
Aku merangkak lalu beranjak dengan berjalan keluar dari dalam gubuk, mengikuti Haruki dan juga Izumi yang sudah keluar terlebih dahulu dengan yang lainnya. Langkahku belum berlanjut, ketika dua orang laki-laki rupanya mencegat jalan kami. Kedua orang laki-laki itu berbalik dengan menggunakan kata-kata yang tak aku mengerti, sebelum akhirnya mereka berdua berjalan memunggungi kami semua.
Kami terus berjalan, dan terus berjalan melewati kerumunan warga yang tatkala lari menghindar tiap kali mata mereka terjatuh ke arah kami. Langkah kaki kami semua berhenti di tengah-tengah kerumunan, dengan pemuda yang menjadi kepala suku dan beberapa orang tua, mungkin tetua suku yang duduk di kanan dan kirinya.
“Kami, ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian,” tukas Haruki dengan membungkukkan tubuhnya.
Aku turut membungkukkan tubuh, ketika yang lain telah melakukan hal sama sepertinya. Tubuhku kembali beranjak tegap, saat suara laki-laki yang mengeluarkan kata-kata asing itu terdengar. Dia mengangkat sebelah tangannya, saat itu kami hanya saling pandang sebelum akhirnya mengikuti Haruki yang telah duduk di tengah-tengah lingkaran warga.
“Apa yang mereka bicarakan?”
Aku melirik ke arah Izumi yang bergumam pelan dengan menundukkan kepalanya, “entahlah. Aku pun tidak mengerti apa yang mereka katakan,” jawabku yang ikut bergumam pelan di sampingnya.
“Sa-chan,” tukas Haruki yang membuatku kembali mengangkat kepala, “kami mengandalkanmu,” sambungnya yang semakin membuatku kebingungan.
Keningku mengerut, sebelum akhirnya pandangan mataku terjatuh ke arah kepala suku yang telah menghentikan perkataannya. Aku beranjak berdiri, saat mata kepala suku tersebut tak berkedip menatapku. Kedua kakiku melangkah melewati Haruki sebelum akhirnya berhenti di depan sang kepala suku dan para tetua, “kami, tersesat di sini. Kami, tidak tahu ke mana ingin melangkah,” ucapku sambil berusaha menjelaskannya dengan menggunakan isyarat dari tubuh langsung.
“Saat kami berjalan, teman kami ada yang ditangkap oleh mereka yang memakai ikatan kepala,” sambungku sambil mengusap keningku sendiri.
Aku menghentikan apa yang aku lakukan, diikuti dengan kedua mataku melirik ke sekitar saat suara bisik-bisik dari sekitar menyentuh telingaku. Aku menarik napas sebelum akhirnya duduk berlutut dengan meraih dan menggenggam tangannya, “kau, kepala suku di sini, bukan?” tukasku pelan, aku memejamkan mata saat aku mengangkat tangannya yang aku genggam itu menyentuh keningku.
“Kumohon, bantu kami untuk menyelamatkan mereka. Kumohon,” sambungku dengan kembali menatapnya dengan kedua mataku yang sedikit mengabur karena air mata.
Aku dengan cepat kembali beranjak berdiri, ketika telapak tangannya itu hampir menyentuh kepalaku. “Ada yang ingin aku berikan kepadamu, sebagai ucapan terima kasih karena telah beberapa kali menolongku,” tukasku sambil berjalan mendekati tumpukan senjata milik kami yang diletakkan begitu saja di tanah.
__ADS_1
Aku membungkuk dengan meraih satu anak panah dan busur milikku. Para warga yang ada di sekitarku berjalan mundur, bahkan ada yang mengacungkan kapak milik mereka ke arahku. Aku tak menggubris mereka, yang aku lakukan hanyalah mengangkat kepalaku ke atas diikuti busur dan juga anak panahku yang aku arahkan ke langit.
Di mana kau burung? Di mana kau?
Aku menggerakkan kepala menatapi langit, lalu tersenyum dengan menarik busurku saat pandangan mataku itu terjatuh ke arah bayangan seekor burung yang hendak terbang melewati kami. Aku menahan napas dengan mataku yang masih membidik burung tersebut, aku masih menunggu … Masih menunggu waktu yang tepat. Sebelum-
Anak panahku melesat cepat terbang ke atas tatkala aku melepaskan tarikan tanganku di busur panah milikku. Aku berlari meninggalkan kerumunan, dan terus berlari mengikuti sosok burung yang terjatuh dari atas langit oleh anak panahku yang menancap di tubuhnya. Langkahku berhenti di dekat pohon, aku mengangkat busurku ke atas, berusaha menjatuhkan bangkai burung yang menyangkut di salah satu dahan dengan kedua kakiku yang berjinjit.
Aku dengan cepat menggerakkan tangan, menangkap bangkai burung yang jatuh dari dahan pohon tersebut lalu berbalik dengan melangkahkan kaki mendekati kerumunan warga itu kembali. Kedua kakiku terus melangkah sebelum akhirnya berhenti di depan pemuda yang menjadi kepala suku, “untukmu, sebagai ucapan terima kasih,” tukasku, aku hanya tersenyum saat dia kembali menatapku tanpa melakukan apa pun.
“Nii-chan, ada apa dengannya? Apa aku melakukan kesalahan?” gumamku dengan berbalik ke arah Haruki.
“Kenapa, kau tidak mencoba untuk memperkenalkan dirimu, Sa-chan!”
________________.
Aku berjalan di samping Haruki, mengikuti gerombolan penduduk suku menyusuri hutan. Kami semua, berencana untuk mengikuti mereka semua berburu. “Hayle,” panggilku, hingga kepala suku yang bernama Hayle itu menoleh ke arahku.
“Bisakah, senjata milikmu itu menjatuhkan buah kelapa yang ada di atas sana?” tukasku, sambil menunjuk ke arah beberapa buah kelapa yang ada di atas kami.
“Sa-chan.”
“Aku ingin sekali melihatnya, nii-chan. Aku, ingin mengetahui kekuatan dari senjata itu. Lagi pun, entah kenapa aku ingin sekali meminum air kelapa itu,” sahutku menjawab ucapan Haruki.
__ADS_1
“Atau Izu-nii, panahkan kelapa itu untukku!”
“Kau bisa memanahnya sendiri, kenapa tidak melakukannya.”
Aku mendecakkan lidah dengan kembali melanjutkan langkah, “aku ingin diambilkan seseorang, bukan mengambilnya sendiri. Diambil dengan mengambil itu berbeda,” tukasku sambil tetap melanjutkan langkah.
“Aku tidak tahu, racun yang aku terima akhir-akhir ini masih membahayakan tubuhku atau tidak. Bagaimana bisa, aku memiliki saudara yang sama sekali tidak perhatian dengan kesehatan saudarinya sendiri. Padahal, aku melakukan semua ini untuk mereka juga,” sambungku diikuti helaan napas yang keluar, “padahal hanya kelapa. Hanya kelapa, tapi mereka enggan sekali untuk mengambilkannya.”
“Berhenti menggerutu! Aku akan mengambilkan sebanyak apa pun yang kau ingi-”
Aku berbalik saat perkataan Izumi berhenti diikuti suara seperti benda terjatuh. Aku mengikuti pandangan mereka semua yang mengarah kepada Hayle, yang telah kembali beranjak lalu berjalan ke arahku dengan sebutir buah kelapa di tangannya. “Terima kasih, Hayle. Kau benar-benar menolongku,” ungkapku sambil mengusap permukaan buah kelapa yang ia berikan kepadaku.
“Nii-chan!” panggilku, aku berbalik menatap Izumi dengan tersenyum sambil mengarahkan buah kelapa yang masih berwarna hijau tersebut kepadanya.
Izumi berjalan lalu meraih buah kelapa tersebut sebelum berjongkok dengan mengeluarkan sebuah kapak yang ia dapatkan dari salah satu penduduk desa. “Apa terjadi sesuatu kepadamu? Kenapa, kau akhir-akhir ini seringkali bersikap menjengkelkan,” tukas Izumi, dengan tangannya yang masih bergerak mengupas kelapa yang aku berikan.
“Karena membuat jengkel kakakku, memberikan semangat untukku di hutan. Cepatlah nii-chan, mereka menunggu kita!”
“Menurutmu, ini semua perbuatan siapa? Ini semua karena kelakuanmu yang menghambat perjala-”
Aku menutup mulut Izumi menggunakan telapak tangan, diikuti kedua mataku yang melirik ke sebelah kanan. “Apa ini karena aku meminta Kou untuk memperkuat sihirnya? Sesuatu mendekat,” bisikku pelan dengan kembali beranjak berdiri.
“Kou, perintahkan para Manticore ke sini! Aku, ingin mengajak mereka berburu bersama,” sambungku bergumam dengan melemparkan pandangan mata ke sekitar.
__ADS_1