
"Kau tahu, ini pertama kalinya untukku melihat seseorang yang merasa sangat bahagia akan kematiannya sendiri," gumam Izumi dari belakangku.
Kuhentikan langkah kakiku, menoleh aku kebelakang seraya melihat mereka berdua yang sedari tadi berjalan di belakangku.
"Sachi," ucap Izumi yang telah berjalan melewati.
"Ada apa?" balasku, kuikuti langkah kakinya dengan Haruki yang juga ikut berjalan di sampingku.
"Kau tadi mengatakan jika Kaisar hanya mengincar kita bertiga bukan?"
"Kau benar, dan aku merasa sedikit bersalah pada mereka semua. Tapi mau bagaimana, aku tidak bisa mengatakan jika mereka hanya dijadikan tumbal untuk membunuh kita..."
"Aku hanya berharap jika mereka akan baik-baik saja setelah lepas dari kita bertiga."
"Bagaimana dengan Zeki, ia tunanganmu," ucap Izumi kembali memotong perkataanku.
"Jika perempuan meninggal sebelum pernikahan mereka, maka laki-laki akan di pertunangkan dengan perempuan yang lain bukan? Aku pikir, itu akan lebih baik untuknya," ungkapku tertunduk menanggapi perkataan Izumi.
"Jangan terlalu menggunakan akalmu, sekali-kali gunakan juga hati. Akal dan hati, mencerminkan kita seorang manusia," sambung Izumi, diarahkannya kepalanya ke atas menatap langit.
"Kalian berdua, lihatlah kesana!" terdengar suara Haruki, menoleh aku ke arah yang ditunjuknya.
Mataku menyipit untuk memastikan apa yang aku lihat, terlihat beberapa orang laki-laki tengah menarik beberapa buah gerobak berisi sayur-sayuran. Kuikuti pandangan mataku mengikuti langkah kaki mereka yang semakin bergerak maju...
"Aku pikir itu pedagang, jika kita mengikuti mereka. Kita akan sampai di pemukiman penduduk," tukas Haruki masih menatapi mereka.
"Tunggu apalagi, kita akan langsung mengikuti mereka," sambung Izumi melangkahkan kakinya.
"Tunggu dulu, nii-chan. Kita tidak bisa langsung mengikuti mereka, bagaimana jika mereka pikir kita kelompok penjahat yang ingin merampok mereka," ucapku yang berhasil menghentikan langkah Izumi.
"Kita akan mengikuti mereka dari jauh," ucap Haruki yang telah berjalan menjauh.
Melangkah kami mengikuti langkah Haruki, ikut kutatap bekas jejak yang dihasilkan oleh gerobak-gerobak yang mereka bawa. Para pedagang tadi semakin mendekati sebuah gerbang bertuliskan Javiero diatasnya, langkah kaki mereka tampak berhenti oleh Kesatria yang berjaga di gerbang tersebut...
__ADS_1
Dipersilakan para pedagang tersebut oleh para Kesatria tadi, berjalan kami mengikuti langkah kaki Haruki yang semakin mendekati gerbang bercat hitam tersebut...
"Berhenti!" ucap dua Kesatria seraya menyilangkan dua buah tombak kepada Haruki.
"Apa yang ingin kalian lakukan disini?" tanya dua Kesatria itu lagi, berhenti Haruki di hadapan mereka.
"Kami kesini hendak mencarikan obat untuk Adikku yang terluka," ucap Haruki, ditariknya lengan Izumi seraya dibaliknya tubuh Izumi hingga memperlihatkan punggungnya.
"Kami mohon, memang saat ini Adikku terlihat baik-baik saja akan tetapi sudah beberapa hari ia demam terus-menerus," sambung Haruki lagi, terdengar suaranya yang hampir menangis.
"Tapi mata kalian berdua terlihat berbeda?" tanya salah satu Kesatria lagi padanya.
"Dia memiliki mata yang sama seperti Ibuku, dan aku sama seperti Ayahku."
"Lalu dia?" ucap salah satu Kesatria menatapku.
"Dia istriku, kami baru saja menikah," ucapnya, kulirik ia yang tertunduk dengan menggenggam kedua tangannya.
"Tapi..."
"Kau benar-benar sangat tidak beruntung," ucap Kesatria itu seraya melirik ke arahku.
"Aku tahu, tapi mau bagaimana... Walaupun tubuhnya rata, tetap saja dia Istriku," tertunduk ia seraya sebelah tangannya mengusap ujung matanya.
Aku tidak tahu harus bersyukur karena kelicikannya atau harus murka karena hinaan darinya.
Kulirik Izumi yang tampak menggigit bagian bawah bibirnya seraya mengalihkan pandanganku kembali pada dua Kesatria yang ada di hadapanku.
"Namamu?" ucap kembali salah satu Kesatria.
"Zeki, Zeki Bechir," jawab Haruki menanggapi perkataan Kesatria tadi. Diraihnya leherku oleh Kesatria tadi seraya ditatapnya lama belakang telingaku olehnya.
"Baiklah, kalian dapat masuk ke dalam," ucapnya lagi seraya mengangkat tombak yang menghalangi jalan kami sebelumnya, tampak Kesatria yang satunya ikut melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Terima kasih, terima kasih," tukas Haruki membungkukkan tubuhnya beberapa kali kepada mereka, ikut membungkuk aku dan Izumi kepada mereka.
Berjalan kami bertiga masuk melewati gerbang tadi, melangkah kami semakin masuk ke dalam. Kulirik Izumi yang tiba-tiba berjongkok dengan kepala tertunduk...
"Bagaimana keadaanmu, Kakak ipar?" ucap Izumi menahan tawa menatapku, ditutupnya mulutnya menggunakan telapak tangan.
"Kau terlihat sangat bersenang-senang, Adik ipar," balasku menatapnya, kupukul punggungnya yang terluka hingga tertunduk ia menahan sakit.
"Apa kau berniat membunuh kakakmu?" ucapnya, menatapku dengan mata berbinar.
"Cepatlah, Haru nii-chan sudah semakin menjauh," ungkapku seraya mengarahkan telapak tanganku padanya.
Disambutnya telapak tanganku tadi olehnya, digenggamnya telapak tanganku seraya beranjak ia berdiri. Melangkah kami berdua menyusul langkah kaki Haruki...
Semakin kami masuk ke dalam, semakin itu juga terlihat keramaian orang yang berlalu-lalang. Ada yang tengah melakukan tawar-menawar, ada yang tengah sibuk menghitung uang di genggamannya, bahkan ada yang menukarkan barang miliknya dengan barang dagangan yang tersusun rapi...
Langkah kaki Haruki berhenti di sebuah bangunan terbuat dari tanah liat, di atas bangunan tersebut tertulis perhiasan. Masuk Haruki ke dalam bangunan tersebut diikuti oleh kami berdua...
Seorang laki-laki setengah baya dengan perut yang buncit berdiri di dalam bangunan tersebut. Laki-laki tersebut tampak tersenyum menatap Haruki yang berjalan mendekatinya...
"Apa ada yang dapat kami bantu, Tuan?"
"Aku ingin menjual anting-anting ini," ucap Haruki seraya menjatuhkan anting-anting milikku di meja yang ada di hadapan laki-laki tadi.
"Darimana kalian mendapatkannya? Perhiasan ini menggunakan batu safir, dan harganya..." ucapan laki-laki tadi terhenti diikuti suara batuk yang ia keluarkan.
"Harganya tidak terlalu mahal, aku hanya akan membelinya seharga sepuluh Tickla," sambungnya menatap Haruki.
"Izumi," ucap Haruki mundur.
"Apa kau bercanda? Perhiasan yang menggunakan batu safir memiliki nilai jual yang tinggi, jika kau ingin menipu seseorang... Tipu saja yang lainnya," ungkap Izumi seraya menempelkan pisau kecil di leher laki-laki tersebut.
"Ba-baiklah, aku akan membelinya dengan harga yang telah ditetapkan pasar," ucap laki-laki tadi dengan suara bergetar.
__ADS_1
"Seharusnya kau melakukannya lebih awal," sambung Izumi seraya menarik kembali pisau yang ia arahkan pada laki-laki tersebut, terdiam laki-laki itu dengan keringat yang memenuhi wajahnya.