Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLI


__ADS_3

Aku melirik ke arah Haruki dan Izumi yang berenang mendekati Hippocampus yang beberapa hari kemarin menolak Eneas, mereka berdua melepaskan ikatan beberapa butir kelapa yang ada di ekor makhluk tersebut. “Ini, sisa buah kelapa yang kita bawa,” ucap Izumi, dia menarik tali yang mengikat buah-buah kelapa yang mengapung di atas permukaan.


Aku mengusap leher Kou hingga dia sedikit berenang mendekati permukaan, aku meraih satu buah kelapa yang mengapung di dekatku itu. “Aku akan mengupasnya untukmu,” aku berbalik lalu memberikan buah tadi kepada Izumi yang setengah tubuhnya muncul ke permukaan.


“Kalian,” suara Lux yang terputus-putus terdengar dari kejauhan, “kalian, cepat sekali,” sambungnya lagi dengan sedikit terengah-engah terbang mendekati.


“Aku sudah menyarankan untuk hanya duduk di atas kelapa agar dia tidak perlu terbang, tapi dia menolak,” timpal Izumi yang masih fokus mengupas kulit kelapa menggunakan pedang di tangannya.


“Sialan,” sambung Izumi kembali diikuti kepalanya yang tertunduk. “Ada apa, nii-chan?” Tanyaku padanya, Izumi mengangkat wajahnya menatapku, “aku menjatuhkan pedangnya,” ungkapnya yang bergerak membenamkan dirinya kembali ke lautan.


“Izumi, kenapa dia selalu ceroboh untuk hal yang tidak berguna,” aku melirik ke arah Lux yang terbang berbaring di salah satu kelapa yang mengapung.


“Nii-chan, menurutmu … Seberapa jauh lagi kita akan sampai ke tujuan,” tukasku melirik ke arah Haruki.


“Entahlah, setidaknya kita harus menemukan daratan untuk memastikannya,” jawabnya mengarahkan buah kelapa yang ada di tangannya tadi ke samping telinga.


_____________________


Kuro membawaku berenang lebih cepat dibanding sebelum-sebelumnya, tubuhku miring ke kiri saat dia membawaku miring ke arah yang sama. Dia tiba-tiba berhenti berenang, saat Izumi berserta Hippocampus miliknya berenang mendekati.


“Aku menemukan daratan,” tukas Izumi menatapi kami bergantian.


“Apa kau yakin?” Haruki berusaha memastikan yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Izumi.


“Itu seperti pelabuhan, akan sangat berbahaya jika kita membawa hewan-hewan ini mendekat ke sana.”


“Apa di sana, pemukiman?” Kali ini aku bertanya kepadanya.

__ADS_1


Izumi menganggukkan kembali kepalanya, “kita akan mati kelaparan jika terus-menerus di dalam laut. Buah kelapa yang kita bawa pun sudah habis. Kita harus kembali ke daratan,” sambung Izumi dengan mengarahkan pandangannya kepada Haruki.


“Aku mengerti. Di dalam lautan juga membuatku tidak bisa memastikan lokasi kita,” timpal Haruki yang sedikit melirik ke arahku.


“Aku mengerti. Lagi pun, aku ingin kembali menghangatkan diri di bawah sinar matahari,” ungkapku sambil berenang menjauh dari punggung Kuro.


____________________’


Aku berenang mengikuti Izumi yang memimpin kami, Izumi melambankan pergerakannya saat kami semakin mendekati pesisir pantai. Aku menarik napas dalam ketika angin malam berembus, saat kami mulai berjalan menyusuri pasir pantai


“Ke mana kita akan pergi selanjutnya?” Aku melirik ke arah Eneas yang berbicara gemetar diikuti kedua lengannya yang saling bersilang.


“Kita akan mencari perkampungan, tempat untuk beristirahat,” jawab Haruki sambil mengarahkan wajahnya menatap sekitar.


Kepalaku berhenti bergerak saat pandangan mataku terjatuh ke arah kilauan cahaya yang bergerak mendekat. Aku melirik ke arah Izumi yang kembali menurunkan pedangnya ketika sosok seorang kakek renta dengan seorang anak kecil berjalan mendekat.


“Kapal kami tenggelam, kami terbawa arus sampai ke sini,” tukas Haruki menjawab pertanyaan Kakek itu.


Kakek itu menoleh ke arah anak laki-laki yang ada di sampingnya, “mereka mengatakan apa?!” Dia bertanya dengan nada suaranya yang terdengar meninggi.


“Kapal mereka tenggelam! Mereka dibawa arus!” Anak laki-laki yang ada di sebelahnya itu balas berteriak, “Kakekku, tidak bisa mendengar dengan jelas,” ucap anak laki-laki tadi kepada kami.


“Kalian tenggelam? Kalau benar, beristirahatlah di rumahku,” ungkapnya sambil melihat bergantian ke arah kami.


Kakek itu berbalik lalu berjalan dengan anak laki-laki yang ada di sebelahnya. Aku terlebih dahulu, melirik ke arah Haruki dan juga Izumi yang telah berjalan mengikuti langkah sang kakek di belakangnya. “Eneas, apa kau baik-baik saja?” Tanyaku dengan mengusap rambutnya saat dia berjalan dengan wajah tertunduk di sampingku.


Eneas mengangkat wajahnya menatapku, “aku baik-baik saja. Aku hanya memeriksa apa ada yang tumpah,” ucapnya sembari kembali tertunduk ke arah tas yang ia bawa.

__ADS_1


“Apa baik-baik saja, tinggal terlalu dekat di pantai seperti ini?” Gumam Izumi saat kami tak perlu memerlukan waktu lama untuk sampai di rumah kakek tadi.


“Ayah bahkan memberikan larangan untuk membangun rumah di tepi pantai.”


“Izumi,” bisik Haruki yang membuat Izumi menutup mulutnya.


“Kakek,” anak laki-laki yang ada di sampingnya itu melepaskan genggaman tangannya pada sang kakek, “rumah kita terlalu sempit untuk mereka. Tidak akan muat!” Sambung anak laki-laki itu kembali dengan sedikit berteriak.


“Kami, akan beristirahat di luar saja,” ucap Haruki, dia bergerak duduk beralaskan pasir pantai.


Aku ikut bergerak duduk di hadapan mereka, ikut kuarahkan pandanganku melirik ke arah anak laki-laki tadi yang terdiam, tertegun menatap kami. “Kalian ingin duduk di luar? Baiklah, aku akan membawakan minuman,” ucap sang Kakek berjalan masuk ke dalam gubuk dengan membawa obor menyala yang ada di tangannya.


Pandangan di sekitar sedikit menggelap, cahaya yang dapat kami andalkan hanyalah cahaya bulan yang jatuh tipis menyentuh kami. Aku kembali menoleh ke arah bayangan si kakek yang kembali keluar dengan membawa nampan di kedua tangannya.


Kakek itu meletakkan nampan berisi teko retak dan satu cangkir itu ke arah kami, pandangan mataku melirik ke arah Haruki yang bergerak menuangkan air di dalam teko ke cangkir saat kakek itu meminta kami untuk meminumnya. Haruki mengarahkan cangkir tadi mendekati hidungnya, dia menghirup udara panjang sebelum meminum air yang ada di dalam cangkir tadi.


“Kami, hanya memiliki satu cangkir, jadi berbagilah,” ketus anak laki-laki yang duduk di samping kakek itu.


“Melihat kelakuan anak itu, mengingatkan aku … Akan kelakukan Eneas saat kecil,” bisik Lux pelan di telingaku.


Haruki mengarahkan cangkir yang telah diisinya kembali dengan air ke arah Eneas, sama seperti yang Haruki lakukan sebelumnya … Eneas mendekatkan cangkir tadi ke hidungnya, menghirup aroma yang ada di dalamnya sebelum dia meminum air yang ada di dalam cangkir.


“Namamu?” Haruki mengarahkan pandangannya kepada anak laki-laki tersebut. “Untuk apa, aku memberitahu namaku pada seseorang seperti kalian,” ketus anak itu, wajahnya cemberut diikuti pandangannya menatap tajam ke arah kami.


Anak itu mengangkat pandangannya menatapku, lehernya terlihat seperti menelan sesuatu saat aku mendekatkan cangkir berisi air yang aku pegang ke bibir, “apa kau mau?” Tanyaku dengan mengarahkan cangkir tadi ke arahnya.


Kepala anak itu tertunduk ketika Kakek itu memukul kuat belakang kepalanya, kakek itu juga mengatakan beberapa kalimat yang tidak aku mengerti kepada anak tersebut, “Lux,” bisikku pelan dengan mendekatkan cangkir berisi air yang ada di tanganku tadi ke pundak, “apa di dalam air ini, terdapat sesuatu?” Tanyaku kembali berbisik kepada Lux, ikut kurasakan tarikan pelan di rambut saat cangkir itu aku gerakkan semakin mendekatinya yang bersembunyi.

__ADS_1


__ADS_2