
"Apa yang kau katakan itu benar?" Suara laki-laki tiba-tiba terdengar.
Seorang laki-laki berpostur tinggi dengan tubuh yang tegap, berjalan ke arah kami, "tentu, apa yang aku katakan ini benar," Haruki menjawab pertanyaan dari laki-laki tadi.
"Baiklah, aku akan membunuh laki-laki itu," ungkap laki-laki tersebut, dia berjalan mendekati kereta yang terbalik tadi, kutatap sebelah tangannya yang menarik pedang dari pinggangnya.
"Apa yang dia lakukan?"
"Apa dia telah kehilangan akal?"
"Apa dia bersungguh-sungguh ingin membunuh Raja kita?"
"Bukankah, kita harus menolong Yang Mulia?"
"Tutup mulut kalian!" Laki-laki itu berteriak keras, bisikan-bisikan yang samar terdengar sebelumnya tiba-tiba menghening.
"Apa kalian lupa? Apa yang diperbuat laki-laki ini ke keluarga kalian?!" Laki-laki itu kembali meninggikan suaranya, kali ini lebih kuat terdengar dibanding sebelumnya.
"Aku tak peduli status Raja, asalkan aku dapat membunuhnya dengan tanganku sendiri," ucap laki-laki tersebut berjalan semakin mendekati kereta, "apa yang kau lakukan? Aku Raja kalian!" Teriakan Raja tersebut semakin kuat terdengar, tubuhnya yang tambun itu berusaha merangkak keluar dari dalam kereta.
"Apa kau ingat? Saat aku meminta bantuanmu untuk kesembuhan Ayahku wahai Paman?" Laki-laki itu mengucapkannya dengan lantang, pedang yang ada di tangannya berayun kuat memotong telinga Raja tambun tersebut.
Jeritan kesakitan yang dikeluarkan oleh Raja tersebut terdengar memekakkan telinga, aku sedikit melirik ke arah Sasithorn yang membenamkan wajahnya di punggung Izumi diikuti sebelah telapak tangan Izumi menyentuh kepalanya.
Laki-laki tersebut menarik rambut Raja tersebut hingga kepalanya mendongak ke atas, "apa kau ingat Paman? Kau meludahiku saat aku meminta sedikit obat-obatan yang kau punya di Kerajaan?!" Laki-laki itu kembali bersuara, pedangnya yang sedikit berlumuran darah itu berayun kuat memotong bibir sang Raja.
"Aku telah selesai melakukannya," ucap laki-laki tersebut, dia berjalan dengan sebelah kakinya menginjak kepala Raja tersebut.
__ADS_1
"Tapi kau belum memotong kepalanya," ucap Haruki membalas tatapan laki-laki itu, "aku memberikan mereka kesempatan untuk mereka melakukannya," sambung laki-laki tersebut, kedua matanya melirik ke arah beberapa Kesatria yang telah menggenggam pedang di masing-masing tangan mereka.
"Namamu?" Tanya Haruki padanya, digerakkannya kuda yang ia tunggangi berjalan menjauhi kereta.
"Apa itu penting?" Laki-laki tersebut balik bertanya, kepalanya sedikit tertunduk dengan kedua matanya melirik ke arah Haruki, "Jika Raja mati, perjanjian di antara kalian dan juga dia harusnya berakhir bukan?" Sambungnya, Haruki menghentikan kembali kudanya lalu berbalik menatap laki-laki tersebut.
"Apa kau pikir, kau dapat membodohiku?" Ungkap Haruki kepadanya, "aku memerintah kalian untuk membunuhnya, bukan tanpa alasan. Gritav! Telingaku berdenging, tutup mulut Raja menjijikan itu!" Perintah Haruki, Gritav menggerakkan kudanya berjalan ke atas kereta yang terbalik tadi. Kedua kaki depan kuda milik Gritav terangkat ke atas lalu menghantam kuat kepala Raja yang sebelumnya tak berhenti meringis kesakitan.
Berkali-kali kaki kuda milik Gritav menginjak kepala Raja tersebut, percikan darah tampak sesekali terlihat hingga bercaknya ada yang menempel di kaki kuda yang Gritav tunggangi. Kuda milik Gritav kembali melangkahkan kakinya menjauhi kereta saat Raja tersebut berhenti bergerak.
"Aku mendengarmu memanggilnya Paman, apakah Raja menjijikan itu Pamanmu?" Tanya Haruki kembali ke arah laki-laki tersebut, "apa kau ingin mengabaikanku?" Sambung Haruki kembali padanya.
"Keluargaku..."
"Aku tidak memiliki banyak waktu untuk mendengarkan kisah keluarga kalian. Hanya jawab, iya atau tidak?" Ungkap Haruki memotong perkataan laki-laki tersebut.
"Dari awal, aku memang ingin menjadikanmu Raja, Sanjiv," ucap Haruki, laki-laki tersebut mengangkat kepalanya diikuti kedua matanya yang sedikit membesar, "darimana? Darimana kau bisa mengetahui namaku?" Tanyanya kepada Haruki.
"Aku, bisa mendapatkan informasi apapun yang aku inginkan. Asal kau tahu, aku sengaja menunggu laki-laki ini melakukan kesalahan untuk memancing kemarahanmu," ungkap Haruki, tampak terlihat ujung bibirnya menyunggingkan senyuman.
"Karena jika aku langsung membunuh Raja menjijikan itu, kalian termasuk dirimu tidak akan mengikutiku."
"Apa kau bodoh? Bagaimana kau bisa mengatakan hal tersebut secara terang-terangan kepada kami," ucapnya menjawab perkataan Haruki.
"Kalian, tidak punya banyak pilihan selain mengikutiku," Haruki menggerakkan kudanya berjalan mendekati laki-laki itu.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Maksudnya, kalian telah jatuh di jebakan yang aku buat," aku membuka suara, kubalas tatapan laki-laki tersebut yang mengarahkan pandangannya kepadaku.
"Apa maksudnya?"
"Aku, akan menjelaskan semuanya dari awal. Adik perempuan Pangeran Miron, Putri Julissa adalah teman baikku. Kemampuan Putri Julissa dalam mengorek setiap informasi tak perlu diragukan lagi, dan salah satu informasi yang ia berikan adalah ... Bagaimana buruknya, hubungan di antara Raja dan keponakannya, yang aku maksudkan itu adalah kalian."
"Kakakku ingin Raja tersebut hidup, tapi aku ... Menginginkan, Raja yang menjadi Pamanmu itu mati. Karena aku, tak ingin mengambil risiko untuk mempertahankan Raja tamak seperti dia untuk berlama-lama berkerja sama dengan kami," ucapku kembali pada laki-laki tersebut.
"Setelah aku membaca surat yang dikirimkan Julissa untuk Kakakku semalam, aku ... Mengubah sedikit rencana yang telah kupersiapkan."
"Mendaki bukit ini, bukanlah jalan tercepat untuk sampai ke Ibukota Kerajaan Tao, aku hanya meminta mereka untuk memperlambat waktu perjalanan selama mungkin. Karena manusia seperti Pamanmu, akan langsung menunjukan sifat menjijikan mereka saat mereka diharuskan berada pada posisi menunggu yang membosankan."
"Kenapa Kakakku hanya menghancurkan kereta dan tidak langsung membunuh pamanmu, melainkan meminta para Kesatria untuk langsung mengeksekusinya sendiri. Apa kau tidak memikirkan hal itu?"
"Aku ingin, keponakannya yang menyimpan dendam untuk melakukannya, dan kau ... Jatuh di dalam jebakan yang aku buat Sanjiv," ucapku tersenyum menatapnya.
"Aku tidak mengerti, apa untungnya kalian melakukan itu padaku," ucapnya membalas perkataanku.
"Priya," ucapku, kutatap kedua matanya yang sedikit membesar menatapku, "adik perempuanmu yang tiba-tiba menghilang saat usianya menginjak delapan tahun, namanya Priya. Aku benar bukan?"
"Apa kau tahu, kejahatan paling menjijikan yang dilakukan oleh laki-laki tersebut. Dia menjual anak-anak perempuan dari Kerajaan kalian untuk dijadikan budak hasrat ke para laki-laki di luar sana."
"Dia juga membohongi Kekaisaran dengan mengatakan bahwa anak-anak perempuan dari Kerajaan kalian tak pernah memiliki umur yang panjang untuk kepentingan pribadi dirinya sendiri. Jujur, aku juga tidak menyukai aturan Kekaisaran mengenai pertunangan ... Tapi bukan berarti, dia dapat dengan mudahnya menjual hidup para anak perempuan itu, untuk kekayaan yang ia miliki."
"Lalu, apa hubungannya dengan Priya? Apa hubungannya dengan Adikku?"
"Priya, dijual Pamanmu ke salah satu bangsawan Kerajaan Tao. Jika Tao hancur, kau sendiri dapat bertemu dengan Adikmu..."
__ADS_1
"Seorang Kapten, akan membawa seluruh pasukannya untuk membantu kami secara sukarela bukan? Karena jika kalian menerima semuanya tanpa paksaan, aku ... Akan sangat mudah mengendalikan pasukan, dibandingkan dengan menggunakan perjanjian yang dapat hancur sewaktu-waktu," sambungku, aku sedikit tersenyum kecil saat dia mengangkat kepalanya menatapku.