
Kuarahkan kepalaku menghadap mereka yang tengah menuruni benteng dengan tali-tali yang ada, kualihkan pandanganku pada keadaan suram nan gelap yang ada di belakangku...
"Semuanya telah diturunkan," terdengar kembali suara Savon dibelakangku, berbalik aku menatapnya yang tengah memegang sebuah obor di tangan kanannya.
"Semuanya, ikuti aku dan jangan lupa untuk membawa barang-barang itu bersama kalian," ucapku seraya mengalihkan pandangan pada Kesatria yang lain.
Melangkah aku sedikit menjauh dari gerbang, berbalik aku seraya menatap gerbang Kerajaan yang berada jauh dari pandanganku. Tampak terlihat juga beberapa Kesatria yang mendekati dengan menggendong barang-barang yang aku sebutkan sebelumnya...
"Savon," ucapku sembari mengarahkan telapak tanganku pada gerbang Kerajaan yang terlihat mengecil karena jauhnya jarak.
"Menurutmu sebagai Kesatria, berapa lebar senjata seperti ketapel raksasa itu jika diukur menggunakan langkah kaki?" sambungku, kualihkan pandanganku padanya yang tengah berdiri disamping.
"Sembilan atau sepuluh langkah kaki," jawabnya balas menatapku.
"Dan berapa lebar gerbang Kerajaan jika diukur dengan langkah kaki?" tanyaku lagi padanya.
"Berapa lebar gerbang Kerajaan jika diukur dengan langkah kaki?" tanya Savon kembali, dialihkannya pandangan matanya kepada para Kesatria yang ada dihadapan kami.
"Mungkin empat?"
"Tidak, lima langkah kaki... Aku pernah mengukurnya saat tugas berjaga," ucap salah satu Kesatria menimpali ucapan Kesatria lainnya.
"Lima ya? Kalian berdua, kemarilah," ucapku lagi pada mereka berdua yang berbicara tadi.
"Berdirilah sejajar dengan sisi kiri dan kanan gerbang itu, lalu melangkahlah kalian masing-masing dua langkah ke arah kanan dan juga kiri," sambungku pada mereka berdua lagi, berjalan mereka berdua mendekati seraya melakukan apa yang aku perintahkan.
__ADS_1
"Jika telah selesai, ambil pedang kalian masing-masing lalu buat garis lurus tepat dihadapan kalian berdiri sekarang," tukasku lagi kepada mereka, diraihnya pedang yang menggantung di masing-masing pinggang mereka. Diangkatnya pedang tersebut seraya ditancapkannya ditanah hingga membentuk satu garis lurus.
"Aku ingin kalian membuat lubang lebar yang sangat dangkal dimulai dari garis yang mereka buat tadi, lalu tanam paku-paku yang kalian bawa ke dalam lubang-lubang tadi. Usahakan, jangan sampai musuh mencurigai jika di dalam tanah tersebut terdapat paku," ungkapku seraya mengalihkan pandangan pada Kesatria yang lain.
"Tapi untuk apa kita melakukannya?" ucap salah satu Kesatria dengan suara yang sangat pelan.
"Karena aku hanya memikirkan satu kemungkinan, jika musuh membawa senjata raksasa seperti ketapel atau lain sebagainya... Mereka akan langsung mengincar gerbang kayu yang rapuh bukan?" tanyaku, mengangguk mereka pelan menanggapi ucapanku.
"Karena itu, aku bertanya kepada Savon berapa lebar biasanya sebuah senjata raksasa dan juga berapa lebar dari gerbang Kerajaan..."
"Aku mengerti, tapi kenapa harus menanamkan paku menuruti garis itu. Bukankah lebih baik jika kita langsung menghancurkan senjata yang mereka bawa?" tanya Kesatria lainnya.
"Kau benar, akan tetapi... Jebakan ini hanya dikhususkan untuk melukai kaki musuh. Setidaknya dengan begitu kita akan memperlambat langkah mereka walau hanya sekejap," balasku menjawab pertanyaannya.
"Jebakan kedua?" ucap mereka bergantian, mengangguk aku seraya menanggapi perkataan mereka.
"Kita akan membuat sebuah lubang yang sangat lebar dan juga dalam dengan jarak yang tak terlalu jauh dari gerbang, di dalam lubang tersebut akan kita tanam bambu-bambu runcing..."
"Dengan kata lain, jebakan itu akan menghancurkan senjata musuh sekaligus menghilangkan beberapa nyawa musuh sekaligus. Seperti melempar dua burung dengan satu batu," ucapku lagi seraya kualihkan pandanganku pada gerbang Kerajaan.
"Karena itu semuanya, aku mengandalkan kalian menyelesaikannya sebelum pagi datang. Apa kalian mengerti?!" tukasku kembali dengan nada sedikit berteriak.
"Siap, laksanakan," balas mereka berteriak serempak menatapku.
"Savon, ikuti aku," ucapku seraya menatapnya.
__ADS_1
Kulangkahkan kakiku berjalan mendekati gerbang, melirik aku pada bayangan Savon yang mengikuti langkah kakiku...
Langkah kaki kami semakin mendekati gerbang, kutatap dua palang kayu besar yang melintang di gerbang tersebut. Maju aku beberapa langkah mendekati dua palang kayu tersebut.
"Apa kau bisa membantuku menyingkirkan kayu-kayu ini?" ucapku seraya menoleh ke arahnya.
Maju ia beberapa langkah mendekat, diarahkannya obor yang ia pegang tadi padaku. Kuraih obor tersebut dari tangannya seraya berjalan mundur sedikit menjauh, kutatap Savon yang berjongkok lalu berdiri ia kembali dengan mengangkat satu balok kayu menggunakan pundaknya.
Berjalan ia sedikit menjauh seraya dilemparkannya balok kayu besar tersebut ke tanah. Kembali ia melangkahkan kaki mendekati gerbang sembari mengulangi apa yang ia lakukan sebelumnya...
Kutatap wajahnya yang penuh dengan keringat, diketuk-ketuknya gerbang tersebut seraya berteriak ia berkali-kali meminta Kesatria yang ada didalam untuk menarik gerbang tersebut dari dalam...
Gerbang tersebut kembali terbuka, tampak terlihat tatapan beberapa Kesatria yang sedikit lega melihat wakil kapten yang mereka hormati itu. Melangkah Savon mendekati mereka sembari memerintahkan mereka semua untuk membantu para Kesatria yang tengah membuat jebakan...
Satu persatu Kesatria berlari melewati, berbalik aku seraya menatap mereka yang langsung menyumbangkan tangan-tangan mereka membantu rekannya...
"Apa yang kau tunggu, cepatlah masuk!" suara Savon mengetuk telingaku.
Berbalik aku menatapnya yang juga tengah menungguku, melangkah aku melewatinya. Angin yang berembus membuat goyah api obor yang menyala di tanganku...
"Apa menurutmu rencana ini akan berhasil?" ucapnya yang mengikuti langkahku dari belakang.
"Entahlah, aku tidak bisa menjamin semuanya. Mungkin akan ada banyak pasukanmu besok yang kehilangan nyawanya..."
"Akan tetapi, kau telah melatih mereka untuk tidak mati semudah itu bukan? Jadi percayalah pada mereka dan juga dirimu sendiri," ucapku seraya berbalik tersenyum menatapnya.
__ADS_1