Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXCVIII


__ADS_3

“Aku tidak memiliki rencana apa pun. Aku bahkan tidak tahu harus melakukan apa,” ucap Haruki kembali berbalik lalu melangkah meninggalkan kami.


“Apa kita tidak beristirahat?” Izumi ikut melangkah di belakangnya, “kita akan beristirahat, jika sudah menemukan tempat istirahat yang aku rasa cocok,” ucapnya mengangkat telapak tangannya ke atas.


Aku melirik ke samping saat terdengar suara helaan napas yang Eneas keluarkan, “aku harap, aku segera dapat beristirahat,” ucapnya ikut melangkahkan kakinya mengikuti mereka berdua.


“Entahlah, tapi aku sangat setuju kepada Izumi kali ini,” kedua mataku melirik ke kiri saat terdengar Lux berbisik pelan, “bukankah selama ini kita selalu bertemu dengan banyak hal yang hampir membuat kita kehilangan nyawa,” aku balas berbisik dengan melangkah pelan mengikuti mereka.


“Kau benar, keberuntungan sekali … Kita semua masih bisa selamat sampai saat ini,” sambung Lux berbisik dengan sangat pelan.


______________________


“Ini sudah beberapa hari kita berjalan Nii-san, apakah tempat tujuan kita masih jauh?”


Haruki menghentikan langkah kakinya, dia menoleh ke arah Eneas yang berdiri di sampingku, “masih sangatlah jauh. Kita hanya sudah dekat dengan perbatasan Kerajaan lain, dan kita akan singgah di sana dalam beberapa hari untuk melakukan sesuatu,” ucapnya kembali berbalik membelakangi kami.


Haruki kembali melanjutkan langkahnya, aku menghela napas sebelum ikut melangkahkan kaki mengikuti mereka. Berkali-kali, aku menghentakkan kakiku bergantian ke tanah hanya untuk menghilangkan rasa lelah yang menyelimutinya.


“Apa kau yakin? Kita akan singgah terlebih dahulu di Kerajaan Il?” Haruki menghentikan langkah kakinya, dia menoleh ke arah Izumi yang telah berdiri di sampingnya, “mereka salah satu Kerajaan yang mendukung penuh Kekaisaran,” sambung Izumi lagi padanya.


“Aku tahu, karena itu … Kita harus menghancurkannya."


"Me-menghancurkan? Jangan katakan, kunjungan ziarah ke makam teman Ayah itu hanya omong kosong?"

__ADS_1


"Kita memang akan mengunjunginya. Tapi sebelum itu, kita akan melewati Kerajaan Il terlebih dahulu. Kenapa kita tidak melakukan dua hal dalam satu kali kerja, itu akan menghemat waktu kita," ungkap Haruki kembali melanjutkan langkah kakinya, “mereka bertetangga dengan kita, akan menyusahkan jika mereka mendukung penuh Kekaisaran saat kita ingin memberontak pada Kaisar,” lanjut Haruki kepada Izumi yang kembali berjalan mengikutinya.


“Kerajaan Il? Yang dimaksudkan itu, Kerajaan Yoona?” Haruki menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke belakang, “Aku ingin kau Sa-chan, membantuku untuk membuat rencana ini berhasil.”


Aku menghentikan langkah kaki dengan sedikit meneguk air ludahku sendiri, “aku?” Tanyaku pelan yang dibalas anggukan kepala Haruki kembali, “aku ingin, adikku mengeluarkan semua pesonanya. Agar Pangeran yang akan diangkat menjadi Raja Il selanjutnya tergoda.”


Izumi menghentikan kembali langkah kakinya, dia menatap Haruki dengan bibirnya yang sedikit terbuka, “apakah aku tidak salah mendengarkan apa yang kau katakan?” Tukas Izumi, Haruki menghentikan langkahnya lalu berbalik menatapnya, “apa aku kurang jelas mengatakannya?” Tukas Haruki beralih menatap kami bergantian.


“Kau ingin meminta Sachi untuk melakukan apa?”


Haruki menghela napas, “aku ingin meminta Sa-chan untuk menggoda calon Raja Il selanjutnya,” Izumi menggigit kuat bibirnya dengan mengenggam kuat kedua tangannya, “apa kau?!”


“Izumi, aku belum menyelesaikan perkataanku,” lirikan Haruki membuat Izumi terdiam, “aku mendapat informasi dari salah satu mata-mata yang aku tugaskan di sana. Dia mengatakan, jika penerus Raja Il selanjutnya tidak memiliki keturunan. Sesuai tradisi di sana, dia tidak akan diangkat menjadi Raja yang sah jika tidak memiliki anak.”


“Apa aku sebodoh itu sampai-sampai ingin memberikan adikku sendiri pada sembarang laki-laki,” Haruki kembali melirik tajam ke arah Izumi, lama dia melakukannya sebelum kembali menghela napas panjang, “dalam beberapa pekan, dia akan mengadakan sayembara pencarian Isteri setelah Isterinya yang lama berakhir dieksekusi olehnya sendiri. Sora masih belum terlalu stabil untuk melakukan perang terbuka, terlebih lagi … Simpanan kekayaan kita sedikit kebobolan tempo dulu. Karena itu...”


“Aku dijadikan umpan untuk membuka jalan kepada nii-chan, untuk melakukan penyerangan langsung kepada mereka,” Haruki tertunduk dengan sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya, “aku tidak akan membiarkannya menyentuhmu. Percayalah padaku,” ucapnya ketika dia mengangkat kembali wajahnya menatapku.


“Aku mengerti. Hanya pastikan, jika rencana ini berhasil … Semua perhiasan yang ada di dalam Istana mereka, sepenuhnya menjadi milikku,” ucapku yang dibalas senyuman oleh Haruki.


______________


Aku menghela napas dengan sedikit mendongakkan kepala saat pandangan mataku jatuh ke arah benteng raksasa yang mengelilingi suatu wilayah, “bagaimana caranya kita masuk ke sana tanpa diperiksa oleh para Kesatria yang berjaga?” Aku kembali menurunkan pandangan melirik ke arah Izumi yang bergumam pelan.

__ADS_1


“Kalian meragukan aku?” Pandangan mataku beralih kepada Haruki yang menimpali perkataan Izumi, “hanya tunggu saja. Aku telah memberikan kabar padanya,” sambung Haruki kembali berbicara.


“Padanya?” Haruki menganggukkan kepalanya membalas tatapan Izumi, “padanya,” ucap Haruki kembali dengan melirikkan matanya ke arahku.


______________


“Sachi, Eneas, bangunlah,” suara itu terus terdengar berulang-ulang, aku berusaha membuka kedua mataku saat suara ringkik kuda juga ikut terdengar.


“Apa mereka telah sampai?” Gumamku mengusap mata, sesekali mataku kembali terpejam diikuti mulutku yang tak henti-hentinya menguap, “Zeki telah sampai,” ucap Izumi yang membuat kedua mataku langsung terbuka.


Aku beranjak duduk, kutatap beratus-ratus Kesatria berkuda yang berbaris membelah pepohonan di hutan dengan sebuah kereta kuda berwarna cokelat dengan lapisan emas di kanan dan kiri kereta tersebut, “apa kau bercanda?!” Tubuhku sedikit terhentak saat suara bentakan Zeki kuat terdengar dari arah samping.


“Zeki! Haru-nii!” Aku beranjak dengan langsung melangkahkan kaki berlari mendekati mereka, “apa yang kalian berdua lakukan?!” Suaraku kembali meninggi, kuangkat kedua tanganku berusaha melerai mereka.


“Kakakmu, aku telah menuruti semua perintahnya. Dia memintaku untuk menahan serangan dan meneruskan kerja sama dengan Kerajaan yang dahulu berkerja sama dengan Ayahku dulu, aku melakukan apa yang ia perintahkan … Tapi sekarang,” ucap Zeki, dia mencengkeram kuat pakaian yang Haruki kenakan.


“Dia memintaku untuk mengantarkan pasanganku sendiri, agar dia menjadi salah satu calon isteri dari laki-laki yang tak aku kenal. Apa kau pikir aku akan menerimanya?” Tukas Zeki kembali dengan suara yang sedikit terdengar bergetar, semakin kuat cengkeraman tangannya tadi.


“Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Haru nii-chan?!” Aku menoleh ke arahnya yang masih diam tak bersuara, “aku meminta Zeki untuk menahan serangan, itu benar. Aku meminta Zeki untuk menjalin kerja sama dengan Kerajaan yang dahulu berkerja sama dengan Ayahnya, itu juga benar. Satu hal yang pasti, sebelum Sachi menyandang nama Bechir, dia bukan milikmu, dia tetap adikku, Takaoka Sachi,” ucap Haruki balik mencengkeram baju zirah yang Zeki kenakan.


“Apa kau tidak mempercayai Adikku? Apa kau, meragukan kesetiaannya? Jika iya, menyingkirlah dan pulang kembali ke Yadgar! Adikku, membutuhkan pasangan yang dapat mendukungnya, bukan pasangan egois yang menghalanginya dengan alasan takut untuk kehilangannya,” ungkap Haruki kembali, dia mendorong tubuh Zeki hingga Zeki sedikit mundur ke belakang beberapa langkah.


“Jika saja kau bukan Kakaknya, aku mungkin telah membunuhmu.”

__ADS_1


“Jika saja Adikku tidak terus-menerus melindungimu dulu, kau pasti telah mati di tanganku,” ucap Haruki menimpali perkataan Zeki.


__ADS_2