Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXXXIV


__ADS_3

Aku menunduk, menatapi ujung kakiku yang tiba-tiba telah basah oleh air yang mengalir. Bukan hanya menyentuh kakiku, air tersebut juga mengalir di kedua kaki Haruki, Izumi dan juga Aydin.


Sebuah bola dari air tiba-tiba terbentuk mengelilingi tubuh kami satu persatu, pandangan mataku bergerak ke belakang, semua orang juga ikut diselimuti oleh bola terbuat dari air itu.


Mataku kembali tertegun, sebuah bola air yang sangat besar terbentuk, bola itu bergerak dengan perlahan menyelimuti kapal milik Aydin. Aku baru tersadar saat kedua mataku kembali menatap Izumi yang telah menutup hidung dan mulutnya dengan sebelah telapak tangannya, berbeda denganku ... Mereka pasti kesulitan bernapas di dalam bola air tersebut.


Kedua mataku membesar tatkala sebuah bayangan hitam tiba-tiba terlihat di ujung mata. Kepalaku bergerak tanpa sadar, ombak tinggi yang sebelumnya terlihat jauh kini telah bergerak semakin mendekati. Ombak itu menghantam keras ke arah kami...


Tubuhku yang berada di dalam bola air tadi terombang-ambing oleh ombak besar yang tiba-tiba datang itu. Aku berbalik menatap Haruki yang menutupi mulutnya dengan sebelah tangannya di sampingku, rangkulan yang ia lakukan di pinggangku semakin kuat tatkala bola air yang menyelimuti tubuh kami semakin kuat terhempas ke samping.


Bola air yang menyelimuti tubuh kami tiba-tiba bergerak cepat ke atas, bola itu terbang membawa kami keluar dari dalam lautan. Aku melirik ke sekitar menatap mereka yang juga diperlakukan sama seperti kami berdua...


Kapal milik Aydin yang diselimuti bola air tadi perlahan turun ke permukaan laut, aku menyipitkan kedua mataku berusaha melihat Eneas yang tengah memeluk Cia dengan sebelah tangannya yang lain memegang kuat tonggak kapal.


Bola air yang menyelimuti kapal tersebut pecah, airnya memercik permukaan laut layaknya hujan deras yang turun dari langit. Aku menggerakkan telapak tanganku menggenggam erat pergelangan baju Haruki saat bola air yang menyelimuti tubuh kami bergerak cepat mendekati kapal diikuti bola-bola lainnya yang juga menyelimuti penghuni kapal.


Satu-persatu bola air yang menyelimuti tubuh kami pecah, suara benda terjatuh terdengar kuat beberapa kali saat beberapa laki-laki jatuh di atas lantai kapal ketika bola air yang mengurung tubuh mereka pecah di udara.


Bola air yang membawa tubuh kami bergerak turun menyentuh lantai kapal sebelum pecah seperti bola air yang lainnya. Haruki menahan tubuhku yang oleng ke samping menggunakan kedua tangannya, ikut pula terdengar suara batuk yang dikeluarkan oleh beberapa orang memenuhi udara di atas kapal.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Mataku," sambung Haruki kembali, ia melepaskan genggaman tangannya di pinggangku itu bergerak mengusap kedua matanya.


"Aku baik-baik saja nii-chan. Matamu sendiri bagaimana?" Tanyaku, aku berbalik menatapnya yang tertunduk dengan sebelah tangan masih menutupi matanya.


"Mataku hanya sedikit perih, tidak perlu khawatir," ungkapnya, kepalanya terangkat dengan kedua matanya yang merah beberapa kali berkedip ke arahku.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja?" Suara Zeki terdengar, dia berjalan ke arahku dengan sebelah tangannya mengusap matanya yang tertunduk.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?" Ucapku saat dia menghentikan langkah kakinya di depan kami.


"Mataku seperti terbakar," ucapnya, sebelah tangannya kembali bergerak mengusap kedua matanya.


"Zeki, bisakah kau menjaganya? Aku ingin memeriksa keadaan yang lain."


"Tentu, serahkan dia padaku," ucap Zeki membalas perkataan Haruki, sebelah tangannya yang mengusap kedua matanya tadi bergerak merangkul pinggangku, menggantikan lengan Haruki yang merangkulku sebelumnya.


"Coba aku lihat matamu," ucapku mengarahkan kedua telapak tanganku menyentuh pipinya.


Zeki membuka perlahan kedua matanya, lama kutatap kedua matanya yang memerah itu. Aku berjinjit menggerakkan wajahku mendekati matanya tadi, bibirku bergerak meniupkan udara di kedua matanya bergantian, "bagaimana? Apa masih perih?" Tanyaku sembari sebelah tangan bergerak mengusap pelan bawah matanya.


"Sepertinya ujung bibirku tadi sempat terbentur, apa kau dapat meniup-niupkan udara di sini," ucapnya mengarahkan jari telunjuknya menyentuh ujung kiri bibirnya.


Rangkulan yang ia lakukan di pinggangku terlepas, Zeki berbalik lalu berjongkok membelakangiku. Kugerakkan tubuhku mendekatinya dengan kedua tanganku bergerak melingkar di lehernya.


Zeki kembali beranjak berdiri, genggaman tangannya di kedua pahaku menguat sebelum ia melangkahkan kaki menggendongku ke samping kapal. Aku berteriak berulang-ulang memanggil nama Ebe, teriakan yang aku lakukan terhenti saat gelembung-gelembung air muncul di permukaan laut.


"Sachi, bagaimana? Apa kalian baik-baik saja?" Tanyanya saat wajahnya keluar muncul dari dalam air.


Aku menggerakkan wajahku bersandar di pundak Zeki, tatapan mataku masih menatap ke arah Ebe, "kami semua baik-baik saja. Sampaikan terima kasihku kepada Kakekmu," ucapku tersenyum ke arahnya.


"Akan aku sampaikan, tapi sebelum itu ... Dapatkah aku bertemu dengan Pangeran tampan itu?" Tanyanya yang sempat terhenti sejenak, ia kembali menenggelamkan wajahnya hingga setengah hidungnya tenggelam ke dalam air.


"Pangeran tampan?"

__ADS_1


"Kau tahu, dia yang memiliki mata seperti mutiara," ucapnya tanpa berpaling, kedua tangannya bergerak menjulur ke depan.


"Maksudmu, Kakakku Izumi?"


"Namanya Izumi?" Tanyanya dengan mendongak ke atas, kubalas tatapannya itu dengan anggukan kepala. "Namanya indah sekali, seperti orangnya," ucapnya kembali dengan kedua tangannya bergerak menyentuh pipinya.


"Apa yang terjadi padanya?" Bisik Zeki yang pelan terdengar, "apa dia kekurangan air sampai se..." ucapan Zeki terpotong, telapak tanganku semakin kuat menutup mulutnya itu.


Aku menggerakkan kepala ke arah kanan dan juga kiri bergantian, "Izu nii-chan, ada yang mencarimu!" Teriakku saat kedua mataku terjatuh pada Izumi yang tengah berbicara dengan Eneas dan juga Haruki.


Izumi berbalik, kedua kakinya bergerak mendekati, "ada apa?" Tanyanya saat dia semakin mendekat.


"Ebe mencarimu," ucapku mengarahkan jari telunjukku ke arah lautan.


Izumi berjalan mendekat ke samping kapal, kepalanya sedikit tertunduk, menatap Ebe yang terdiam saat Izumi menatapnya, "apa kau mencariku?" Tanya Izumi yang dibalas dengan anggukan cepat Ebe.


"Apa kau membutuhkan sesuatu?" Tanyanya lagi kepada Ebe.


"Aku, hanya ingin memberikan sesuatu," ucap Ebe, tampak terlihat sebuah gelang terbuat dari mutiara di tangannya yang mengarah kepada kami.


Izumi menatap Ebe, lama dia terdiam sebelum akhirnya menghela napas panjang, "maaf, aku tidak bisa menerimanya. Jika kau tertarik padaku, maka menyerahlah dari sekarang."


"Izumi."


"Izu nii-chan," ucapku dan Zeki bergantian saat Izumi berbalik, hendak melangkah pergi.


"Adikku yang cerewet juga pemarah, bisa menangis saat dia tahu tunangannya dijodohkan dengan perempuan lain. Menurutmu, apa yang akan dilakukan Sasithorn jika aku melakukan hal yang sama kepadanya?"

__ADS_1


"Lagipun, seharusnya kami telah menikah dua tahun yang lalu. Aku, tidak akan lari dari tanggung jawab untuk perempuan yang telah menghabiskan banyak sekali waktunya menungguku," sambungnya kembali lalu melangkah pergi.


__ADS_2