Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLXXX


__ADS_3

“Jadi, kita akan menginap di sini?” tanyaku sembari menatap ke sebuah bangunan yang tidak terlalu jauh dari tebing yang menjadi tempat pemakaman.


“Sekarang sudah hampir malam, untuk sampai ke Istana memerlukan waktu hampir setengah hari penuh. Para Kesatriaku juga terlihat sedikit kelelahan,” ucap Zeki, aku melirik ke arah belakang mengikutinya yang menatap ke arah para Kesatria yang berdiri di belakang kereta kami.


“Salah satu Kesatriaku telah memesan kamar untuk kita berdua,” ucap Zeki, dia beranjak lalu melangkah menuruni kereta, “mereka akan berjaga di sekeliling, jadi tidak akan ada yang terjadi kepada kita walau jauh dari Istana,” ucapnya mengangkat tangannya ke arahku.


Aku beranjak dengan meraih tangannya, kedua kakiku ikut bergerak turun saat dia menggenggam kuat tanganku itu. Kami berjalan mendekati seorang laki-laki paruh baya dan lima orang pemuda yang membungkukkan tubuh mereka di dekat pintu masuk bangunan tersebut, “ikuti hamba, Yang Mulia,” ucap laki-laki paruh baya tersebut sembari berbalik dengan pandangan matanya yang masih tertunduk.


Dia mengajak kami ke lantai dua bangunan tersebut, kakinya berhenti di sebuah pintu yang ada di sudut lorong ruangan tersebut. Laki-laki paruh baya itu membuka pintu yang ada di hadapan kami, aku ikut melenggang masuk ke dalam saat Zeki menarik tanganku untuk mengikutinya.


“Apa kau ingin membersihkan tubuhmu?” tanyanya ketika dia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arahku.


“Bisakah kita memesan dua kamar saja?”


Zeki berjalan lalu menghentikan langkahnya di depan jendela, “aku tidak ingin mengambil risiko. Kalau pun memang aku ingin melakukan sesuatu kepadamu, aku telah melakukannya sejak lama. Percayalah padaku, dan beristirahatlah,” ungkapnya sembari berbalik dengan berdiri menyandarkan dirinya di tembok menatapku.


________________.


Aku berjalan keluar dari kamar mandi, tubuhku yang basah ikut membuat pakaian yang aku kenakan ikut basah karenanya, “tidak ada handuk di dalam sana. Aku jadi tidak bisa mengeringkan rambutku,” gerutuku sambil melangkah mendekati kursi yang ada di dekat ranjang.


“Kau bisa membersihkan tubumu. Aku sudah selesai,” ucapku lagi sembari mengalihkan pandangan darinya.


Aku tertunduk dengan menutup wajahku menggunakan kedua telapak tangan saat terdengar suara pintu tertutup dari arah samping, “buang pikiran anehmu, buang pikiran mesummu,” gumamku lemah sambil mengetuk kepalaku sendiri menggunakan tangan yang aku kepalkan.


Aku berjalan mendekati ranjang sembari menyandarkan tubuhku duduk di kepala ranjang tersebut. Aku setengah melamun menatap ke depan, sesekali aku mengusap kedua mataku bergantian yang terasa sedikit perih. Pandangan mataku dengan cepat melirik ke kiri, aku segera menjatuhkan tubuhku berbaring menyamping ke kasur diikuti kedua mataku yang menutup saat suara pintu kamar mandi terdengar dibuka.

__ADS_1


“Apa kau telah tidur?”


Aku tetap memejamkan mataku, berusaha untuk tidak menanggapi perkataan yang Zeki lontarkan. “Setidaknya, keringkan dulu rambutmu sebelum tidur,” ungkapnya kembali terdengar diikuti sesuatu yang menyentuh keningku.


“Aku berharap kau bisa sedikit lebih lama tinggal bersamaku. Karena aku, baru mengetahui arti rumah setelah kau tinggal di sana,” bisiknya pelan sembari kurasakan kecupan lembut menyentuh pipiku.


_____________.


Aku membuka kedua mataku perlahan, embusan napas yang menyentuh leherku membuat tubuhku sedikit merinding karenanya, “kapan aku tertidur? Dan juga, astaga … Berapa kilo berat badan dia,” bisikku sembari berusaha melepaskan rangkulan yang ia lakukan.


Tunggu, dia semalaman tidur di sampingku? Dia tidak melakukan apa pun padaku bukan? Kata orang, jika melakukan itu untuk pertama kalinya akan sakit, bukan?


Aku melirik ke arah kakiku yang sengaja aku tempelkan kuat satu sama lain, kugerakkan kedua kakiku tadi bergantian, “aman,” bisikku kembali dengan menghela napas.


“Apa yang kau lakukan? Apanya yang aman?”


Zeki semakin mendekatkan wajahnya di pundakku, “saat sampai di Yadgar, aku tidak bisa tidur nyenyak. Hanya sebentar lagi, aku lelah sekali,” ucapnya pelan diikuti rangkulan yang ia lakukan semakin menguat.


______________


“Tidurku benar-benar nyenyak semalam,” gumamnya, aku melirik ke arahnya yang membuang pandangan ke samping kereta.


Aku kembali melemparkan pandangan ke depan, ke arah laki-laki yang menjadi kusir kereta kami, “syukurlah jika kau bisa tertidur dengan nyenyak,” ungkapku menoleh lalu tersenyum ke arahnya.


“Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?” tanyanya, keningnya mengerut menatapku diikuti telapak tangannya yang bergerak menyentuh dahiku.

__ADS_1


“Bagaimana aku bisa baik-baik saja. Kau membuat tubuhku tidak bisa bergerak semalaman,” bisikku kepadanya.


“Benarkah?” Dia balik bertanya dengan wajah seakan tak melakukan apa-apa.


“Kenapa kau tidak mencoba untuk menyingkirkan tubuhku saja? Mendorong, atau mungkin menerjangku menjauh,” ucapnya lagi dengan kembali mengarahkan wajahnya menatapku.


“Tubuhmu berukuran dua hingga tiga kali lipat dibandingkan tubuhku, bagaimana mungkin-”


“Bagaimana mungkin,” ucapnya memotong perkataanku.


“Sekarang kau paham bukan betapa berbahayanya itu,” sambung Zeki dengan menoleh ke arahku, “apa kau lupa akan rumor tentang matamu? Bagaimana jika seorang pria menyekapmu, menutup mulutmu hingga kau tidak bisa memanggil bantuan?”


Aku tertegun saat dia mengatakannya, “berulang kali aku akan selalu memperingatkanmu untuk berhati-hati pada laki-laki. Kau tidak akan tahu, apa yang mereka lakukan untuk mencapai semua tujuan mereka,” ungkap Zeki lagi kepadaku.


“Aku, benar-benar tidak bisa berhenti mengkhawatirkanmu,” tukasnya kembali dengan melemparkan pandangan matanya ke depan.


“Apa kau, juga tertarik akan legenda tersebut?” Kali ini aku bertanya kepadanya.


“Aku tidak mempercayainya, karena aku telah melihat secara langsung apa yang sebenarnya terjadi,” ungkapnya dengan menggaruki keningnya sendiri.


“Kau tidak akan lahir tanpa Ayah dan Ibumu. Jika yang dikatakan legenda itu benar, bukankah Ayahmu akan merasakan hasil langsung dari legenda tersebut. Maksudku, matamu sama seperti ibumu, bukan?”


“Aku tidak tahu sudah sejauh mana rumor itu tersebar. Tapi mereka yang mempercayai rumor tersebut tidak akan berhenti sebelum mereka mendapatkan seseorang yang memiliki mata hijau. Sebisa mungkin, aku menahan agar rumor tersebut tidak tersebar di wilayah kekuasaan Yadgar. Karena aku ingin, agar kau bisa nyaman di tempat yang sama dengan yang aku naungi.”


“Banyak yang berusaha melindungimu tanpa kau sadari, Sachi. Aku seringkali berkirim kabar kepada Haruki, dengan menanyakan ke mana kalian akan pergi selanjutnya … Setelah aku mengetahuinya, aku akan mencari informasi dari tempat yang akan kalian kunjungi, hampir semua informasi yang aku dapatkan, berasal dari temanmu, Julissa.”

__ADS_1


“Kalian pasti menanggung lelah sepanjang perjalanan, terlebih lagi kau yang tubuhnya seringkali tiba-tiba tidak bisa digerakkan jika terlalu lama memanggil Kou. Aku akui, aku memanglah salah menyembunyikan banyak sekali hal penting darimu. Tapi semuanya, aku lakukan hanya semata-mata tidak ingin membuatmu lelah memikirkan sesuatu yang seharusnya tak perlu kau pikirkan.”


__ADS_2