Fake Princess

Fake Princess
Takaoka Haruki (Side Story') V


__ADS_3

“Apa yang kalian berdua lakukan di sini?” Tanyaku kepada Izumi yang telah berdiri bersandar pada dinding dengan Sasithorn di sampingnya.


“Dia membutuhkan air untuk mengompres Sachi, karena itu aku menemaninya ke sini. Dan juga, seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepada kalian,” ucap Izumi, aku melirik ke arah Luana yang tertunduk dengan memeluk erat mangkuk berisi air dan juga handuk di dadanya.


Kugerakan sebelah tanganku menepuk pelan punggungnya, “pergilah bersama Sasithorn, aku dan Izumi akan menyusul kalian,” ucapku yang dibalas dengan anggukan kepalanya.


Aku berdiri di hadapan Izumi dengan kedua tanganku bersilang di dada, “apakah, kau melihat semuanya?” Tanyaku kepadanya, Izumi menggerakan kepalanya memutari ruangan berusaha menghindari pertanyaanku.


“Izumi,” ucapku kembali padanya, “jadi kau telah memutuskan pilihanmu?” Ungkapnya seraya bergerak melangkahkan kaki meninggalkanku. “Saat dia mengatakan, semua yang dia rasakan atas semua perlakuan yang aku lakukan padanya, sedikit membuatku tersadar. Aku memikirkan, bagaimana jika Adikku diperlakukan seperti itu oleh pasangannya,” ucapku ikut melangkahkan kaki di sampingnya.


“Karena itu, kau memutuskan untuk menikah dengannya?”


‘Bagaimana denganmu sendiri? Bukankah hal yang sama kau lakukan pada Sasithorn?”


“Aku, tidak menyentuhnya seperti apa yang kau lakukan,” ucapnya menatap lurus ke depan.


“Aku pun menyentuhnya karena dia pasanganku. Apa salahnya menyentuh pasangan sendiri,” ucapku menimpali perkataanya.


“Lalu? Bagaimana jika Zeki memiliki jalan pikiran yang sama denganmu?”


“Maka aku akan langsung membunuhnya saat itu juga,” ucapku menghentikan langkah kakiku sejenak sebelum kembali berjalan di samping Izumi.


“Aku benar-benar tidak dapat menebak jalan pikiranmu Haruki,” ucapnya, kugerakan kaki kananku menendang kuat tubuhnya saat dia mengucapkannya. “Panggil aku Kakak! Panggil aku kakak seperti dulu,” ucapku kembali menerjang tubuhnya berulang-ulang.

__ADS_1


“Apa kau ingin memulai permusuhan yang kita lakukan semasa kecil dulu?” Tanyanya bergerak mendekatiku.


“Aku tidak mempermasalahkannya jika kau ingin melakukannya,” ungkapku yang dibalas dengan helaan napas darinya.


“Walau pun keakraban kita semasa kecil hanya sebatas pura-pura di hadapan Sachi, tapi aku … Sungguh-sungguh merasa sangat bahagia memiliki Kakak sepertimu, Haruki,” ungkapnya tertunduk, kuangkat sebelah tanganku mengusap-usap kepalanya.


“Apa kau membicarakan hari di mana Ayah memohon kepada kita untuk makan malam bersamanya saat ulang tahun ketiga Sachi?” Aku kembali bertanya padanya, Izumi menganggukan kepalanya membalas perkataanku.


“Aku benar-benar tidak menyangka jika kita akan seperti ini setelah kejadian tersebut,” ucap Izumi lagi padaku, “maafkan aku, Izumi. Karena sempat membencimu atas perbuatan yang tidak kau lakukan. Aku, hanya sedikit iri kepadamu,” ucapku kepadanya.


“Jika aku berada di posisimu, Kakak. Maka aku pun akan melakukan hal yang sama, karena sampai sekarang aku masih merasa bersalah karena menjadi penyebab kematian Ibu kita,” ungkapnya lagi kepadaku.


“Izumi, kita akan memulai hidup yang baru setelah ini berakhir. Jadi, angkat kepalamu! Kita, pasti bisa melakukannya.” Ucapku mengepalkan tangan lalu memukulkannya pelan ke dada Izumi.


Aku berjalan masuk, kedua kakiku segera berjalan cepat mendekati Sachi yang tertidur pulas di ranjangnya, “apa dia masih tak sadarkan diri?” Tanyaku kepada Lux yang tengah memberikan madu ke arah Uki.


“Dia perlu banyak beristirahat. Aku sedikit mengakui kekuatan tubuhnya, karena dia baru tak sadarkan diri setelah beberapa saat menerima serangan tersebut,” ucap Lux tanpa menoleh ke arahku.


“Kalian pergilah beristirahat, biar aku saja yang menjaga Sachi,” ucapku menarik salah satu kursi lalu mendudukinya. “Aku akan menemanimu. Sasithorn, bawa Uki dan Lux bersama kalian ke kamar, biar kami saja yang menjaganya,” ucap Izumi kembali terdengar.


“Aku yang akan menjaganya, jadi beristirahatlah, Haruki,” suara Izumi kembali terdengar saat terdengar suara pintu yang menyusul perkataannya. “Aku belum lelah, jika kau Lelah … Beristirahatlah,” ucapku tanpa menoleh ke arahnya.


“Apa hari ini kau dimarah habis-habisan oleh Ayah?” Tanyanya yang terdengar di telinga, aku mengangguk pelan membalas perkataannya, “apa kau juga mengalaminya?” Aku balik bertanya kepadanya.

__ADS_1


“Ayah memarahiku habis-habisan, dia mengatakan jika apa yang kita lakukan dapat membahayakan nyawa kita sendiri terutama Sachi.”


“Apa yang dikatakan Ayah memang benar adanya, tapi bukan berarti kita akan berdiam diri jika terjadi apa-apa pada Sachi,’ ucapku kembali menimpali perkataan Izumi. “Aku, selalu memikirkan yang mana baik dan buruknya sebelum mengajak kalian mengunjungi setiap tempat. Aku, selalu mencari infotmasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk mengajak kalian ke sana. Menyakitkan sekali rasanya jika Ayah mengatakan hal tersebut tadi kepadaku,” ungkapku menyandarkan diri di kursi.


“Lagi pun, apa yang dilakukan Ayah di sini? Aku sudah katakan dan bahkan Sachi juga telah mengatakannya jika ada seseorang yang tak bisa dipercaya di Kerajaan,” ucapku kembali seraya kuarahkan kepalaku mendongak ke atas.


“Ayah menitipkan urusan Kerajaan kepada Daisuke dan beberapa wakil kapten. Ayah terpaksa melakukannya, jika Kekaisaran ingin mencari dalang di balik penyerangan Kerajaan Tao, maka Kekaisaran akan mengalihkan pandangannya kepada Sora yang telah melakukannya,” ucap Izumi kembali terdengar di telingaku.


“Jadi, dengan kata lain, Ayah ingin menanggung semuanya. Lagi-lagi, untuk keselamatan kita bukan?” Aku kembali bersuara dengan memejamkan mata perlahan.


“Seperti itulah,” ungkapnya terdengar di telingaku.


“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan kepadamu Izumi,” ucapku sambil terus memejamkan mata.


“Apa yang ingin kau tanyakan?” Dia berbalik bertanya padaku.


“Jika nanti kau bertemu dengan suku yang matanya sama sepertimu, lalu mereka mendukung penuh Kekaisaran. Apa yang akan kau lakukan?”


“Apa kau akan membantai habis mereka jika mereka tidak mau tunduk kepada kita? Atau, kau akan membiarkan mereka hidup sesuai kehidupannya?” Aku kembali mengeluarkan suaraku diikuti telapak tanganku menutupi mulutku yang sedikit menguap.


“Aku, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi melihat Cia, aku pikir mereka suku yang baik,” ucapnya kembali, “suku yang baik?”


“Suku bukanlah terdiri dari satu orang saja melainkan banyak sekali orang, sama seperti manusia pada umumnya … Ada yang jahat, ada yang baik, ada yang hanya menuruti apa yang diperintahan pemimpin dan ada yang memberontak,” sambungku lagi padanya, “jadi karena itu Izumi, jika saja suku tersebut memperlambat kita … Maka, aku … Tidak akan ragu untuk memusnahkan mereka semua…”

__ADS_1


“Jadi Izumi, kumohon jangan membenciku ketika aku melakukannya,” sambungku kembali kepadanya yang masih terdiam tanpa suara yang terdengar.


__ADS_2