
“Kau ingin memenjarakan mereka?” tanyaku dengan menoleh ke arahnya yang berdiri di samping.
Zeki balas menoleh ke arahku, “apa ada yang salah?”
Telapak tangan kiriku terangkat menggenggam lengan pakaian yang ia kenakan, “aku telah membeberkan identitasku kepada mereka semua. Apa ada jaminan, jika kabar tentangku yang masih hidup tidak akan keluar dari bibir mereka. Entah apa, yang akan aku terima jika kabar tersebut tersebar,” ungkapku kembali menatapnya.
“Maaf, aku tidak berpikiran sampai ke sana. Izumi terlihat menunggumu, pergilah kepadanya,” ucap Zeki dengan menggerakkan sedikit kepalanya.
Aku menoleh ke arah Izumi yang masih berdiri menunggu, kuarahkan kembali pandanganku kepada Zeki sebelum langkahku berjalan mendekati Izumi. “Akash, eksekusi mereka semua! Jangan meninggalkan saksi seorang pun,” langkah kakiku sempat terhenti saat suaranya tiba-tiba terdengar dari arah belakang.
Aku menarik napas dalam saat suara-suara berisi permohonan ampun terngiang dari belakang. Langkah kakiku kembali bergerak saat pandangan mataku terjatuh kepada Izumi yang melambaikan tangannya ke arahku. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Izumi ketika aku menghentikan langkah di hadapannya.
“Aku baik-baik saja, nii-chan,” ungkapku dengan kembali menarik napas lalu mengembuskannya kembali dengan kuat.”
“Zeki, jika kau telah selesai, kami menunggumu di ruang perjamuan. Ada seseorang yang ingin Haruki perkenalkan!” Izumi berteriak dengan matanya melirik ke arah Zeki.
“Aku mengerti. Aku akan segera ke sana,” tukas Zeki membalas perkataannya Izumi.
Aku melirik ke arah Zeki yang menerjang Duke ke samping saat Duke tersebut berusaha untuk bersujud di kakinya, “Sachi!” suara Izumi membuat pandangan mataku teralih.
Langkah kakiku kembali berlanjut mendekati Izumi yang menolehkan tubuhnya menatapku, “nii-chan,” ungkapku dengan merangkulkan lenganku di lengannya.
“Bisakah untuk nanti malam, aku memakan masakanmu?” tanyaku dengan menyandarkan kepalaku di pundaknya.
“Kenapa? Apa kau tidak suka masakan yang dihidangkan di sini?”
“Bukan seperti itu, keadaanku beberapa hari ini sangatlah kacau. Nii-chan selalu memasakkanku makanan saat aku sedang sakit atau terluka, aku benar-benar ingin memulihkan semangatku sebelum melanjutkan perjalanan nanti,” ungkapku sembari kembali mengangkat wajah menatapnya.
“Aku akan melakukannya, asalkan kau sendiri yang membantuku untuk memasaknya,” jawabnya dengan mengusap kepalaku.
“Tentu. Aku sangat menyukasi ketika memasak bersamamu, nii-chan,” tukasku sambil membalas senyumannya.
__ADS_1
Aku ikut menghentikan langkah ketika Izumi juga menghentikan langkah kakinya di sebuah pintu hitam berdaun dua penuh motif ukiran yang ada di hadapan kami. Langkah kaki kami kembali berlanjut saat dua orang Kesatria yang berdiri di depan pintu, membukakan pintu tersebut untuk kami berdua. “Di mana Zeki?” tanya Haruki, dia mengarahkan pandangannya ke arah kami saat kami berdua berjalan masuk mendekatinya.
“Dia sedang melakukan sesuatu. Dia akan segera ke sini setelah menyelesaikannya,” ungkap Izumi saat langkah kaki kami berhenti di dekatnya.
Aku melirik ke kanan, ke arah Julissa yang duduk termangu menatap sesuatu. Kulepaskan rangkulanku di lengan Izumi sembari kedua kakiku berjalan mendekati Julissa yang enggan beranjak dari lamunannya walau aku telah berdiri di hadapannya. “Julissa,” ucapku sembari berjalan lalu duduk di sampingnya.
Julissa mengangkat wajahnya menatapku, “Sachi,” ungkapnya dengan tiba-tiba langsung merangkulku.
“Apa kau melihatnya?”
“Lihat apa?” Aku balas bertanya kepadanya.
“It-”
Perkataan Julissa terhenti saat pintu tersebut kembali terbuka, kuarahkan pandangan mataku ke arah Zeki yang berjalan masuk sendirian tanpa Akash ataupun Kabhir di dekatnya, “Kau telah datang,” ungkap Haruki yang mengarahkan pandangan ke arahnya.
“Apa terjadi sesuatu?” Dia balas bertanya diikuti kedua matanya yang sedikit melirik ke arahku.
Zeki menganggukkan kepalanya, membalas perkataan yang dilontarkan Haruki. “Keponakannya, ingin memperkenalkan diri sekaligus memberi hormat kepadamu,” tukas Haruki lagi dengan menggerakkan sebelah tangannya ke arah seseorang yang berdiri di samping Eneas.
Laki-laki yang berdiri di samping Eneas tadi melangkahkan kakinya mendekati Zeki dengan kepalanya yang enggan terangkat. Dia duduk bersimpuh di depan Zeki sebelum dia bersujud dengan memberikan hormatnya kepada Zeki, “Salam, Yang Mulia. Saya, Kemal … Keponakan dari Viscount Okan, yang akan menggantikan posisinya untuk sementara,” ucapnya dengan tetap bersujud di hadapan Zeki.
“Berdirilah!” tukas Zeki, dia berdiri menatap laki-laki tadi dengan kedua tangannya yang ia genggam ke belakang punggungnya.
“Tampan sekali,” aku melirik ke arah Julissa yang bergumam di sampingku.
Kujatuhkan kembali pandangan mataku ke arah laki-laki bernama Kemal yang mulai menggerakkan tubuhnya beranjak berdiri di hadapan Zeki. Tingginya hampir menyamai Kakakku, Haruki … Kulitnya sedikit kecokelatan, “kau benar,” ungkapku balas bergumam saat kedua mataku terjatuh kepada wajahnya yang sedikit tertunduk.
“Apa dia seorang manusia?” Aku balas bergumam dengan tetap menjatuhkan pandangan kepada laki-laki yang berdiri di hadapan Zeki itu.
Aku menoleh ke arah Julissa saat kurasakan genggaman kuat yang menyentuh lengan pakaianku, “kau berpikiran yang sama?” Dia balas bergumam pelan dengan mendekatkan wajahnya ke arahku, “dia terlalu menyilaukan untuk ukuran seorang manusia, bukan? Aku benar, bukan?” tukas Julissa berbisik dengan sangat pelan di dekatku.
__ADS_1
Bibirku terkatup, tubuhku tertegun saat suara batuk laki-laki terdengar, kuarahkan pandangan mataku melirik ke arah Zeki yang juga telah melirik tajam ke arahku. “Ikutlah makan malam bersama kami di sini,” ucap Zeki dengan kembali mengarahkan pandangan matanya ke arah laki-laki sebelumnya, “ada sesuatu yang harus aku lakukan. Jadi aku, akan meminjam dia sebentar,” ungkap Zeki lagi saat pandangan matanya beralih kepada Haruki.
“Kau, perempuan yang ada di sana! Ikuti aku!”
Aku melirik ke arah lenganku yang bergidik saat dia melirik tajam ke arahku sebelum kakinya kembali melangkah keluar dari ruangan. Aku mengusap dadaku sendiri sebelum beranjak berdiri mengikuti langkahnya yang telah lebih dulu keluar, “apa kau, tidak puas hanya dengan menikmati ketampananku saja?”
Aku mengerutkan kening, menatapnya yang telah menghentikan langkah kakinya di tengah lorong Istana, “apa maksudmu?” tanyaku dengan berjalan mendekatinya.
Zeki berbalik menatapku, “apa kau, tertarik kepada laki-laki tadi?”
“Pipiku, kau mencubitnya terlalu keras,” ungkapku dengan mencengkeram lengannya.
Aku tertunduk dengan mengusap pipiku saat dia melepaskan cubitannya, “apakah salah, jika kita hanya memuji keelokan seseorang?”
“Apakah salah? Kau mengatakan, apakah itu salah?”
“Ma … Af,” ucapku sedikit terputus saat dia mencengkeram pipiku menggunakan kedua jari tangannya.
“Tapi dia benar-benar tampan, aku hanya mengagumi ketampanannya saja. Hanya itu, tidak lebih dan tidak kurang,” ungkapku dengan mengusapi kedua pipiku ketika dia melepaskan cengkeramannya.
“Jadi, aku pun boleh mengagumi kecantikan perempuan yang lain, bukan?” Dia balas bertanya dengan tersenyum menatapku.
“Kau ingin mati dengan tenggelam ke dalam lautan? Atau mati dengan tubuh terkoyak dipenuhi racun? Atau kau lebih memilih mati membeku dalam timbunan es? Pilih saja, maka aku … Akan mewujudkannya,” ungkapku dengan sedikit mendongakkan pandangan menatapnya.
“Jadi, perempuan bisa melakukannya sedangkan laki-laki tidak?”
“Aku tidak bisa membayangkan, betapa tersiksanya laki-laki jika Kekaisaran hancur nantinya,” sambung Zeki kembali dengan mendongakkan kepalanya ke atas.
“Apa yang kau katakan?”
“Aku hanya mengatakan, jika sulit mengalahkanmu dalam perdebatan. Kau akan selalu menang dan benar, kau dengar apa yang aku katakan?” balasnya yang semakin mendekati wajahnya ke arahku.
__ADS_1
“Banyak laki-laki tampan di luar sana, tapi yang membuatku nyaman hanya laki-laki yang sekarang berdiri di hadapanku, Jadi jangan cemburu, aku mencintaimu, Zeki,” ungkapku pelan sambil mengarahkan kecupan di pipinya.