Fake Princess

Fake Princess
Chapter CCCXXXIII


__ADS_3

Aku duduk bersandar di badan kapal dengan Cia yang juga ikut duduk di sampingku. Kugerakkan kepalaku menatapnya yang tengah melahap beberapa biji buah berwarna cokelat kehitaman di tangannya...


"Nee-chan," suaranya terdengar, aku berbalik menatapnya yang tengah berjalan dipapah Izumi.


"Eneas, kau masih belum sehat," ucapku lagi saat mereka berdua berjalan, Izumi membantu Eneas duduk di sampingku.


"Tubuhku hanya sedikit lemas, tapi aku baik-baik saja," ucapnya menggerakkan tubuhnya ikut bersandar di badan kapal sama sepertiku.


"Aku akan membantu yang lainnya memecahkan es. Kalian bertiga, tetaplah di sini," ucap Izumi beranjak berdiri, ditatapnya kami bertiga bergantian olehnya.


"Aku paham, lagipun tubuhku masih terlalu lelah untuk bergerak," ucapku kembali menyandarkan tubuh di badan kapal.


"Baiklah. Jika aku kembali dan kalian telah menghilang. Aku akan menghukum kalian satu-persatu," ucapnya kembali sebelum berbalik melangkahkan kakinya menjauh.


"Nee-chan," ungkapnya, aku kembali menggerakkan kepalaku menatapnya yang juga telah melirik ke arahku.


"Terima kasih."


"Aku kakakmu, tidak perlu berterima kasih," ucapku menggerakkan tanganku mengusap rambutnya.


"Apa kau tahu nee-chan?" Ungkapnya kembali menatapku.


"Ketika aku tak sadarkan diri, aku sempat bermimpi... Di mimpi itu, aku melihatmu duduk dengan kedua tangan dan kakimu dirantai. Di mimpi itu juga, kau memanggilku berulang-ulang, menangis, memintaku jangan pergi. Walaupun hanya mimpi, aku bahagia sekali mendengarnya," ucapnya menundukkan pandangannya, ikut juga terlihat bibirnya merekahkan senyum kecil yang samar terlihat.


"Sachi!" Teriakan Ebe tiba-tiba terdengar, kugerakkan kepalaku berusaha mencarinya ke sekeliling.


"Di sana nee-chan," ucap Eneas mengarahkan jari telunjuknya menunjuk ke suatu arah, kugerakkan kepalaku mengikuti jari telunjuknya itu.


"Sachi!" Teriakan darinya kembali terdengar, kedua mataku menyipit berusaha menatapnya yang tengah melambai-lambaikan tangannya ke arahku.


"Ebe, apa yang kau lakukan di sana?!" Aku balas berteriak, beberapa kali suara batuk ikut keluar dari mulutku diikuti rasa kering di tenggorokan.


"Nee-chan, kau baik-baik saja?" Ungkap Eneas mengarahkan telapak tangannya menepuk-nepuk punggungku.


"Aku baik-baik saja," ucapku menarik napas dalam lalu mengembuskannya kembali.


"Sachi, ada apa?" Suara Yoona tiba-tiba terdengar, kugerakkan kepalaku berbalik menatapnya yang tengah berjalan dengan sebelah pecahan piring berisi makanan di tangannya.


"Makanan untuk kalian," sambungnya mengarahkan pecahan piring dengan tumpukan beberapa buah kecil berwarna cokelat kehitaman di atasnya.

__ADS_1


"Terima kasih," ucapku meraih piring tersebut, kuarahkan piring tadi ke arah Eneas yang duduk di sampingku.


"Sachi!" Ebe kembali berteriak, kali ini lebih keras terdengar di telinga.


"Yoona, apa kau dapat membantuku?" Ungkapku mengarahkan pandangan menatapnya.


"Apa yang dapat aku bantu?"


"Seperti yang kau lihat, para laki-laki tengah sibuk memperbaiki kapal dan juga menghancurkan lempengan es yang ada. Tubuhku terlalu lemah untuk berjalan sendirian..."


"Kau ingin aku membantumu berjalan menemui temanmu itu?" Ungkapnya dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Ebe yang memangku wajahnya di pinggir lempengan es.


"Tolong," ucapku menimpali perkataannya, Yoona berjalan mendekatiku sembari kedua tangannya bergerak berusaha membantuku untuk beranjak berdiri.


"Berhati-hatilah," ucapnya saat kami hampir terpeleset di atas permukaan es.


Kami berjalan dengan sangat perlahan, lambaian tangan Ebe semakin gencar terlihat. Kami berdua menghentikan langkah saat suara laki-laki memanggil-manggil namaku dari arah belakang...


"Mau ke mana kalian?" Suara Haruki semakin dekat terdengar, kugerakkan kepalaku sedikit menoleh ke arahnya.


"Ebe memanggilku nii-chan," ucapku dengan sebelah tangan menunjuk ke arahnya.


"Aku memerintahkanmu untuk beristirahat," ucapnya melangkahkan kakinya semakin mendekati.


"Maaf," ucapku dan Yoona bergantian, tampak ikut terdengar suara helaan napas yang Haruki keluarkan.


"Kau pasti lelah bukan? Beristirahatlah, biar aku yang membawanya ke sana," ucap Haruki berdiri di sampingku dengan kedua matanya melirik ke arah Yoona.


"Aku akan membantu kalian mengurus Cia dan juga Eneas," ucap Yoona membalas lirikan Haruki padanya.


"Tidak perlu, Izumi yang akan menjaga mereka. Akan merepotkan jika ada yang jatuh sakit lagi di antara kita semua," sambung Haruki dengan sebelah tangannya meraih pinggangku, kutatap mereka berdua bergantian yang saling berbicara satu sama lain.


"Baiklah aku paham, aku akan mengajak Cia ikut beristirahat bersamaku," ucap Yoona menggerakkan tubuhnya berbalik lalu melangkah meninggalkan kami.


"Nii-chan," ucapku dengan sangat pelan, mataku masih menatap punggung Yoona yang melangkahkan kakinya semakin jauh.


"Ada apa?"


"Sejak kapan kalian berdua menjadi sedekat itu?"

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Ungkapnya, kugerakkan kepalaku berbalik menatapnya yang telah menatapku.


"Apa kau tidak menyadarinya?"


"Menyadari apa?"


"Sikapmu itu, apa aku masih berada di bawah pengaruh halusinasi?" Ungkapku membuang pandangan darinya seraya kugerakkan bibirku menggigit kuat ibu jari.


"Sa-chan, apa kau sedang mencoba bermain-main denganku?" Tanyanya, kugerakkan kembali kepalaku menatapnya yang telah tersenyum dingin ke arahku.


"Aku tidak. Lagi pun, cepatlah nii-chan. Ebe masih menungguku di sana," ucapku berusaha tersenyum ke arahnya.


Haruki berbalik dengan memapah tubuhku, kami berdua berjalan ke arah Ebe yang tengah berbincang dengan Izumi dan juga Aydin yang telah berjongkok di hadapannya...


"Sejak kapan mereka berdua telah berada di sana?" Ungkap Haruki, aku berbalik menatapnya yang masih mengarahkan pandangannya ke arah mereka bertiga.


"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" Ucap Haruki kembali saat kami telah berdiri di hadapan Ebe.


"Saat kami hendak kembali ke kapal, memanggil-manggil kami untuk mendekatinya," ucap Aydin dengan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Ebe.


"Namaku Ebe, bukan manusia ikan," ucap Ebe mengarahkan kedua tangannya ke depan sedangkan wajahnya ia letakkan di atas permukaan es.


"Ebe, ada apa?" Ucapku menundukkan kepala menatapnya.


"Kakekku dan para duyung ingin membantu kalian sebagai permintaan maaf," ucapnya, kugerakkan kepalaku mengikuti lirikan matanya, tampak terlihat Kakeknya Ebe menatapku dari balik air laut.


"Membantu?" Tanyaku, Ebe mengangguk membalas perkataanku itu.


"Lalu, apa yang harus kami lakukan?"


"Kau yakin? Maksudku, kalian yakin?" Tanyaku kepadanya, Ebe kembali mengangguk kepalanya.


"Bagaimana menurutmu Aydin?"


"Yang paling penting untuk kita sekarang adalah bagaimana kapal itu dapat berlayar kembali seperti sebelumnya," ucap Aydin beranjak berdiri.


"Kalau seperti itu, bagaimana jika kalian membantuku mengurusi kapal itu? Kami tidak dapat melanjutkan perjalanan jika kapalnya setengah tenggelam seperti itu."


"Hanya itu? Baiklah," jawab Ebe, dia berenang menyelam mendekati Kakeknya yang menunggu di bawah air.

__ADS_1


Kutatap Ebe yang menggerakkan wajahnya mendekati Kakeknya, laki-laki tua itu melirik ke arahku dari balik air laut yang telah berubah lebih jernih dibanding pertama kali aku melihatnya. Sebuah ombak besar tiba-tiba terlihat dari jauh, Izumi ikut beranjak berdiri diikuti cengkeraman tangan Haruki yang memegang pinggangku semakin kuat terasa saat ombak itu bergerak semakin mendekati kami...


"Tetaplah waspada, kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan nantinya," ucap Haruki saat lempengan es yang kami injak tiba-tiba bergoyang dibawa gelombang air.


__ADS_2