
“My Lord … My Lord.”
Suara bisikan dari Kou yang mengusik, perlahan menyadarkan aku dari tidur. “Mereka telah datang,” tukasnya kembali saat aku mencoba untuk mengangkat kepala.
Aku mengikuti arah tatapannya, kuangkat sebelah tanganku melambai ke arah mereka berlima yang berlari mendekat. Lama aku menatap mereka, yang tampak terengah-engah ketika telah menghentikan langkah di depanku. “Kau memanggil Kou?” tanya Izumi sebelum akhirnya dia duduk di hadapanku.
Aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Izumi, “me-”
“Di mana kakak dan juga Vartan?” ucapan Lucio menghentikan apa yang aku katakan.
“Mereka melarikan diri, dengan perahu dan juga semua perlengkapan yang kita tinggalkan kemarin,” tukasku yang kembali menyandarkan diri di Kou.
“Itu tidak mungkin, mereka hanya bertiga. Mereka-”
“Mereka membawa salah satu perahu lalu menghancurkan perahu lainnya. Apa kau tidak sadar dengan puing-puing papan di dekatmu itu?!” bentakku yang langsung membuatnya terdiam.
“Naiklah! Hewan milikku ini, akan mengantarkan kita pulang,” ucapku beranjak berdiri menatapi mereka.
Tubuhku terangkat ke atas saat Kou melilitkan ekornya di sekitar dadaku, sebelum akhirnya aku duduk di punggungnya. “Karena, punggungnya tidak cukup untuk kita berenam, kemungkinan dia akan membawa kalian dengan cakar mereka. Jangan terlalu banyak bergerak selama perjalanan, atau cakar tajam miliknya akan menembus tubuh kalian. Apa kalian berdua mengerti?” sambungku sambil melirik ke arah Fabian dan juga Lucio yang menanggapi perkataanku dengan anggukan kepala.
“Lalu, setelah kita sampai … Aku pinta, kalian melupakan jika telah bertemu dengannya. Anggap, kalian tidak pernah melihatnya. Jika kalian mengkhianati apa yang aku katakan, aku akan membekukan Robson dalam semalam. Apa kalian paham?” Aku menghela napas pelan saat mereka kembali menganggukkan kepala.
__ADS_1
Pandanganku kembali bergerak menatapi leher Kou, aku memeluk lehernya saat kepakan sayapnya, terasa kuat mengempaskan beberapa puing papan yang ada di tanah. Semakin Kou terbang meninggi, semakin kuat pula terdengar suara jeritan laki-laki berasal dari bawah. “Kou, apa kau ingat hutan yang ada di sudut kota? Hutan yang aku kunjungi beberapa hari yang lalu? Bawa kami semua ke sana, lalu setelahnya … Kau bisa kembali,” bisikku sambil mempererat pelukanku di lehernya.
“Diamlah kalian berdua! Kalau kalian berteriak sekuat itu, kalian akan membuat curiga mereka yang ada di bawah. Makhluk ini, tidak akan segan-segan melemparkan kalian ke daratan kalau saja apa yang kalian lakukan membahayakan majikannya!”
Aku mencoba menoleh ke belakang, saat bentakan Izumi menutup mulut mereka berdua. Tatapan mataku kembali mengarah ke depan, ketika kepakan sayap Kou … Semakin kuat membelah udara. Kou memperlambat kepakan sayapnya, ia sempat berhenti sejenak di udara sebelum kembali terbang maju melewati sebuah benteng besar.
Dengan perlahan, tubuh Kou semakin turun mendekati tanah sebelum akhirnya … Suara benda terjatuh mengikuti kepakan sayapnya. Aku menoleh ke samping, menatapi Fabian dan juga Lucio yang tengah berguling di tanah sebelum kembali beranjak berdiri. Pandangan mataku teralihkan, saat Kou kembali mengangkat tubuhku lalu dengan perlahan menurunkannya kembali di samping tubuhnya.
Aku mengangkat kepalaku, ketika Kou kembali mengepakkan sayapnya, lalu terbang ke atas menjauhi kami. “Hewan apa itu, menakjubkan sekali. Di mana, kau bisa mendapatkannya?” ungkap suara laki-laki yang mengalihkan perhatianku.
“Kau, harus memiliki hati yang tulus untuk mendapatkannya. Hewan, yang memilih sendiri Tuannya, bukan sebaliknya,” jawabku, Lucio terlihat tertegun saat aku tersenyum membalas tatapannya.
“Kalian, dapat tinggal di rumah kami beberapa waktu. Setidaknya, kalian dapat membersihkan tubuh atau mengisi perut kalian di sana. Anggap saja, ini sebagai ucapan terima kasih dari kami,” tukas Lucio, dia memotong perkataanku sebelum berbalik lalu melangkahkan kakinya menjauhi kami.
“Kakakku benar. Datanglah ke rumah kami, kami akan sangat berterima kasih jika kalian dapat mampir ke rumah kami walau sebentar,” sambung Fabian menimpali perkataan kakaknya.
_______________.
Cukup lama kami berjalan, hingga akhirnya kami berhenti di sebuah rumah dengan pagar besi yang tinggi. Dua pengawal yang berjaga, segera membukakan pintu pagar tatkala Lucio membentak mereka berdua. Kami berjalan mengikuti langkahnya, saat kami berjalan, ikut terlihat pula kereta kuda yang berada sedikit jauh dari rumah mewah yang ada di hadapan kami.
Lucio dan Fabian berjalan beriringan, saat seorang pengawal membukakan pintu rumah untuk mereka. Langkah kaki kami terus berlanjut, sebelum akhirnya berhenti mengikuti mereka berdua yang telah menghentikan langkah. “Ternyata benar, kalian meninggalkan kami,” ucap Lucio sambil melemparkan pandangan ke arah mereka bertiga yang beranjak berdiri dari kursi dengan seorang laki-laki paruh baya di dekat mereka.
__ADS_1
“Apa maksudmu, Lucio? Kau meninggalkanku di sana, apa kau tidak sadar dengan statusmu?!”
Aku hanya terdiam, menatapi tiga orang bersaudara tersebut. Lucio hanya diam tak berkutik, saat Gael, kakaknya itu beberapa kali memukul wajahnya. “Apa seperti itu, caramu memperlakukan adikmu?”
“Diamlah! Ini urusan di antara kami!” Gael memotong perkataan Haruki dengan membentaknya.
Aku berjalan, lalu memegang erat lengan Izumi, saat Haruki sendiri pun telah berjalan mendekati mereka berdua. Genggaman tanganku di lengan Izumi semakin menguat, tatkala Haruki menerjang tubuh Gael hingga dia jatuh tersungkur ke samping. “Aku sudah lama mengetahui kondisi keluarga kalian,” ucap Haruki sambil terus berjalan hingga kakinya menginjak tubuh Gael.
“Jika kalian maju, aku tidak akan segan-segan mematahkan lehernya sebelum kalian sempat menyerangku,” tukas Haruki, dia menyilangkan lengannya di depan dada diikuti kepalanya yang menatapi beberapa pengawal yang hendak mendekat.
“Lalu kenapa, jika kalian berasal dari seorang Ibu yang berbeda? Apa karena, status keluarga ibumu lebih tinggi, jadi kau bisa melakukan apa pun pada adikmu? Dia terlahir, juga karena Ayah kalian melakukan hubungan dengan Ibunya, itu berarti … Status kalian sama, sama-sama anak dari seorang Duke.”
“Tahu apa kau? Setidaknya, keluarga ibuku dari kalangan bangsawan, tidak seperti mer-”
Perkataannya terhenti, ketika Haruki menutup mulutnya dengan menerjang kuat wajahnya, hingga beberapa tetes darah mengalir di lantai. “Yang kau panggil setengah bangsawan itu, mempunyai pengetahuan dan tata krama yang lebih baik dibandingkan kau. Mereka, lebih mengetahui arti berterima kasih dibanding kalian bertiga. Kalian pikir, keberuntungan berpihak kepada kalian hingga kalian dapat bebas begitu saja dari kurungan mereka?” Haruki mengubah nada bicaranya sambil mengalihkan tatapannya ke arah Vartan dan juga Alana.
“Maafkan aku, Duke. Aku, ingin mengajari putra sulungmu caranya berterima kasih. Seorang Bangsawan, harus belajar hal tersebut untuk menghormati mereka yang lebih tinggi statusnya, bukan?”
“Siapa kau, lan-”
“Takaoka Haruki, Pangeran pertama sekaligus Putra Mahkota dari Kerajaan Sora, dan juga … Suami dari Putri Takaoka Luana. Bisakah, kau memberikan kabar kepada Ayah Mertuaku? Hanya katakan, menantunya ini ingin datang berkunjung.” Laki-laki paruh baya yang dipanggil Duke itu, seakan mematung ketika Haruki tersenyum menatapnya.
__ADS_1