Fake Princess

Fake Princess
Chapter CLXXX


__ADS_3

Kutatap mereka semua yang telah berjalan pulang kembali ke arah kami, kualihkan pandanganku pada Izumi yang berjalan di depan ribuan pasukan pejalan kaki dengan sebuah buntalan kain di tangannya...


Kualihkan pandanganku pada Haruki yang masih mengusap-usap wajahnya yang penuh darah dengan sebelah tangannya, sesekali disisirnya rambutnya yang tak sengaja terbang pelan beberapa kali tertiup angin...


Pandangan mataku kembali terarah pada Zeki, kutatap tombak miliknya yang telah dibawa oleh seorang pasukan pejalan kaki yang berjalan di sampingnya... Seperti sebelumnya, sesekali diarahkannya telapak tangannya ke belakang tubuhnya...


Melangkah aku tanpa sadar mendekati mereka yang juga telah mendaki bukit, kuhentikan langkahku di depan Izumi... Tangan kananku terangkat memegang lengan kirinya, kutatap lengan pakaian berwarna cokelat miliknya itu yang telah penuh oleh darah hingga membuat warna cokelat yang ada padanya semakin pekat dari bagian lengan pakaian yang lain...


"Apa kau baik-baik saja?" ucapku menatapnya.


"Aku baik-baik saja, ambillah ini!" ungkapnya seraya menyerahkan buntalan kain yang ada di genggamannya padaku, kuangkat kedua tanganku meraihnya.


"Darah?" ungkapku, kutatap telapak tanganku yang tak sengaja memegang bagian bawah buntalan kain tadi.


"Tentu saja darah, kau pikir apa yang aku bawa itu," ungkapnya berjalan melalui.


"Katakan nii-chan, benda apa yang kau berikan padaku ini?" ucapku yang ikut berjalan menyusulnya.


"Kepala, kau menginginkan kepala Wakil kapten itu bukan? Jadi aku membawanya padamu," ungkapnya lagi tanpa menoleh ke arahku.


"Kau mengatakan jika yang aku pegang sekarang ini adalah kepala manusia?" ucapku, langkahku terhenti tanpa sadar menatap punggungnya yang semakin berjalan menjauh.


"Apa kau tidak menyukainya? Kau sendiri yang menginginkannya."


"Nii-chan, kumohon... Ambil kemba..." Perkataanku terhenti, kualihkan pandanganku pada Zeki yang telah meraih buntalan kain tadi. Zeki menggerakkan tangannya melempar buntalan tadi ke sembarang arah seraya ditatapnya aku yang masih tak bisa berkata-kata karenanya.

__ADS_1


"Lukaku kembali terbuka, daripada kau menangisi kepala laki-laki lain... Lebih baik, obati aku kembali seperti kemarin," ucapnya, kurasakan lenganku tertarik mengikutinya.


"Tapi kepalanya?" ungkapku, seraya kembali kugerakkan kepalaku berusaha mencari buntalan tadi di tengah kerumunan manusia yang juga bergerak mendaki bukit.


"Apa kau lebih mementingkan kepala itu atau punggung tunanganmu ini," ucapnya, seraya kembali kugerakkan kakiku mengikuti tarikan tangannya.


"Lagipun, kau bodoh sekali! Kalau takut jangan dilihat, untuk apa memaksakan diri sendiri," ucapnya kembali, kutatap ia yang masih menatap lurus ke depan.


_________________


"Apa kau telah selesai menyiapkan obatnya?" ucap Izumi, menoleh aku ke arahnya yang tengah duduk berdampingan dengan Zeki.


"Aku hampir menyiapkannya," ucapku, seraya kuangkat alat penggilingan yang ada di hadapanku ke arah mereka.


"Siapa yang ingin aku obati lebih dulu?" ucapku lagi, kuarahkan pandanganku menatap mereka berdua bergantian.


"Dia benar, biarkan tunanganmu ini diobati terlebih dahulu... Lalu usir jauh dia dari dalam tenda ini jika telah selesai," ucap Izumi, diarahkannya pandangannya menatapi Zeki.


"Sebagai adik ipar yang baik, aku mengalah. Jadi obati saja Kakakmu ini terlebih dahulu," ungkap Zeki seraya diangkatnya telapak tangannya ke arah Izumi.


"Apa kau sedang berpura-pura bersikap baik di hadapan Adikku?"


"Nii-chan, Zeki... Kupikir kalian mempunyai banyak sekali tenaga yang tersisa, kenapa tidak saling membantu satu sama lain," ungkapku beranjak berdiri seraya kugerakkan kakiku melangkah ke luar dari dalam tenda.


Pandangan mataku terjatuh pada kumpulan para Kesatria, perompak dan rakyat biasa yang membaur satu sama lain mengelilingi api unggun yang ada di tengah-tengah mereka...

__ADS_1


Nyanyian-nyanyian nyaring yang keluar dari beberapa perompak seakan menghidupkan malam, berbalik aku melangkahkan kaki mendekati tenda terbuka yang tak terlalu jauh dari tempatku berdiri...


Kutatap Haruki yang tengah terduduk di kursi dengan Adinata dan juga Danurdara yang juga duduk di sana. Menoleh ia ke arahku, seraya digerakkannya telapak tangannya menepuk-nepuk pundaknya.


Kugerakkan kakiku berdiri di belakangnya seraya kuarahkan jari-jemariku menyentuh pundaknya. Jari-jariku tadi bergerak memijat-mijat pelan pundaknya...


"Sa-sachi," ucapnya, kuarahkan pandanganku menoleh menatapnya.


"A-apa ke-kepalamu ba-baik ba-baik sa-saja?"


"Kepalaku? Memang ada apa dengan kepalaku?"


"Mungkin yang dimaksudkan Adikku, apa kepalamu baik-baik saja setelah menggunakan pergantian rencana mendadak hari ini?"


"Aku baik-baik saja. Sebenarnya, akupun tak menyangka jika pasukan musuh akan bertindak sebodoh itu," ungkapku, kembali kuarahkan pandanganku menatap jari-jemariku yang masih memijat pundak Haruki.


"Mereka sama seperti manusia biasa, hanya kalian saja yang pikirannya tidak seperti manusia pada umumnya," ungkap Adinata, kuangkat kepalaku menoleh ke arahnya yang telah menatapku.


"Tapi kami di Kerajaan telah diajarkan untuk berpikir mandiri, bukan hanya Pangeran dan juga Putri. Bahkan para Pelayan kami pun seperti itu, aku benar bukan nii-chan?" kuarahkan kembali pandanganku menatap Haruki yang telah menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya, semenjak usianya tiga tahun... Sachi telah diajarkan ilmu berperang bahkan menyusun strategi oleh Duke Masashi. Duke melihat potensi di dalam dirinya, jadi dia menawarkan dirinya sendiri untuk mengajar langsung Sachi..."


"Awalnya Ayah tidak menyetujuinya, akan tetapi... Bagaimana aku mengatakannya," ucap Haruki kembali seraya diangkatnya telapak tangannya menggaruk pelan kepalanya.


"Kata-kata manisnya sangatlah mematikan, bahkan Ayah, Tsubaru dan bahkan Duke yang terkenal tak ada emosi oleh para Kesatria kami, luluh karenanya..."

__ADS_1


"Berbicara tentang Ayah dan juga Tsubaru, bagaimana keadaan mereka sekarang? Apa Ayah baik-baik saja sekarang nii-chan?" ucapku memotong perkataanya, kualihkan pandanganku pada sebelah telapak tangannya yang telah menggenggam telapak tanganku yang ada di pundaknya.


__ADS_2