Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLV


__ADS_3

Dia berjalan sedikit mundur dengan menggenggam erat tanganku, “kita pulang,” ucapnya sembari berbalik dengan menarik tanganku itu.


Aku melangkah di belakangnya, suaraku enggan sekali untuk keluar saat dia pun … Sama sekali, tak menoleh ke arahku. Langkah kaki kami berdua, semakin berjalan mendekati sebuah gapura yang terbuat dari lilitan akar. Kuarahkan pandangan mataku ke sekitar, saat cahaya yang sebelumnya sempat menyilaukan mata. Telah berubah, menjadi halaman Istana Aleksy … Tempat, di mana pohon yang menjadi jalan masuk sebelumnya tumbuh.


“Kau ingin membawaku ke mana, Zeki?”


“Mencari mereka semua, mungkin mereka telah keluar dari Istana ini,” jawab Zeki yang terus berjalan tanpa sedikit pun menoleh.


Aku berjalan dengan sesekali melirik ke arah tatapannya yang tak bergeming, hanya menatap ke depan. Langkah kaki kami berhenti, ketika suara tangisan dari perempuan terdengar, “apa yang kau maksudkan, Kak? Apa maksudnya, jika kami tidak jadi menikah? Omong kosong macam apa yang kalian katakan?!”


Zeki menarik tanganku saat aku hendak berjalan mendekati Aniela yang duduk menangis dengan menundukkan wajahnya. “Jika Ayahku tidak mengizinkan, setidaknya … Kumohon bawa aku pergi dari sini. Aku, tidak sanggup berpisah dengannya lagi,” tangis Aniela sambil bersujud di hadapan kedua kakakku.


Aku mengarahkan pandangan ke sekitar, pandangan mataku hanya terjatuh kepada mereka bertiga dengan Duke yang berdiri sedikit jauh dari mereka. “Kumohon, kakak. Kumohon … Karena hanya Eneas, yang selalu aku pikirkan selama aku-”


Dia menempelkan keningnya di punggung tangan Haruki, diikuti tangisannya yang kian menguat dari sebelumnya. “Kak Sachi, kak Sachi,” Aniela merangkak mendekati, ketika matanya sempat melirik ke arahku.


“Kakak, itu tidak benar, bukan? Apa yang mereka katakan, itu bohong, bukan? Aku, akan tetap menikah dengan Eneas, kan?” tukasnya bertubi-tubi dengan menatapku menggunakan kedua matanya yang memerah.


“An-”


“Salahkan Ayahmu yang terlalu serakah, salahkan Ayahmu yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Lagi pun, jika kami tidak mengajakmu pergi. Kau, masih memiliki anggota tubuhmu untuk pergi dari sini,” ucap Zeki, dia menarik tanganku sebelum aku sempat mengatakan apa pun.


“Apa yang kau lakukan, Zeki? Kenapa, kau mengatakan hal tersebut kepadanya?”


“Lalu apa yang harus aku katakan? Aku menyerahkan tunanganku hanya agar mereka menikah? Demi apa pun, aku tidak akan melakukannya,” ungkapnya sambil berbalik dan berdiri di hadapanku.


“Dia, sama sepertimu-”

__ADS_1


“Jangan samakan aku dengan siapa pun! Dia, tidak merasakan bagaimana orang yang ia cintai mati, di depan matanya sendiri tanpa dia sempat untuk menyelamatkan-”


“Jangan samakan aku, dengan mereka yang hanya mengandalkan aliran kehidupan, tanpa berniat untuk mengubahnya. Sudah banyak sekali kejadian yang berubah, aku … Hanya akan memikirkanmu. Aku tidak peduli apa pun. Jika itu tidak menyangkut apa pun tentangmu … Aku, tidak pernah peduli,” sambungnya, dia kembali berbalik dengan menarik tanganku mengikutinya.


_____________.


Semenjak kami keluar dari Istana, Zeki masih menutup rapat mulutnya. Sesekali, aku melirik ke luar jendela, menatapnya yang menunggangi kuda di samping kereta yang aku tumpangi. “Jadi Julissa, ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku sambil melirik ke arah Julissa yang duduk di sampingku.


“Aku pun, tidak terlalu paham. Karena, tiba-tiba saja, aku dipinta untuk segera pergi meninggalkan istana tersebut. Saat kami hendak berjalan keluar, Putri Aniela menangis dengan berlutut pada kedua kakakmu.”


“Kak Haruki, memerintahkan Eneas dan juga Ryuzaki berserta kami semua untuk meninggalkan mereka. Selebihnya, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka.”


“Apa Kakakku, mengatakan sesuatu padamu?” tanyaku kembali yang membuat kening Julissa mengerut.


“Aku, hanya mendengarnya sekilas. Namun, dari yang mereka bicarakan … Maksudku Adinata dan juga kakakmu, kalian akan ikut bersama kami menumpang di kapal milik Aydin,” ucap Julissa lagi sambil diikuti kedua matanya yang mengarah ke depan.


_____________.


Aku, benar-benar tidak mengerti apa itu takdir. Apa takdir itu, merupakan suatu timpal balik dari apa yang kita lakukan? Atau malah-


Kepalaku tertunduk diikuti pandangan mataku yang tiba-tiba menggelap. Aku mengangkat kembali kepalaku itu sambil kuangkat telapak tanganku memundurkan kain yang menutupi wajahku itu, “jangan membuatku kaget,” ucapku sambil menatap kepadanya yang telah berdiri di samping.


“Pakailah jubah itu, angin laut … Tidaklah bagus untukmu,” jawabnya, dia melangkah maju, meraih jubah yang ia letakkan di atas kepalaku sebelumnya, lalu mengenakan jubah tersebut kepadaku.


“Apa kau, masih memikirkan Putri itu?”


Kepalaku menggeleng pelan sambil melempar pandangan ke arah permukaan air laut, “aku, hanya tidak mengerti. Zeki, aku tahu jika kau tidaklah ingin membahas ini. Namun … Apa hubungan kita dulu, berakhir baik?”

__ADS_1


“Dulu, yang mana, yang kau maksudkan? Saat aku bersikap bodoh dengan membiarkanmu menikahi laki-laki lain? Saat aku, menemukan tubuhmu sudah tak bernyawa oleh para laki-laki yang ingin mengambil kekuatan matamu? Atau, saat tubuhmu hanya bersisa kaki saja oleh Naga sialan milik Kaisar?”


“Aku sudah mengatakannya, aku … Tidak ingin membahas ini-”


“Lalu, jika benar-benar ingin kita berakhir bersama … Kenapa, kau tidak mencoba untuk menghentikanku melakukannya?” tukasku memotong perkataannya.


“Karena setiap kehidupan, semuanya berubah … Aku bertahan, hanya dengan harapan semuanya berakhir baik. Mau menyembunyikanmu dari Kaisar pun percuma. Karena itulah, melawan Kaisar adalah hal yang terbaik.”


“Miyuki Sakura,” ucap Zeki lagi, kedua mataku seketika membelalak saat nama itu keluar darinya, “saat kau tidak terlahir sebagai Takaoka Sachi, aku … Akan tetap menemukanmu,” sambungnya berjalan maju dengan memeluk erat tubuhku.


“Ba- Bagaimana, kau bisa-”


“Aku mengenal seorang perempuan. Perempuan itu ataupun Ryu, tidak akan bisa melakukan sihir terlarang itu tanpaku … Kau, haruslah sangat tulus mencintainya jika ingin menemukan jiwa seseorang.”


“Aku, tidak mengerti semua ini. Aku menikahi laki-laki lain, tapi siapa? Aku mengingat kehidupanku yang dulu, namun aku sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi di sini.”


“Apa kau, mengingat piano yang ada di Istanaku?”


“Piano itu, milik seorang perempuan. Aku tidak tahu, bagaimana benda itu berakhir di Yadgar … Saat itu, aku berhasil menguasai Yadgar seperti sekarang. Namun, walau kita bertunangan, aku sama sekali tidak memiliki pikiran untuk menikah denganmu. Hingga seorang perempuan datang, dia memintaku memberikannya izin untuk memainkan benda yang kau sebut piano itu, jika aku memberikannya izin … Dia, akan memberitahukan aku bagaimana aku dapat meraih kebahagiaan.”


“Lalu?” tanyaku penasaran.


“Dia memintaku untuk membawa kembali cucu perempuannya.”


“Aku, benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.”


Pelukan Zeki terlepas, bergantikan dengan tangannya yang menggenggam erat telapak tanganku, “kemarilah, aku akan menceritakan apa yang terjadi … Namun, bukan di sini,” ucapnya sambil menarik tanganku mengikutinya.

__ADS_1


__ADS_2