Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXII


__ADS_3

"Kau mengatakan jika Ratu melindungi tempat ini dengan sihir bukan?" Ucapku menoleh menatapnya, kugerakkan kedua kakiku bergantian menaiki anak tangga.


"Sihir Ratu hanya berfungsi untuk melindungi tempat ini, dan itu sudah menjadi kekuatan mereka turun-temurun. Jika kau berharap menggunakan sihir Ratu untuk pertempuran, itu mustahil," ucapnya melangkahkan kakinya di sampingku.


"Aku benar-benar tidak menyangka jika ada Kerajaan yang isinya para Perempuan seperti tempat ini," ucapku mengalihkan pandangan pada susunan rumah yang jauh di pandangan mata.


"Aku pun, merasakan hal yang sama sepertimu ketika pertama kali datang ke sini..."


"Aahh benar juga, bagaimana kau bisa sampai ke sini?" Ungkap ku berbalik menatapnya.


"Tunanganku berasal dari seseorang yang tinggal di seberang lautan, aku tidak tahu jelasnya... Akan tetapi, kapal yang aku tumpangi untuk menemui calon suamiku itu malah tenggelam. Dan saat aku sadar... Aku, dan beberapa perempuan lainnya telah tersadar di depan air terjun," ucapnya mengangkat kembali kepalanya.


"Tapi, aku sangat terkejut saat keempat laki-laki itu dapat selamat. Karena, setiap laki-laki yang terdampar di sini, akan memasuki kawasan terlarang. Aku tidak terlalu mengerti kenapa disebut kawasan terlarang, tapi setahuku jika laki-laki telah masuk ke dalam sana... Mustahil untuk bisa keluar hidup-hidup..."


"Apakah Ratu juga yang menciptakan tempat itu?"


"Ratu pertama yang menciptakannya, semua tempat ini diciptakan oleh Ratu pertama."


"Maaf jika aku terlalu banyak bertanya," ucapku kembali menatap lurus ke depan.


"Tidak apa-apa, karena sudah lama sekali aku tidak berbincang seperti ini dengan perempuan lainnya," ucapnya tersenyum menatapku.


"Nii-chan?" Ungkap ku saat kutatap Haruki, Izumi, Zeki, dan juga Aydin tengah berjalan sambil membicarakan sesuatu.


"Apa yang kau lakukan? Kau belum pulih," ucap Izumi berbalik menatap kami.


"Aku menemui Ratu tadi," ucapku berjalan mendekati mereka.


"Bagaimana keadaanmu?" Ungkap Haruki sembari meletakkan sebelah telapak tangannya di atas dahiku.


"Aku baik-baik saja, aku bahkan tidak merasakan sakit sama sekali," ucapku saat Haruki menurunkan kembali tangannya dari atas dahiku.


"Kau sudah tak sadarkan diri selama tiga hari Putri, aku benar-benar merindukanmu."

__ADS_1


"Melangkah lebih dekat padanya, akan aku pastikan kepalamu melayang saat ini juga Aydin," ucap Zeki menarik kerah pakaian yang Aydin kenakan ke belakang.


"Tiga hari? Apakah itu benar?"


"Racun dari panah itu sangatlah kuat, manusia akan langsung mati saat panah itu menancap di tubuhnya. Karena itu, Ratu Alelah merasa takjub saat kau menerima tiga buah anak panah sekaligus waktu itu," ucap Haruki menyilangkan lengannya di dada.


"Menurutmu, apakah ini ada hubungannya dengan Kou? Maksudku, dia dulu pernah meminum darah Kou bukan?"


"Entahlah, mungkin saja," sambung Haruki menimpali pertanyaan Izumi.


"Dan juga, aku telah menyelesaikan urusan kita di sini. Kita akan langsung pergi setelah kondisi mu benar-benar membaik," ucap Haruki menurunkan kedua lengannya lalu berbalik berjalan meninggalkan.


Aku berbalik ke belakang, Callia membungkukkan tubuhnya ke arahku. Aku kembali berbalik lalu melangkah mengikuti langkah kaki Haruki, tubuhku sedikit tersentak saat kurasakan sesuatu menggelitik telapak tangan kiriku.


Aku berbalik sebentar menatap Zeki yang tersenyum menatapku, kembali kurasakan sesuatu menggelitik telapak tangan kiriku. Kurasakan genggaman kuat di telapak tangan kiriku saat aku kembali menoleh ke arah Zeki yang telah membuang pandangannya menghindari.


Langkah kakiku terhenti saat telapak tanganku yang digenggam Zeki tertarik ke belakang. Aku menoleh kembali ke arahnya yang telah mengangkat jari telunjuknya mendekati bibir.


"Kau ingin mengajakku ke mana?" Bisikku sembari meraih lengannya yang menggenggam tanganku.


"Ke suatu tempat menarik yang aku temukan," ucapnya pelan tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.


"Lewat sini, dan berhati-hatilah," ucapnya semakin memperkuat genggaman tangannya saat kami berdua menuruni anak tangga yang aku lewati sebelumnya.


Zeki menarik tanganku berbelok ke kanan, dia melangkah ke sisi tebing. Aku ikut melangkahkan kaki mengikutinya saat dia berbalik dengan kedua tangannya mengarah padaku... Dengan perlahan, aku menuruni tebing tersebut sembari kedua tanganku menggenggam kuat tangannya.


"Ke mana sebenarnya kau ingin mengajakku?" Ucapku kembali padanya saat Zeki membawaku masuk ke dalam semak-semak yang ada di pinggir sebuah bangunan ambruk di bawah tebing.


"Lihatlah ke sini," ucapnya menarik tanganku lalu meletakkannya pada sebuah lempengan batu berbentuk persegi yang menempel di bangunan yang telah ambruk tersebut.


"Aku menemukannya saat sedang berkeliling mencari informasi," ucapnya berbalik menatapku.


Aku melangkah mendekati lempengan batu tadi, jari-jemariku yang telah berada di sana kugerakkan menelusuri lempengan batu tersebut...

__ADS_1


"Aku membutuhkan cahaya, cahaya yang memindahkan semua keraguan."


"Kau dapat membacanya?" Ungkapnya, kubalas pertanyaannya dengan anggukan kepala yang aku lakukan.


"Aku membutuhkan cahaya, cahaya yang dapat memindahkan semua keraguan," ucapku kembali mengucapkan ukiran di batu tadi dengan bahasa yang berbeda.


"Apakah ini seperti sebuah peribahasa atau sejenisnya?"


"Entahlah. Walaupun Callia menceritakan semua hal mengenai tempat ini, tetap saja aku merasakan ada yang tak masuk akal di sini. Ya walaupun, dunia di luar sana sama tak masuk akalnya seperti di sini," ucapku membalas tatapannya.


"Apa kau membawa pedangmu Zeki," ucapku kembali padanya.


"Apa yang ingin kau lakukan dengan pedang itu?"


"Lukai tanganku," ucapku membalas perkataannya.


"Ulangi, aku tidak mendengarnya."


"Lukai tanganku dengan pedangmu," ucapku kembali padanya.


"Apakah selama tak sadarkan diri kepalamu jadi sakit?!" Ungkapnya mencubit kuat pipiku.


"Bukan itu, kau lihat dengan jelas di ujung batu itu," ucapku menunjuk ke arah sebuah ukiran kecil sangat kecil hampir tak terlihat di ujung lempengan batu persegi itu.


"Memangnya apa yang tertulis di sana?" Ucap Zeki menyipitkan mata saat wajahnya mendekati batu tersebut.


"Kehilangannya, sama seperti kehilangan kehidupan. Kau akan mati jika kehilangan banyak darah bukan?"


"Kau juga langsung akan mati jika kehilangan kepalamu," ucapnya semakin memperkuat cubitan yang ia lakukan di pipi.


"Kau benar juga," ucapku menggenggam lengannya.


"Lalu? Apa kau mengetahui maksud dari tulisan itu?" Sambungku kembali padanya.

__ADS_1


__ADS_2