
"Sebelum sampai ke tujuan, kemungkinan kita akan berlabuh di suatu tempat terlebih dahulu," ucap Aydin sembari mengambil sepotong daging bakar yang ada di hadapannya lalu melahapnya.
"Berlabuh?" Sambung Haruki meraih cangkir berisi teh yang ada di hadapannya lalu meminumnya.
"Emre, jelaskan!" Ucap Aydin sembari tetap melahap potongan daging yang ada di genggamannya itu.
"Pasokan makanan dan juga air hampir habis, jadi kita perlu berlabuh untuk mendapatkan semua kebutuhan," jawab Emre, ia berdiri di samping Aydin dengan pandangan menatap Haruki.
"Aku mengerti," sambung Haruki kembali menyeruput teh miliknya.
"Makanlah daging ini," ucap Zeki meletakkan sepotong daging bakar berukuran besar di hadapanku.
"Aku sudah kenyang," ucapku meraih cangkir yang ada di dekatnya lalu kuarahkan cangkir berisi air tadi mendekati Cia yang duduk di pangkuanku.
"Aku tidak melihatnya, aku tidak melihatmu memakan apapun."
"Aku sudah kenyang, jangan memaksa," ungkap ku berbalik menatapnya.
"Apa kau sedang sakit perut lagi?"
"Sakit?"
"Tidak, lupakan saja," ungkapnya kembali padaku.
"Aku sudah selesai, aku akan langsung ke kamar mengajak Cia," ucapku beranjak berdiri dengan menggendong Cia, kulangkahkan kakiku menjauhi mereka yang masih sibuk melahap makanan di atas meja.
Aku melangkahkan kaki menyusuri lorong kapal dengan kedua tanganku menggendong Cia agar tak jatuh. Sesekali, langkah kakiku terhenti saat kapal bergoyang kuat oleh ayunan ombak di luar.
"Sa-chi," suara Cia terdengar pelan sembari kurasakan sentuhan yang berulang-ulang menusuk pipiku.
"Apa kau telah mengantuk? Maaf, aku terlalu larut dalam pikiranku sendiri," ucapku saat tersadar dari lamunan, kembali kulangkahkan kakiku mendekati kamar.
______________________
Aku berbaring menyamping, menatapi Cia yang lelap tertidur. Pikiran dan hatiku tiba-tiba kacau saat kenangan ku selama menjadi Sakura tiba-tiba terlintas kembali...
Maafkan aku Ibu Panti, aku tidak bisa menepati janjiku sendiri.
Kepalaku menoleh ke belakang, tubuhku beranjak duduk saat terdengar suara Zeki diikuti suara ketukan pintu dari luar kamar. Bisakah kau keluar? Begitulah kata-kata yang ia ucapkan dari balik pintu.
Aku beranjak berdiri sembari kuarahkan kakiku meraih sepasang sandal lalu memakainya. Aku berbalik melangkah mendekati pintu lalu membukanya...
"Apa kau ingin ikut denganku?" Ucapnya saat aku kembali menutup pintu lalu berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Ke mana?" Ucapku saat Zeki meraih tanganku lalu menariknya pelan melangkah mengikutinya.
Zeki menuntunku keluar dari dalam kapal, aku sedikit mengalihkan pandangan ke samping saat angin menampar sedikit wajahku. Kugerakkan kepalaku ke atas, cahaya bulan dengan sebuah bintang kecil di dekatnya terlihat menerangi kami di lautan.
"Ke sini," ucap Zeki kembali menarik tanganku mendekati ujung kapal.
"Kenapa kau mengajakku ke sini. Udara di luar sangat dingin, apa kau tahu," ucapku, kuangkat sebelah telapak tanganku menutup mulutku yang menguap lebar.
"Apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" Ucapnya saat aku berdiri menatapnya dengan tubuhku bersandar pada dinding kapal.
"Apa aku membuatmu khawatir? Jika iya, maaf," ucapku mengalihkan pandangan menatap lautan.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya kembali, kali ini pandangannya terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Aku hanya teringat sesuatu yang tak ingin ku ingat," ucapku kembali menatap lautan di hadapan kami.
"Jangan mencoba membohongiku."
"Aku tidak membohongimu," sambungku menatapnya, tampak terdengar suara helaan napas yang ia keluarkan.
"Baiklah, bagaimana keadaan mereka bertiga?" Tanyanya sembari ikut bersandar menatapi laut di belakangku.
"Aku sudah bisa berkomunikasi lagi dengan Kou, Lux dan Uki pun sudah mulai sehat," ucapku menundukkan pandangan menatap ujung kaki.
"Ada apa denganku? Apa ada yang salah?" Zeki melemparkan pertanyaan balik padaku.
"Lambat laun, Kaisar akan mengetahui jika Raja Yadgar telah digantikan olehmu. Itu berarti, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu berserta Kerajaan," ucapku ikut menggerakkan tubuh berbalik menatap laut.
"Apa kau mengkhawatirkanku?"
"Tentu saja, bagaimana aku tidak mengkhawatirkan tunanganku sendiri. Kau bodoh," ucapku tanpa menoleh ke arahnya.
"Katakan," ucapnya sembari meraih rambutku, Zeki meletakkan wajahnya di atas pundakku.
"Katakan? Apa yang harus aku katakan?" Kulirik ia yang tersenyum menatapku dari samping.
"Katakan, aku mencintaimu, Zeki," ungkapnya pelan di telingaku, tubuhku terasa merinding seketika saat dia meniupkan udara hangat di telingaku itu.
"A-apa yang kau lakukan?" Ungkap ku berjalan mundur menjauhinya, semakin kuat kuletakkan telapak tanganku pada telingaku tadi.
"Menghiburmu," ungkapnya mengarahkan telapak tangannya yang terbuka ke arahku.
"Apa kau? Apa kau telah kehilangan pikiran?" Tukas ku yang dibalas dengan suara tertawa yang ia keluarkan.
__ADS_1
"Kau benar, jika tidak... Mana mungkin, aku menyusul ke sini hanya untuk melihatmu," ucapnya tersenyum menatapku.
"Terima kasih," ucapku berjalan mendekatinya, kupeluk kuat tubuhnya sembari kepalaku kuarahkan bersandar di dadanya.
"Apa yang kau lakukan?" Ungkapnya diikuti ketukan-ketukan pelan di kepalaku.
"Terima kasih, karena selalu melakukan yang terbaik. Maaf, karena aku terlalu menuntut banyak hal padamu," ucapku, kubenamkan kepalaku di dadanya.
"Apa yang kau katakan? Kau pasanganku," ucapnya meraih pinggangku lalu mengangkat tubuhku ke atas, Zeki berbalik lalu meletakkan tubuhku duduk di samping kapal sedangkan ia berdiri di hadapanku.
"Karena kita pasangan, mendukung dan memberi dukungan itu hal yang wajar. Jangan berhenti memarahiku, hanya karena aku telah menjadi seorang Raja," ucapnya kembali, diraihnya rambutku sembari diletakkannya menyelip di daun telingaku.
Kuletakkan wajahku di pundaknya sembari telapak tanganku menggenggam kuat pakaian yang ia kenakan. Kugigit kuat bibirku, semakin dalam wajahku tadi tenggelam di pundaknya...
"Sachi," ucapnya, kurasakan kembali ketukan-ketukan pelan di kepala.
"Terima kasih, terima kasih karena tidak membiarkan aku berjuang sendirian," ucapku dengan suara bergetar.
"Apa yang terjadi padamu?"
"Bukan apa-apa, aku hanya merasa sedikit lega. Dulu, aku selalu berpikir... Bagaimana buruknya dunia ini. Tapi setelah dipikir-pikir, aku merasa bersyukur... Terlahir menjadi Takaoka Sachi, anak dari Ayahku, adik dari kedua Kakakku, Putri dari Kerajaan Sora, dan juga tunangan dari Raja Zeki Bechir," ucapku mengangkat kepala lalu tersenyum menatapnya.
Zeki mengangkat kembali tubuhku sembari ia berbalik menurunkannya kembali. Diletakkan telapak tangannya di dahiku sembari ia berjalan mundur sedikit ke belakang...
"Menyingkirlah," ucapnya membuang pandangan dariku.
"Apa yang terjadi padamu?" Sambungku meraih pergelangan tangannya yang menyentuh dahiku tadi.
"Apa kau tidak bisa berhati-hati pada diri sendiri? Apa kau selalu tersenyum seperti itu dihadapan laki-laki lain?" Ucapnya kembali menggerakkan pandangan menatapku.
"Ada apa denganmu?" Ungkap ku melangkahkan kaki mendekatinya.
"Berhenti, berhenti di sana dan jangan bergerak!" Ungkapnya, Zeki kembali membuang pandangannya ke samping.
"Kau kenapa? Apa yang terjadi?"
"Wuah, aku bisa gila," ucapnya menggaruk-garuk kepalanya sembari pandangannya masih menghindari bertatapan denganku.
"Bisakah kau hanya kembali ke kamarmu tanpa bertanya alasannya. Jika kau tetap seperti itu, aku takut... Tidak bisa mengendalikan diri," sambungnya sembari menatap ke samping dengan sebelah tangan menutupi mulutnya.
"Aku mengerti," ucapku diikuti helaan napas yang keluar, aku melangkahkan kaki mendekatinya yang masih membuang pandangan. Kuarahkan telapak tanganku menyentuh lehernya seraya kuarahkan bibirku menyentuh pipinya.
"Selamat malam. Aku mencintaimu, Darling," bisikku sembari kugerakkan tubuhku berbalik melangkah meninggalkannya.
__ADS_1