
Kembali kubuka kedua mataku seraya kugerakkan tubuhku ke samping, Zeki telah menghilang diikuti bantal miliknya yang telah berpindah di kepalaku.
Beranjak aku duduk seraya kuarahkan telapak tanganku mengusap kedua mataku yang masih terasa sangat mengantuk. Kugerakkan kembali tubuhku beranjak berdiri seraya kulangkahkan kakiku berjalan keluar dari dalam tenda...
Pandangan mataku mengarah pada para Kesatria yang sibuk berlalu-lalang membawa senjata di genggaman mereka masing-masing. Melangkah aku mendekati Haruki dan yang lainnya...
"Nii-chan," ucapku seraya kusandarkan kepalaku di pundaknya.
"Kau sudah bangun?" ucapnya sembari mengarahkan pandangannya menoleh ke arahku yang berdiri di belakangnya.
"Aku akan menggunakanmu hari ini, jadi tunjukkan seluruh pesona yang kau punya padaku, Haru nii-chan," ungkapku lagi padanya.
"Karena tunanganmu terluka, kau ingin mengorbankan Kakakmu sendiri?"
"Tidak, aku hanya ingin menunjukan kepada musuh... Betapa mengagumkannya Kakakku yang punya senyum seperti Malaikat ini," ucapku lagi padanya.
"Kau akan ikut pertempuran lagi hari ini, benarkan Zeki?" ungkap Haruki seraya mengalihkan pandangannya dariku.
"Tentu, aku akan terus menyerang mereka sampai peperangan ini berakhir," sambung Zeki, kuarahkan pandanganku menatapnya yang tengah menggosokkan ujung tombak miliknya dengan sebuah kain berwarna hitam.
"Apa kau sudah kehilangan akalmu? Bagaimana dengan luka di punggungmu?!"
"Aku baik-baik saja, Sayangku. Kau merawatku dengan sangat baik semalam," ucapnya yang juga ikut menatapku.
"Putri, sepertinya aku akan terluka juga hari ini. Rawatlah aku seperti kau merawa..." perkataan Aydin terhenti, kembali kuarahkan pandanganku pada tombak Zeki yang telah berpindah mendekati lehernya.
__ADS_1
"Jika kau tidak segera menutup mulutmu, aku akan membuat tubuh dan kepalamu terpisah saat ini juga," ucap Zeki balas menatap Aydin.
"Pangeran lemah sepertimu mencoba mengancam ku?"
"Jika kalian ingin saling membunuh, lakukan setelah perang berakhir. Kalian membuat telingaku berdenging di pagi hari," ucap Izumi, berdiri ia di hadapan Zeki seraya diangkatnya tombak milik Zeki lalu berjalan melaluinya.
"Hime-sama, apa kau telah menyusun rencana selanjutnya?" ucap Adinata, menoleh aku ke arahnya seraya berjalan dan berdiri aku di samping Haruki.
"Untuk hari ini, aku akan kembali menggunakan Izu nii-chan, Zeki, dan juga Aydin untuk mendobrak pertahanan musuh... Tapi sebelum itu..."
______________
"Apa semuanya telah berada di posisi masing-masing?" ucapku seraya menoleh aku ke arah Lintang yang juga telah berdiri di samping.
"Semuanya sudah siap menunggu perintah darimu," balasnya yang juga menatap padaku.
"Apa mereka menunggu serangan dari kita?" ucapku, ikut kuarahkan pandanganku pada pasukan musuh dengan menggigit ujung jariku.
"Dirga, kemarilah. Aku ingin membisikkan sesuatu kepadamu," ucapku menatapnya seraya kugerakkan jari telunjukku ke arahnya.
Dirga mengikuti perintah dariku, diarahkannya kepalanya mendekati wajahku. Mendekat aku ke arahnya seraya membisikkan beberapa kata padanya... Mengangguk ia beberapa kali seraya kembali beranjak ia berdiri lalu berjalan mendekati Kesatria yang bertugas menyampaikan pesan...
Kesatria tadi menunggangi kudanya mendekati Danurdara, kutatap Danurdara yang mengangguk menanggapi perkataan yang diucapkan Kesatria tadi padanya... Kembali bergerak Kesatria tadi menunggangi kudanya mendekati Aydin yang telah menunggangi kudanya di hadapan pasukan para pemberontak yang berbaris di belakangnya...
Kesatria tadi kembali berbalik menunggangi kudanya ke arah kami, kualihkan kembali pandanganku pada Aydin yang telah turun dari kudanya... Duduk ia di tanah berdampingan dengan kuda miliknya...
__ADS_1
Para pasukan pemberontak di bawah pimpinannya turut ikut melakukan apa yang ia lakukan. Kutatap mereka yang tertawa terbahak-bahak dengan membentuk lingkaran kecil sesama mereka...
Kualihkan pandanganku kembali pada pasukan musuh, suara tertawa para pasukan perompak semakin menjadi-jadi... Lebih keras, bahkan lebih keras seperti sebelumnya... Seperti yang aku perintahkan.
Terdengar teriakan dari arah pasukan musuh, kutatap pasukan mereka yang yang telah berhamburan berlari ke arah para pasukan kami. Kualihkan pandanganku pada ribuan anak panah yang ditembakkan para Kesatria di bawah pimpinan Danurdara.
"Bodoh sekali, termakan tipuan kecil seperti itu," ucapku tanpa sadar seraya kuarahkan telapak tanganku menyentuh bagian atas bibirku.
Ribuan panah tadi melesat terbang bersamaan, jatuh mereka bergantian menghujani pasukan pejalan kaki musuh yang tak mengenakan perisai apapun sebagai pelindung. Jatuh beberapa dari mereka saat anak panah tersebut membelah kepala mereka...
Beberapa dari anak panah itu bahkan tepat menusuk dada mereka, satu persatu dari mereka jatuh bergelimpangan. Ribuan anak panah kembali ditembakkan Danurdara dan para pasukannya...
Kembali jatuh para pasukan musuh saat anak-anak panah tersebut menembus wajah mereka. Kualihkan pandanganku pada beberapa pasukan musuh yang jatuh menggelepar layaknya seekor ikan yang kekurangan udara... Panah beracun buatan Adikku, Eneas. Memang tak perlu diragukan kehebatannya...
Kututup mulutku menggunakan telapak tanganku seraya berusaha sekuat mungkin aku untuk menahan tawa menatap kebodohan mereka. Kembali kualihkan pandanganku pada para pasukan pemberontak berserta Aydin yang masih saja tertawa keras menatap pasukan musuh...
"Apa kau dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Lintang, kuarahkan kembali pandanganku menatapnya.
"Menjelaskan apa? Kebodohan mereka?" ucapku seraya kugigit kuat bibir bawahku menahan tawa.
"Kebodohan?"
"Aku mengingat kata-kata Zeki, tunanganku. Seperti hewan buas yang memancing hewan buas lainnya dengan kebuasannya..."
"Mereka berusaha memancing kita untuk datang menyerang mereka yang akupun tidak tahu, jebakan apa yang mereka buat untuk pasukan kita. Jadi..."
__ADS_1
"Jadi?" sambung Lintang memotong perkataanku.
"Aku memerintahkan pasukan pemberontak untuk memancing kemarahan mereka, aku memerintahkan mereka untuk tertawa keras dengan maksud mengejek. Harga diri seorang manusia itu tinggi, apa kau pikir seseorang akan berdiam diri jika mereka diperlakukan tak menyenangkan seperti itu terus-menerus?" ungkapku, kuarahkan kedua lenganku menyilang ke dada seraya tersenyum aku menatapnya.