
Raja Bagaskara kembali mundur beberapa langkah ke belakang, tampak terlihat seorang laki-laki berjubah putih berjalan mendekati mereka. Laki-laki berjubah putih tadi berdiri di samping Danurdara yang kembali tertunduk...
Menoleh laki-laki tadi seraya mengangguk ia ke arah Raja Bagaskara yang kembali berjalan mendekati seakan membalas anggukan dari laki-laki itu.
Berdiri Raja Bagaskara di sampingnya, laki-laki tadi menggerakkan kepalanya menatap Ajeng yang juga berdiri tak terlalu jauh dari mereka, kutatap Ajeng yang telah berjalan mendekati laki-laki berjubah putih tersebut.
Laki-laki itu memasukkan tangannya ke dalam jubahnya, lama kutatap dia yang seakan berusaha meraih sesuatu di dalamnya. Sebuah buku kecil bersampul hitam ikut keluar mengikuti keluarnya tangan laki-laki tadi dari dalam jubah...
Menunduk laki-laki itu seraya kedua tangannya membuka buku kecil tadi, sebuah kata-kata asing keluar keras dari bibirnya. Kuarahkan pandanganku pada sebelah tangannya yang telah terangkat ke arah Danurdara berserta Wasfiah...
Lama laki-laki tadi merapal kata-kata tersebut, kualihkan pandanganku pada beberapa orang dewasa termasuk Ayahku yang tertunduk mengarahkan pandangan mereka ke bawah...
Kata-kata asing yang di ucapkan laki-laki tadi terhenti, pandangan mataku masih teralihkan pada mereka di sekitar yang telah mengangkat kembali kepala mereka. Kugerakkan kepalaku kembali menatap laki-laki berjubah putih tadi...
Tampak laki-laki tersebut memundurkan langkahnya ke belakang beberapa langkah diikuti majunya Raja Bagaskara berdiri di tempat laki-laki tadi berdiri sebelumnya. Kualihkan pandanganku pada Ajeng yang telah memegang sebuah mangkuk kecil berlapis emas di tangannya...
__ADS_1
Berbalik Raja Bagaskara meraih mangkuk kecil yang ada di tangan Ajeng tadi, melangkah ia mendekati Wasfiah seraya berdiri Raja Bagaskara tadi di sampingnya. Kutatap Raja Bagaskara yang mengangkat sebuah kuas dari mangkuk emas yang ada di tangannya tadi.
Diarahkannya kuas tersebut ke kepala Wasfiah yang dipenuhi hiasan kepala berlapis emas tersebut. Raja Bagaskara kembali meletakkan kuas tersebut ke dalam mangkuk seraya berjalan kembali ia mendekati Danurdara.
Raja Bagaskara kembali melakukan seperti apa yang ia lakukan pada Wasfiah sebelumnya, digerakkannya tangannya meraih kuas yang ada di dalam mangkuk emas tadi. Dengan sedikit menunduk kuas yang ada ditangannya tadi bergerak pelan menepuk-nepuk kepala Danurdara yang tertunduk.
Raja Bagaskara kembali beranjak berdiri seraya berbalik ia dengan kedua tangannya tergerak meletakkan mangkuk emas tadi kembali kepada Ajeng yang telah mengangkat kedua telapak tangannya di samping Raja Bagaskara.
Ajeng berlutut meletakkan mangkuk emas tadi di dekat kakinya seraya tangannya meraih sebuah gelas berlapis emas yang terletak tak jauh dari nampan berisi nasi berserta ayam panggang tadi. Beranjak Ajeng berdiri seraya berbalik ia memberikan gelas tadi kepada Raja Bagaskara, kembali berlutut Ajeng dengan meraih dan mengangkat nampan berisi nasi kuning tadi di tangannya...
Sedikit membungkuk ia seraya tangannya bergerak menyuapi Wasfiah dengan nasi kuning bercampur ayam panggang tadi di tangannya. Digerakkannya gelas yang ada di sebelah tangannya yang lain tadi ke arah Wasfiah, kuarahkan pandanganku pada Wasfiah yang telah mengarahkan bibirnya mendekati pinggir gelas tadi lalu meminumnya...
Bergerak Raja Bagaskara mendekati Danurdara, kutatap dia yang kembali melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Wasfiah sebelumnya. Raja Bagaskara kembali mundur beberapa langkah, kualihkan pandanganku pada laki-laki berjubah putih tadi yang berjalan maju mendekati Danurdara dan Wasfiah yang masih duduk tertunduk...
Laki-laki berjubah putih tersebut kembali merapalkan kata-kata yang sangat asing terdengar di telinga. Kembali dan kembali, para orang-orang dewasa ikut tertunduk ketika aku mengarahkan pandangan ke sekitar...
__ADS_1
"Semoga Deus menjaga mereka," tubuhku sedikit tertegun saat kata-kata tersebut terucap ramai bersamaan ketika laki-laki tadi menghentikan ucapannya.
Kualihkan kembali pandanganku kepada dua orang Kesatria membawa tombak dan satu Kesatria membawa sebuah payung besar bertongkat tinggi. Ketiga Kesatria tadi berjalan mendekat, ikut kulangkahkan kakiku berserta Julissa yang juga berjalan mendekati Danurdara dan Wasfiah.
Kutatap Ajeng yang telah membantu Wasfiah berdiri, bergerak aku dan Julissa berdiri membelakangi mereka. Kulangkahkan kakiku bersama Julissa saat terdengar sedikit suara yang dikeluarkan oleh Ajeng sebelumnya...
Berjalan aku mendekati sebuah nampan emas dengan hamparan kelopak-kelopak bunga terletak di tengah-tengah ruangan. Kuhentikan langkah kakiku berdiri membelakangi nampan emas yang ada di lantai tadi...
Berbalik aku kembali menatap Wasfiah seraya kulangkahkan kakiku mendekatinya, kuarahkan telapak tanganku memegang lengannya dengan Julissa melakukan hal yang sama di lengannya yang lain...
Maju kami beberapa langkah seraya mengandeng Wasfiah dengan pelan berdiri di atas nampan emas terisi penuh kelopak bunga itu. Kulepaskan genggaman tanganku pada Wasfiah seraya berlutut aku dihadapannya...
Kugerakkan tanganku meraih kuku-kuku emas yang tersusun di samping bagian dalam nampan tadi, kuarahkan satu persatu kuku tersebut menempel di kuku jari Wasfiah...
Dadaku ikut bergerumuh, keringatku terasa semakin deras keluar tatkala jari-jariku ikut bergerak memasangkan kuku emas tersebut di jari-jari Wasfiah. Kugenggam dengan lembut pergelangan tangannya seakan mencoba untuk menenangkan tangannya yang sedikit bergetar itu...
__ADS_1
Apa aku juga akan merasakan kegugupan yang sama? Saat aku menikah dengan seseorang kelak.