
“Ada apa denganmu?” tanyanya sambil mengangkat wajahku menggunakan tangannya.
Pandangan mataku bergerak ke bawah diikuti tubuhku yang bergerak sedikit ke belakang, “aku baik-baik saja,” tukasku dengan tetap menghindari bertatapan dengannya diikuti tanganku yang terangkat menggaruk belakang leher.
“Aku tahu, pasti terjadi sesuatu kepadamu. Katakan saja, ada apa?”
Aku menarik napas dengan mengangkat wajah menatapnya yang telah berdiri tepat di depanku, “apa kau bertemu dengan saudara kembarku?”
"Maksudmu, laki-laki yang berwajah sama sepertimu, bukan? Laki-laki yang berdiri di dekat kalian tadi?”
“Ada apa dengannya? Apa terjadi sesuatu?” Kali ini Zeki kembali menatapku diikuti nada suaranya yang sedikit berubah.
“Aku ingin mengenalkannya kepadamu jika kalian belum berkenalan.”
“Aku mengerti, kita bisa melakukannya nanti. Lagi pun, aku ingin menghabiskan waktu selama di sini bersamamu.”
“Bagaimana dengan Yadgar? Bagaimana mungkin, seorang Raja selalu meninggalkan Kerajaannya begitu saja,” ungkapku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Aku mengerti,” ujarnya, kepalaku kembali terangkat ketika kurasakan hiasan kepalaku terlepas, “kita tidak perlu mengikuti Festival ini. Kau, tidak mengharapkan kehadiranku di sini, bukan?” tukasnya sambil mengangkat ke atas lilitan akar bunga yang sebelumnya menghiasi kepalaku.
“Maafkan aku, karena selalu menghalangi perjalanan yang kau lakukan,” ucapnya sambil melenggang pergi melewatiku. Aku tertunduk, kugigit kuat bibir diikuti sebelah tanganku yang bergerak menutup kedua mata.
Jangan menangis, Sachi! Keselamatan keluargamu lebih penting dibanding apa pun … Jangan menaruh kepercayaan pada mereka, selain dari keluargamu sendiri. Jangan mempercayai siapa pun sebelum ini semua berakhir, kau … Pasti bisa melakukannya.
Aku mengangkat kembali kepalaku lalu dengan kuat kutampar kedua pipiku sendiri. Kepalaku bergerak memutari sekitar, kedua kakiku melangkah saat pandangan mataku terjatuh kepada Haruki, Ryuzaki dan juga Eneas yang tengah berbincang dengan Raja Piotr. Aku membungkukkan tubuh ke arah Raja dan juga Pangeran yang mengalihkan pandangannya ke arahku, “nii-chan, aku tidak bisa mengikuti Festival ini. Aku, merasa kurang sehat sekarang … Aku, ingin mengistirahatkan tubuhku,” bisikku di dekat Haruki saat aku telah kembali beranjak berdiri di sampingnya.
“Apa kau ingin aku temani?”
__ADS_1
Aku menggeleng pelan, “tidak perlu. Ada Zeki yang akan menjagaku nanti,” balasku berbohong kepadanya.
“Baiklah, katakan kepadanya! Untuk jangan melakukan hal yang tidak pantas kepadamu saat semua saudaranya tidak bisa mengawasinya.”
“Aku mengerti nii-chan, aku akan menyampaikannya,” ungkapku tersenyum sebelum berjalan membelakanginya.
Kedua kakiku terus melangkah melewati kerumunan, lalu berhenti kembali di samping kereta yang sebelumnya membawa kami. Aku melirik ke arah Kesatria yang berdiri mengawasi kereta sebelum tanganku itu membuka perlahan pintu kereta yang ada di hadapanku lalu menaikinya. Aku menghela napas seraya duduk bersandar di bangku kereta, dengan pandangan mata terlempar ke luar jendela.
____________.
Aku membuka perlahan kedua mata diikuti telapak tanganku yang terangkat mengusapnya. Aku mencoba beranjak duduk dengan tetap mengusap kedua mataku itu, “jubah? Jubah siapa ini?” gumamku sambil meraih jubah berwarna hitam yang menyelimuti pinggang hingga kakiku.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku kepadanya yang telah duduk berseberangan dariku.
Dia mengarahkan pandangannya yang sempat jatuh ke arah jendela padaku, “kakakmu memarahiku, kenapa aku meninggalkan adiknya yang sedang sakit,” ucapnya yang kembali membuang pandangannya itu ke jendela.
Bibirku berkerut, dengan kutarik kembali tanganku yang memegang jubah tersebut ketika dia masih membuang pandangannya dariku. “Sebenarnya, apa yang terjadi kepadamu? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” Kepalaku kembali terangkat menatapnya yang tiba-tiba telah bersuara.
“Piano,” ucapku tertunduk sambil duduk menyandarkan diri, kuletakkan jubah yang sebelumnya aku genggam ke sampingku.
“Piano?” Dia mengulangi apa yang aku katakan, diikuti tatapan matanya yang mengarah kepadaku.
“Kotak hitam, yang aku mainkan sebelum aku dikurung oleh Ayahmu.”
“Ada apa dengan benda itu? Apa kau menginginkannya? Jika iya, aku akan memerintahkan pasukanku untuk membawanya ke Sora,” tukasnya yang dengan cepat menimpali perkataanku.
“Kau benar, aku menginginkannya … Ada sesuatu yang ingin aku pastikan darinya,” sahutku sembari melirik membalas tatapannya.
__ADS_1
“Aku mengerti, aku akan memerintahkan mereka untuk membawanya ke Sora.”
“Itu, peninggalan penting dari leluhur keluargamu. Kenapa, kau memberikannya dengan sangat mudah?”
“Karena peninggalan keluarga, hanya dapat diberikan kepada keluarga saja. Ayahmu, sudah seperti Ayahku sendiri, dan aku … Bersungguh-sungguh ingin menikahi Putrinya. Itu sudah lebih dari cukup, sebagai alasan kenapa aku memberikan peninggalan keluarga kami.”
Aku menarik napas dalam dengan mengangkat telapak tanganku ke arahnya, “festival belum dimulai, bukan? Ingin menghadirinya denganku? Karena aku mendengar, jika festival ini dapat menentukan … Laki-laki itu akan menjadi suami yang tepat untukmu di masa depan atau tidak. Jika hasil festival itu tidak baik bersamamu, maka aku akan langsung mencari laki-laki lain saat itu juga.”
“Heh,” tukasnya seraya menyambut uluran tanganku, “aku menerima tantanganmu. Kau akan menyesali ini, karena semuanya akan berakhir baik,” sambungnya, dia beranjak sambil membuka pintu kereta dengan menarik tanganku di genggamannya.
Genggaman tangannya semakin menguat saat kedua kakiku bergerak menuruni kereta. Pandanganku tertegun, ke arah banyak sekali laki-laki yang berdiri mengelilingi kereta kami tersebut. Zeki mengangkat sebelah tangannya yang lain sambil berteriak memanggil nama seseorang. Kualihkan pandanganku ke arah seorang laki-laki yang berjalan mendekat dengan hiasan kepala milikku yang sebelumnya diambil oleh Zeki di tangannya.
Zeki meraih hiasan kepala tadi, lalu meletakkannya dengan sangat perlahan di atas kepalaku menggunakan sebelah tangannya, sedangkan tangannya yang lain masih menggenggam erat telapak tanganku. “Aku tidak menyukainya saat kau berpenampilan cantik seperti ini. Namun,” ucapnya terhenti, dia meletakkan tangannya di dagu hingga wajahku terangkat olehnya, sebelum matanya terpejam diikuti bibirnya yang mengecup bibirku.
“Aku tidak akan melepaskanmu pada laki-laki lain. Karena mereka, belum tentu dapat menjagamu seperti yang aku lakukan. Ingatlah ini, Takaoka Sachi! Laki-laki yang pantas menemanimu, hanya aku. Apa kau paham? Hanya aku.”
“Omong kosong macam apa itu,” ungkapku sembari berjalan melewatinya.
“Coba ulang, apa yang kau katakan sebelumnya?!”
Aku melirik ke sudut mata, ke arah bayangannya yang berjalan di belakangku, “omong kosong macam apa yang kau ucapkan itu, apa kau tidak mendengarnya dengan jelas?” ucapku seraya membuang kembali pandangan ke depan.
“Terima kasih telah bersama denganku. Ketika tidur, berdebat dan tersenyum. Aku menyukai semuanya-”
“Darling, i’m so happy. Jika aku Raja, maka kamu akan menjadi Ratu. Meskipun memalukan dan tidak pernah sempat mengatakannya tapi, aku menyukaimu.”
Langkah kakiku terhenti lalu berbalik menatapnya saat Zeki telah menghentikan kata-kata yang ia ucapkan menggunakan bahasa Jepang. “Aku mengingat apa pun yang berhubungan denganmu. Jika nanti kita bertemu kembali, nyanyikan aku lagi lagu tersebut. Aku akan menunggumu melakukannya, Darling,” tukasnya, dia mencubit pipiku sebelum melangkah pergi melewatiku.
__ADS_1