Fake Princess

Fake Princess
Chapter DCIX


__ADS_3

Aku berjalan mendekati ranjang sambil meletakkan pakaian yang akan Zeki kenakan di atasnya. Kugerakkan tubuhku duduk di samping ranjang dengan sesekali sebelah tanganku bergerak mengusapi punggung. Aku menoleh ke belakang, saat terdengar suara deritan pintu. Zeki melangkah mendekat, setelah sebelumnya menutup kembali pintu kamar mandi.


“Kenapa kau justru menyiapkan pakaian tidur untukku? Kita-”


“Aku hanya ingin kau beristirahat hari ini. Walau kau berkata baik-baik saja, aku tidak ingin kau jatuh sakit. Jadi, beristirahatlah seharian penuh,” ucapku yang mendongakkan kepala menatapnya.


“Dan kemarikan handuk yang kau pakai itu! Aku tidak suka saat kau meletakkan handuk basahmu itu ke kasur, benar-benar membuatku jengkel saat kau melakukannya,” sambungku dengan mengangkat telapak tangan ke arahnya.


“Aku baru menyadari sesuatu,” ungkapnya sambil meletakkan handuk yang sebelumnya ia pakai ke tanganku, “aku baru menyadari, jika Istriku ini semakin banyak berbicara setelah menikah,” lanjutnya, dia masih tak acuh dengan mengenakan pakaian yang aku persiapkan ke tubuhnya.


Aku beranjak berdiri dengan melangkahkan kaki mendekati pintu kamar mandi. Kulipat handuk yang ada di tanganku, sebelum akhirnya aku letakkan ke dalam keranjang yang memang hanya diisi oleh handuk kotor. “Kenapa kau hanya diam saja?”


“Kau sendiri yang mengatakan, jika aku terlalu banyak berbicara. Jadi, bukankah bagus kalau aku diam?” balasku, sebelum kembali duduk di sisi lain ranjang yang berseberangan dengannya.


"Aku justru ingin cepat-cepat pulang, karena ingin mendengar celotehanmu." Aku menoleh ke belakang saat dia sendiri pun telah merangkak menaiki ranjang.


“Zeki, bisa kau membantu mengusap punggungku?”


“Apa punggungmu sakit?”


Aku menganggukkan kepala membalas perkataannya, “sudah beberapa hari, rasanya seperti ditusuk-tusuk sesuatu.”


“Apa seperti ini?” tanyanya kembali, saat kurasakan usapan yang sangat lemah menyentuh punggungku itu.


“Tekan sedikit lebih keras-”


“Seperti ini?”


“Iya seperti itu,” balasku, dengan sedikit memejamkan mata ketika dia melakukannya.


“Aku dengar, jika perempuan yang awal-awal hamil akan selalu muntah-muntah dan sulit memakan apa pun. Maafkan aku, yang meninggalkanmu di saat seperti itu.”


“Aku tidak merasakan hal tersebut. Walaupun benar, jika aku hanya akan memakan makanan yang aku inginkan … Tapi aku selalu mendapatkannya, karena para koki memasakkan apa pun yang aku inginkan dengan baik walaupun kadang kala permintaannya itu sangat aneh.”


“Syukurlah, aku sungguh-sungguh mengkhawatirkanmu selama di sana,” ucapnya, sambil ikut kurasakan kecupan darinya yang menyentuh pundakku.


“Zeki, bisakah aku meminta sesuatu darimu?”

__ADS_1


“Sesuatu? Apa itu?” Dia balas bertanya saat aku sudah menoleh ke arahnya.


“Aku ingin seekor bayi Harimau putih.”


Zeki terdiam, hanya keningnya saja yang mengerut menatapku, “kau meminta apa?”


“Aku menginginkan seekor bayi Harimau berwarna putih, dengan mata berwarna biru.”


“Ulangi permintaanmu!”


“Sebenarnya kau ingin mengabulkannya atau tidak?” tukasku yang langsung beranjak menatapnya.


“Ini bukan masalah aku akan mengabulkannya atau tidak. Tapi, untuk apa seorang ibu hamil menginginkan bayi harimau?”


“Aku ti-” perkataanku terhenti saat kurasakan sesuatu kembali bergerak di perutku.


“Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba berhenti berbicara?”


“Aku merasakan gerakan di dalam perutku kembali. Aku harus segera menemui Haru nii-chan dan juga kakakku, firasatku mengatakan ini bukanlah suatu kebetulan semata,” ucapku, aku mengangkat tangan memetik kelopak bunga yang melekat di gelang.


“Tanam kelopak bunga ini di tanah, lalu katakan … Kakek, kami ingin pergi menemui kalian,” ucapku kepada Zeki yang masih terdiam.


“Apa kau yakin? Aku hanya harus melakukan hal tersebut,” ungkapnya yang berjongkok mengorek tanah yang ada di hadapan kami.


“Hanya lakukan saja itu,” tukasku membalas perkataannya saat dia sudah kembali beranjak berdiri.


“Baiklah. Bagaimana aku mengatakannya?”


“Katakan, Kakek-”


“Kakek,” ucap Zeki mengulangi perkataanku menggunakan bahasa Latin.


“Kami ingin pergi menemui kalian-”


“Kami ingin pergi menemui kalian,” sambungnya yang kembali mengulangi kata-kataku.


Aku menoleh ke belakang saat hawa dingin menyeruak menyentuh tubuh, “Kou, apa kau ingin ikut bersama kami?”

__ADS_1


“Tentu saja, aku di sini karena menjagamu My Lord. Jika kau pergi, maka aku pun akan pergi,” balasnya yang terngiang di kepalaku.


Aku berjalan sedikit mundur saat tumbuhan merambat, tiba-tiba tumbuh meninggi membentuk sebuah gerbang di hadapan kami. Zeki mulai melangkahkan kakinya mendekati gerbang tersebut saat aku menepuk lengannya, kami berjalan melewati gerbang dengan Zeki yang menggenggam erat tanganku.


Hawa di sekitar menghangat saat kami telah melewati gerbang, dengan banyak sekali bunga beraneka warna yang tumbuh di hadapan kami. “Sachi!” suara teriakan perempuan, membuatku pandanganku teralihkan.


“Bibi!” Aku melepaskan genggaman tanganku pada Zeki, lalu membalas pelukan yang dilakukan Bibiku itu.


“Cepat, cepatlah! Mereka semua menunggu kalian di Desa,” tukas Bibi dengan merangkulkan tangannya di lenganku.


“Apa kau bingung? Kenapa Ayah membukakan gerbang untukmu sedikit jauh dari Desa.”


Kepalaku mengangguk membalas perkataannya, “itu karena kau membawa Nagamu. Desa akan tiba-tiba membeku, jika sihir dari Nagamu itu menyeruak saat dia melewati gerbang.”


“Lupakan hal yang tidak terlalu penting seperti itu. Aku, sangat bahagia mendengar kabar kehamilanmu. Aku ingin sekali pergi mengunjungimu. Namun, sihirku belumlah pulih sepenuhnya saat membantu Putranya Haruki lahir.”


“Dia telah lahir?”


Bibi menganggukkan kepalanya, “mereka semua ada di Desa. Haruki dan Izumi pun, diterima baik oleh penduduk desa karena mereka mengajari para penduduk bertarung menggunakan kekuatan fisik. Eneas dan Lux pun sama, mereka membantu kami semua mengembangkan banyak sekali racun dan obat. Dan apa kau tahu, Putranya Haruki, terlihat mirip sekali dengan Ayahnya … Bibi selalu meleleh, setiap kali dia tersenyum saat Bibi menggendongnya.”


“Aku semakin tidak sabar melihatnya,” ucapku tersenyum, membalas senyuman Bibi.


“Dan kau keponakan, kau bergerak dengan cepat sekali. Bahkan aku, tidak perlu menunggu waktu lama untuk mendapatkan keponakan,” sambung Bibi yang mengalihkan senyumannya pada Zeki yang berjalan di belakang kami.


“Bibi, ada yang ingin aku tanyakan,” tukasku yang membuat pandangan Bibi kembali mengarah padaku.


“Apa itu? Tanyakan saja!”


“Tubuhku, mengeluarkan aroma harum semenjak hamil. Apa Bibi mengetahui hal ini?”


Senyuman di wajahnya menghilang, “lalu, apa sebagai suami kau juga mencium aroma tersebut?”


“Aku menciumnya,” jawab Zeki saat Bibi mengalihkan tatapan ke arahnya.


“Itu memang biasa untuk para Elf. Jika seorang Elf mengandung, baik Ayah atau Ibu dari sang Anak akan mencium aroma bunga tertentu. Tapi Sachi, kau setengah Elf. Bahkan Elf murni pun, tidak akan secepat itu keluar aroma harum dari tubuhnya.”


Aku ikut menghentikan langkah seperti Bibi, “Zeki, di antara bunga yang ada di sampingmu. Bunga yang mana, yang harumnya sama persis dengan aroma yang Sachi keluarkan. Apa kau bisa membantu Bibi mencarinya?” tukas Bibi sambil menunjuk ke arah padang bunga yang jauh berada di samping kami.

__ADS_1


......-The End-......


__ADS_2