
Sano mengangkat sebelah tangannya, “ada apa?” Bisikku menghentikan langkah kaki.
“Ada dua orang Kesatria yang berjaga di depan perpustakaan. Tunggu di sini sejenak, Hime-sama … Aku akan membereskan semuanya,” ucapnya dengan menurunkan kembali tangannya lalu berjalan maju.
Aku maju dua langkah, memiringkan kepala berusaha melirik ke balik dinding. Kutatap Sano yang telah menarik pedangnya, dia berlari cepat mendekati kedua Kesatria tadi. “Kita hanya tinggal membawa bayi itu ke Altar,” aku melirik ke samping saat suara laki-laki terdengar di lorong istana.
Kugerakkan kepala, mencari tempat untuk bersembunyi. Lidahku berdecak seraya kedua kakiku bergerak cepat mendekati Sano yang masih bertarung dengan salah satu Kesatria yang tersisa, “Sano, cepatlah,” ucapku semakin mendekatinya.
Langkah kakiku terhenti saat percikan darah dari pedang yang ia ayunkan memercik ke wajahku. Aku mengangkat sebelah tanganku mengusap ujung mataku, aku kembali mengalihkan pandangan kepada Sano saat sebelumnya aku melirik ke arah ujung jariku yang telah berubah sedikit merah.
“Ada beberapa orang yang menuju ke sini,” ucapku berjalan maju lalu menarik lengannya yang masih menggerakkan pedang yang ia genggam menusuk-nusuk tubuh kesatria tadi.
“Kita hanya harus membunuh semuanya,”ucapnya dengan melirik ke arahku. “Apa kau gila?!” Aku melotot ke arahnya dengan masih menarik kuat lengannya tadi.
“Lagi pun, harusnya kau membunuh mereka tanpa ada darah yang keluar seperti ini. Kau bodoh sekali,” tukasku lagi dengan menarik tubuhnya berjalan menjauhi dua Kesatria yang telah terkapar itu.
Sano menghentikan langkah kakinya, “ada apa?” Tanyaku ikut melangkahkan kaki menoleh ke arahnya. “Perpustakaan, ada di sana Putri,” ucapnya dengan menunjuk ke arah pintu besar berdaun dua.
“Tempat yang akan mereka periksa pertama setelah melihat kedua mayat itu adalah perpustakaan. Apa kau tidak bisa berpikir?" Ungkapku dengan mencengkeram lengannya.
“Aku sudah katakan, akan menghabisi mereka. Jika perhatian mereka beralih padaku, tidak ada yang sadar jika kau ada di dalam perpustakaan, Putri,” ucapnya dengan melirik ke arahku.
“Kau sungguh-sungguh ingin melakukannya?” Tukasku dengan melepas genggaman di lengannya.
“Aku pemimpin dari sepuluh wakil kapten, mereka tidak ada apa-apanya untukku,” ucapnya dengan kembali berjalan lalu menginjak kepala salah satu Kesatria yang terkapar.
__ADS_1
Aku berjalan melewatinya, menghentikan langkah kaki lalu kembali berbalik menatapnya, “Sano, berhati-hatilah,” ucapku yang dibalas oleh anggukan kepala darinya.
Aku berlari mendekati pintu tadi lalu membukanya, sebelah tanganku terangkat menutup hidung saat aku telah masuk ke dalam. Bau pengap bercampur debu membuat hidungku beberapa kali bersin karena tergelitik, “apa ini benar perpustakaan?” Gumamku dengan berjalan pelan menyusuri tempat yang temaram, minim cahaya itu.
Aku sedikit mendongakkan kepala ke atas kanan, menatap seberkas sinar yang sedikit menyelinap masuk ke dalam ruangan. Telapak tanganku dengan sigap mencengkeram sesuatu yang hampir membuatku jatuh terjungkal ke depan, “ternyata kursi,” gumamku dengan pelan saat telapak tanganku meraba benda dengan permukaan penuh ukiran itu.
Di dalam ruangan ini, bahkan aku bisa mendengar suara napasku sendiri saking heningnya. Aku berjalan mengikuti seberkas sinar tadi, langkah kakiku terhenti saat kedua tanganku tak sengaja menyentuh permukaan kain yang ada di hadapanku itu.
Aku menggenggam kain tadi seraya kugerakkan ke kanan hingga seberkas sinar kecil tadi semakin besar, beriringan dengan kain gorden itu yang bergeser aku tarik. Aku berbalik, melangkahkan kaki saat aku rasa sinar matahari yang masuk telah cukup menerangi ruangan. “Mata hijau, mata hijau, mata hijau,” ucapku dengan mengangkat jari telunjuk menunjuk ke arah satu per satu buku saat aku berjalan menyusuri isi perpustakaan itu.
Aku menghentikan langkah kaki dengan mendongakkan kepala ke atas, “semuanya, semuanya hanya berisi buku yang tidak berguna,” ungkapku berjongkok dengan menyembunyikan kepala bersandar di kedua kaki.
“Ya Tuhan, aku tidak-”
Kuangkat sebelah tanganku menarik gagang pintu, “Sano, apa semuanya sudah selesai?” Tanyaku pelan saat aku telah membuka perlahan pintu itu.
Aku melangkah mendekatinya yang masih berdiri membelakangi, kedua kakiku sesekali bergerak menginjak barisan mayat Kesatria yang tergeletak tak tentu arah di dekatnya. Pandanganku terjatuh ke arah pedangnya yang masih terlihat darah menetes di ujungnya. Aku menghentikan langkah kaki saat dia menoleh ke arahku, “Putri, apa kau telah selesai?” Tanyanya yang aku balas dengan anggukan kepala.
Sano menggoyangkan pedangnya dalam sekali hentakan hingga sisa-sisa darah yang menempel memercik udara, dia mengangkat pedang tadi lalu memasukkannya kembali ke dalam sarung kayu yang ada di pinggangnya. “Kalau begitu, kita pulang,” ungkapnya dengan kembali melirik ke arahku.
“Aku tidak ingin pulang sekarang,” ucapku menatapnya.
Sano berbalik, melangkahkan kakinya mendekatiku, “aku sudah memperingatkanmu untuk jangan bersikap naif, Putri,” ungkapnya yang membuatku sedikit mendongakkan kepala menatapnya.
“Aku hanya bersikap seperti manusia, apa kau paham?” Jawabku dengan memperbesar kedua mataku menatapnya.
__ADS_1
“Bantu aku menyelamatkan bayi itu. Jika kau menolak, tidak masalah … Karena aku mempunyai banyak pasukan menakjubkan di belakangku yang dapat menghabisi mereka semua,” ucapku berjalan melewatinya.
“Apa tidak ada yang kau takuti di dunia ini, Putri?” Ucapannya membuat langkah kakiku terhenti.
Aku berbalik menatapnya, “banyak yang aku takuti di dunia ini. Tapi aku lebih takut, menyesali perbuataanku yang enggan menyelamatkan seseorang saat aku merasa bisa menyelamatkannya. Aku tidak perduli jika dikatakan naif atau apa pun … Karena memang kenyataannya, aku manusia yang naif,” ucapku kembali berbalik lalu melangkah pergi meninggalkannya.
“Kou,” ucapku pelan dengan kedua kakiku masih melangkah menyusuri istana.
“Ada apa My Lord? Apa kau membutuhkan bantuanku?” Tanyanya yang berkemelut di kepalaku.
“Apa kau merasakan sihir di sekitar sini?”
“Sihir hitam?”
“Apa kau merasakannya?” Tanyaku lagi padanya.
“Di bawahmu,” aku menoleh ke bawah saat suara Kou terdengar di kepalaku. “Di bawahku?” Aku balik bertanya padanya.
“Jika aku tidak melindungimu seperti sekarang ini, sihir itu mungkin sudah menelanmu hidup-hidup, My Lord.”
“Panggil aku, aku akan segera membawamu pergi dari sana saat itu juga,” ucap Kou lagi-lagi terdengar.
Aku menghela napas dengan sebelah tanganku mencengkeram kuat lengan pakaian yang aku kenakan, “aku tahu, jika ini berisiko. Akan tetapi,” gumamku pelan dengan mengangkat kepalaku kembali ke atas.
“Kou, datanglah! Bawa, para Manticore bersamamu, aku … membutuhkan kalian,” ucapku pelan sebelum kepalaku kembali tertunduk oleh hawa dingin yang tiba-tiba menyeruak.
__ADS_1