
“Apa yang kau katakan? Mengambil kutukan?”
“Ibu, menanggung kutukan yang dahulu diterima kak Haruki, bukan? Sachi, akan mengambil dan menanggung semua kutukan itu agar Ibu, bisa terbebas dari sini,” ucapku pelan kepadanya.
“Bagaimana, kau bisa mengetahuinya? Bagaimana, kau bisa mengetahui Haruki?” tukas suara perempuan itu yang terdengar gemetar.
“Aku Sachi, Ibu. Aku Sachi! Usiaku sekarang enam belas tahun,” ungkapku dengan menggerakkan tangan meraba ke sekitar, “kak Haruki ataupun kak Izumi, mereka tumbuh sangat tampan dan kuat. Apa Ibu, tidak ingin melihat mereka?” ungkapku kembali dengan menggenggam sebuah jari yang aku temukan.
Genggaman tanganku tadi semakin menguat saat suara tangisan perempuan terdengar, “pulanglah Sachi, jangan menyiksa dirimu sendiri … Hanya untuk seorang Ibu yang meninggalkanmu,” tukas suara itu lagi diikuti telapak tangannya yang gemetar ketika kugenggam.
“Mereka membutuhkanmu. Seberapa kuat aku mencoba, Sachi tidak akan bisa menggantikan Ibu. Sembuhkan luka mereka, Ibu … Mereka, tidak bisa memaafkan diri mereka karena gagal menyelamatkanmu. Hatiku sakit, saat aku ingin menolong mereka … Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan,” timpalku yang ikut gemetar bersuara.
“Aku, memiliki hewan yang bisa menghancurkan semua kutukan yang aku terima. Jadi jika Ibu, mengkhawatirkanku karena kutukan itu akan selalu bersama denganku … Ibu salah. Percayalah padaku, percayalah pada Putrimu ini. Apa Ibu, tidak ingin melihatku? Aku pun, ingin memakan masakan Ibu seperti mereka.”
“Tolong Ibu, berikan semua kutukan itu kepadaku,” ungkapku yang semakin ditimpali dengan suara tangisan perempuan yang kian kuat terdengar.
“Jika Sachi katakan, jika aku sangat menyayangi Ibu. Apa Ibu, akan percaya?”
__ADS_1
“Ibu percaya,” tangisnya yang diiringi isakan.
“Aku berharap, aku menanggung semua kutukan yang Ibu dapatkan. Aku berharap, dapat menghapus semua ketakutannya jika semua kutukan itu, dapat beralih kepadaku,” ungkapku dengan mengulangi kata-kata yang sempat Zea ajarkan.
“Jadi Deus, kabulkan harapanku.”
Angin semilir berembus entah dari mana. “My Lord!” teriakan Kou di kepalaku membuat aku jatuh ke depan seketika.
“Tenanglah Kou, jangan membuat Ibu dan Adikku ketakutan,” bisikku lirih sembari kugigit kuat bibirku yang berhenti gemetar.
“Bibi, tolong bawa Ibuku ke hewan yang datang bersamaku. Aku akan menyusul segera,” sambungku dengan menggenggam kain yang menyentuh telapak tanganku.
Aku mengembuskan napas dengan semakin mencengkeram kain yang sebelumnya aku genggam. Aku merasakan, semilir angin berembus dari ujung kakiku lalu menjalar dan terus menjalar naik ke atas. Tubuhku menggigil, tulang-tulangku seakan remuk oleh sesuatu yang tak bisa aku jelaskan.
Aku menarik napas dalam lalu mengembuskannya kembali ketika semilir angin itu berhenti berembus, aku kembali beranjak duduk saat tubuhku yang sebelumnya sulit untuk digerakkan … Mulai kembali dapat kugerakkan. Aku beranjak berdiri lalu berjalan mendekati cahaya yang terlihat dari luar.
Langkah kakiku terhenti, aku tertunduk dengan mengerang kesakitan saat tubuhku terasa tiba-tiba terbakar oleh sesuatu. Kuangkat telapak tanganku yang terlihat mulai mengelupas seiring cahaya yang semakin banyak menyentuh tubuhku. Aku kembali berbalik lalu menarik kain hitam yang menjadi tirai di belakangku. Kuarahkan kain tadi menyelimuti tubuh sembari kupercepat langkah berlari meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Aku semakin mempercepat langkahku berlari melewati jalan yang dibuat oleh Bibiku sebelumnya, ikut pula sebuah dinding dari es yang Kou buat saat beberapa dari mereka hendak mendekatiku. “Kou, aku butuh darahmu,” ucapku saat aku telah berhenti di dekatnya.
Kou menggerakkan kepalanya ke samping lalu menggigit kakinya sendiri hingga berdarah, dia duduk berjongkok saat gigitannya itu terlepas. Aku melangkah maju, mendekatkan mulutku pada lukanya seraya kuhisap sedikit demi sedikit darahnya yang keluar itu. Kou segera merangkul tubuhku dengan lehernya saat aku kembali jatuh ketika aku telah selesai meneguk darahnya, “My Lord,” panggilan berulang yang memanggil namaku, membuatku dengan perlahan kembali membuka mata.
Kutatap lalu kuusap kulitnya yang putih itu saat aku kembali terbangun, aku mencoba beranjak berdiri sambil kulemparkan tatapan mataku ke sekitar … Hamparan rumput yang sebelumnya aku lihat dan injak, telah berganti dengan lempengan es yang membekukan. “Kalian, kembalilah!” perintahku kepada para Manticore yang berdiri mengepung para Elf berserta rusa mereka.
“Dan bawa rusa kecil itu pulang bersama kalian. Aku akan membunuh kalian, jika kalian berani untuk memakannya,” ucapku kembali sambil menunjuk ke arah para Manticore yang telah berbaris di hadapanku.
Aku melirik ke arah rusa kecil yang masih berdiri tak berkutik di dekat Kou, “pulang bersama mereka! Mereka akan menjagamu,” ucapku dengan menunjuk ke arah para Manticore yang telah berjalan meninggalkan kami.
Pandangan mataku kembali terangkat ke arah mereka yang masih mengarahkan tatapannya kepadaku, dengan perlahan aku berjalan menyusuri lempengan es tersebut mendekati mereka. Aku membungkukkan tubuh di hadapan laki-laki yang menjadi Kakekku itu, “dalam beberapa hari, es ini akan mencair. Maaf, jika kedatanganku membuat tempat tinggal kalian seperti ini,” ungkapku dengan kembali beranjak berdiri menatapnya.
“Kakek, aku pergi membawa Ibu dan Adikku. Aku tahu, jika kau memenjarakan adikku, tapi aku benar-benar berterima kasih, karena setidaknya dia masih dibiarkan hidup. Berhati-hatilah pada manusia yang disebut Kaisar, dia memiliki makhluk menjijikan seperti yang aku miliki. Hewannya, dapat membakar apa pun yang ia temui. Segeralah lari, jika kalian merasakan sihir yang sama kuatnya seperti sihir dari hewan milikku itu, jangan mencoba melawannya jika kalian tidak ingin musnah.”
“Hanya itu, yang dapat aku sampaikan,” ucapku kembali membungkukkan tubuh sebelum berbalik lalu melangkahkan kaki membelakangi mereka.
“Siapa kau? Kenapa tubuhmu, diselimuti banyak sekali sihir dari berbagai makhluk?”
__ADS_1
Aku menghentikan langkah kaki lalu berbalik menatapnya, “aku cucumu yang lahir enam belas tahun lalu di dunia manusia. Aku, tidak ingin mengikat kalian dengan kontrak seperti yang aku lakukan pada beberapa makhluk yang lain, karena aku … Ingin hidup menjadi cucumu, bukan menjadi Tuan dari kakekku sendiri. Ini juga bentuk penghormatanku kepada Ibuku, aku tidak bisa melakukan hal itu kepada Ayahnya yang telah merawatnya dari kecil,” ungkapku dengan kembali berbalik lalu berjalan semakin mendekati Kou.
“Aku akan mengajak Ibu untuk sering-sering berkunjung ke sini jika dia merindukan Ayahnya. Ah,” ucapku kembali menghentikan langkah lalu menoleh ke arah mereka, “jangan meremehkan setengah manusia sepertiku. Karena satu kata saja dariku, kalian semua bisa menjadi budak seperti yang aku lakukan pada para makhluk-makhluk tadi,” sambungku lagi dengan kembali berjalan berlalu mendekati Kou.