemparkannya tadi...
"Kunci?" ungkapku, masih kutatap puluhan anak kunci yang yang dihubungkan dengan sebuah gelang besi di telapak tanganku, kembali kugerakkan kepalaku menatap Niel yang juga ikut menatapku.
"Kunci penjara bawah tanah seperti permintaanmu sebelumnya," ungkapnya kembali berbalik dan berjalan.
"Kau yakin memberikannya padaku?" ungkapku, kuraih gelang besi tersebut dengan tangan kananku sembari kedua kakiku bergerak berjalan mengikuti langkah kakinya.
"Aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan di penjara bawah tanah, tapi apapun nanti yang kau lihat di sana. Abaikan, dan anggap kau tidak pernah melihatnya," ucapnya membalas perkataanku.
"Baiklah, laksanakan sesuai perintah," ungkapku seraya kugerakkan kepalaku menatapi langit.
"Katakan! Ada perlu apa kau menemuiku Tem?" ungkap Niel menoleh menatapnya.
"Kami telah menangkap dua laki-laki yang ciri-cirinya sama persis seperti yang perempuan itu katakan," ungkapnya seraya melirik ke arahku.
"Benarkah? Kalian menangkap mereka secepat ini?" ucapku melangkahkan kaki mendekati mereka.
"Kami mengikuti semua perintahmu, aku memerintahkan salah satu pasukanku untuk menjadi salah satu pembeli, dan kami menangkap mereka berdua saat jebakan tersebut di lakukan," ungkapnya berbicara padaku dengan nada yang terdengar sangat pelan.
__ADS_1
"Lalu dimanakah mereka?" ungkapku menghentikan langkah kaki di samping Niel.
"Di penjara yang ada di tengah kota," sambungnya menatapku.
"Jadi tunggu apalagi? Bawa aku ke sana secepatnya."
"Kedua Kakakmu telah pergi ke sana. Dia memerintahkan aku untuk melarangmu pergi ke penjara," ucapnya kembali padaku.
"Kedua Kakakku? Apa kau bercanda? Bawa aku ke sana! Aku tahu mereka mengkhawatirkanku, tapi aku juga turut andil dalam menyelesaikan masalah ini," ungkapku mengalihkan pandangan menatapi Niel.
"Dia akan pergi bersamaku ke penjara. Persiapkan kuda untuk kami berdua!" ucap Niel mengalihkan pandangannya menatapi Kesatria sekaligus pelayan pribadinya itu.
"Laksanakan, Yang Mulia," ungkap laki-laki paruh baya tadi sedikit membungkukkan tubuhnya dengan sebelah tangannya menyilang di dada.
Tem, atau laki-laki paruh baya tadi membalikkan tubuhnya, digerakkannya kakinya melangkah semakin menjauhi kami. Ikut kugerakkan kakiku berbalik mengikuti Niel yang juga telah berjalan semakin menjauh...
"Aku tidak menyangka, seseorang yang hampir membunuhku semalam malah membantuku hari ini," ucapku mengarahkan pandangan menatapi sandal hitam yang ia kenakan.
"Aku tidak melakukannya untukmu. Semuanya kulakukan untuk kesejahteraan wilayah yang aku pimpin," ungkapnya tanpa menoleh sedikitpun.
"Aku paham, dan aku mengerti. Hanya saja, terlalu mempercayai orang asing akan menghancurkan dirimu sendiri. Maksudku, bagaimana bisa seorang pemimpin memberikan stempel kekuasaannya pada seseorang yang hampir membunuh anaknya sendiri."
"Kehilangan kepercayaan, apa kau pernah mengalaminya?" ucapnya mengarahkan pandangannya menoleh menatapku.
__ADS_1
"Jika kau pernah memberikan kepercayaan pada seseorang yang kau anggap dapat dipercaya, lalu dia mengkhianatimu... Tidak ada salahnya bukan? Memberikan kepercayaan pada seseorang asing yang mungkin tidak akan mengkhianatimu..."
"Lagipun, seseorang yang takut melihat darah, tidak akan sanggup membunuh seseorang. Terima kasih, telah bersikap baik pada Putraku," ungkapnya tersenyum menatapku.