Fake Princess

Fake Princess
Chapter CXXIV


__ADS_3

"Sa-chan, apa kau telah selesai bersiap?" terdengar suara Haruki diikuti suara ketukan pintu beberapa kali.


"Sebentar lagi nii-chan, aku akan keluar sebentar lagi," ucapku membalas perkataannya seraya kupercepat tanganku memasang sepatu di kedua kakiku.


"Cepatlah Lux, apa kau ingin tinggal disini selamanya?" ucapku seraya menatapnya yang masih berbaring di atas meja rias.


"Apa rambutmu telah kering? Jika aku bersembunyi di dalam rambutmu yang basah, pakaian yang aku kenakan dan juga sayapku akan ikut basah karenanya," jawabnya sembari terbang di hadapanku.


"Kau bisa langsung mengeceknya sendiri, kedua tanganku masih sibuk memasang sepatu ini," ucapku kembali tanpa menoleh ke arahnya.


"Apa kau akan meninggalkan benda itu di sini?" ucap Lux, kuarahkan kepalaku menoleh ke arahnya.


"Meninggalkan apa?" tanyaku bingung seraya kembali kugerakkan kepalaku menatap ke arah yang ditunjuknya.


"Kalung giok berwarna biru yang ada di atas meja," ucapnya lagi.


"Nazar boncuğu maksudmu... untung saja kau mengingatkannya," ungkapku seraya beranjak berjalan mendekati kalung yang tergeletak itu.


"Itu dari ayahnya tunanganmu bukan? Raja yang dulu pernah mengurungmu? Kenapa juga kau masih menyimpan benda pemberian darinya," ucap Lux menatapku, kuangkat kalung tersebut seraya kuturunkan kembali menyusuri kepala dan leherku.


"Ini seperti jimat keberuntungan untukku, jadi aku merasa segan untuk membuangnya," ungkapku lagi kepada Lux.


"Oi Tupai, sampai kapan kau akan membuat kami menunggu?!"


"Aku datang nii-chan, aku datang," ucapku membalas teriakan Izumi yang berulang-ulang menggema.


______________


"Kalian berdua lama sekali," ucap Izumi yang telah berdiri di hadapanku, berbalik ia seraya meraih tas kulit berwarna cokelat yang aku bawa.


"Cepatlah, mereka semua telah menunggu kita," ucap Haruki yang telah berbalik dan berjalan menjauh.


Melangkah aku mengikuti langkah kaki mereka, menoleh aku ke arah Eneas yang menggenggam tanganku. Sifat kekanakannya telah kembali seiring ia menghabiskan waktunya bersama kami...

__ADS_1


Kabar buruk? tentu saja tidak, aku malah sangat bersyukur tentang hal itu. Karena aku sendiripun menyadari bagaimana lelahnya bersikap dewasa saat kita masih memerlukan tempat untuk bergantung...


Hidup di panti asuhan di kehidupan lamaku mengajariku semuanya... Perasaan lelah akan hidup, perasaan iri pada kebahagiaan orang lain, perasaan rendah diri pada keadaan diri sendiri dan juga... Perasaan kosong yang tak akan pernah terisi oleh apapun.


"Apa kau telah makan sesuatu?" ucapku menatapnya.


"Belum, Izumi nii-chan memintaku untuk cepat-cepat bersiap. Katanya kita akan membeli makanan ketika di perjalanan," ungkapnya membalas perkataanku.


"Apa kau yakin akan baik-baik saja, kita akan meminta mereka untuk makan terlebih dahulu sebelum pergi."


"Aku baik-baik saja nee-chan. Aku tidak selemah yang kau pikirkan."


"Tidak lemah tapi cengeng minta ampun. Cih, manusia merepotkan."


"Lux," ucapku pelan padanya.


"Aku minta maaf," ungkap Lux di sampingku.


"Bisakah aku membunuh serangga itu, atau setidaknya izinkan aku untuk mencabuti kedua sayapnya," ucap Eneas menatapku.


"Aku tidak mau, itu menyakitkan," ucapnya seraya tertunduk.


Langkah kakiku terhenti di depan Istana, tampak terlihat ribuan kerumunan manusia berkumpul di hadapan kami. Kualihkan pandanganku kepada Haruki yang tengah berbicara kepada Raja Dante beserta para Bangsawan lainnya...


Menoleh aku ke arah Izumi yang tengah dikerumuni oleh para Kesatria, tampak terlihat wajah sembab yang terlukis di wajah-wajah Kesatria tersebut...


"Nona Sakura," terdengar suara perempuan dari samping kananku.


"Kalian datang kesini?"


Menoleh aku ke arah para perempuan yang ikut membantuku mengurusi yayasan, kutatap beberapa dari mereka yang terlihat sibuk mengelap air mata menggunakan lengan pakaian mereka...


"Nona Sakura, tidak bisakah kau jangan pergi," ucap salah satu wanita sesenggukan.

__ADS_1


"Aku harus pergi, aku ingin membantu perempuan-perempuan lain yang ada di luar sana," ucapku seraya menggenggam kuat tangannya.


"Jaga diri kalian baik-baik, jika di jalan kalian bertemu perempuan yang kondisinya terlihat mengenaskan... Aku ingin kalian merangkul mereka seperti aku yang merangkul kalian dulu..."


"Kalian dapat melakukannya bukan?" tanyaku seraya menatap mereka, dibalasnya perkataanku dengan anggukan dari mereka semua.


"Sakura," ikut terdengar suara laki-laki di sampingku.


"Ada apa Savon?" ucapku menoleh ke arahnya.


"Hadiah dariku," ucapnya singkat seraya diarahkannya sebuah bungkusan kain kepadaku.


"Kau benar-benar menyiapkannya, padahal aku hanya bercanda ketika memintanya," ucapku padanya, kulepaskan genggaman tanganku pada wanita tadi seraya kuraih bungkusan kain yang diarahkan Savon kepadaku.


Kubuka bungkusan kain yang menyelimuti hadiah dari Savon tadi, sebuah syal berwarna hitam dengan bordiran penuh bunga tersimpan di dalamnya...


"Terima kasih. Ini cantik sekali, aku akan memakainya di perjalanan," ucapku seraya membungkus kembali syal tadi.


"Sa-chan, kita berangkat!" teriak Haruki, berbalik aku seraya berjalan mengikuti langkah kakinya.


________________


"Ke arah mana kita selanjutnya?" ucapku seraya memacu semakin cepat kuda yang aku tunggangi.


Kuhentikan kuda yang aku tunggangi mengikuti langkah kaki kuda yang ditunggangi olah Haruki dan juga Izumi. Lama kutatap Haruki yang tengah berpikir di atas kuda berwarna cokelat yang dinaikinya itu...


"Aku mendapatkan kabar jika Pangeran dan juga Putri dari Kerajaan Vui tengah melakukan perjalanan ke arah Utara..."


"Dan seperti yang kalian ketahui, Kerajaan mereka sekarang semakin berkembang sejak menjalin hubungan dengan beberapa Kerajaan yang berada dibawah pengawasan Kaisar..."


"Jadi, kau ingin melakukan trik-trik kotormu untuk dapat mengorek informasi dari mereka?" sambung Izumi menimpali perkataan Haruki.


"Jangan mengatakan trik kotor untuk otak cemerlang yang aku punya. Kau melukai hatiku, wahai Adikku yang kian dewasa," ucap Haruki tertunduk seraya diletakkannya telapak tangannya di dada.

__ADS_1


"Berhenti melakukan itu sialan... Katakan saja, kemana kita akan pergi selanjutnya," ungkap Izumi seraya menendang bokong kuda yang ditunggangi Haruki.


"Kerajaan Yadgar, tujuan kita selanjutnya ialah Kerajaan Yadgar," balas Haruki menatap ke arahku.


__ADS_2