Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXVII


__ADS_3

Aku menyandarkan tubuh di samping pintu dengan kedua tangan menyilang ke dada, “apa Makoto masih lama sampainya?” Tukasku melirik ke arah mereka berdua yang telah beranjak berdiri.


Arata menoleh ke kanan, “dia telah lama pergi, kemungkinan … Oh, itu dia,” tukasnya dengan mengarahkan jari telunjuk ke arah yang sama.


Aku menoleh ke arah yang dimaksud, kutatap Makoto yang tengah berjalan mendekat dengan sebuah buntalan kain di tangannya, “apa kalian semua menungguku?” Ungkapnya ketika kedua langkahnya berhenti di depan kami.


“Ada tempat yang ingin aku kunjungi. Apa kau menemukan pakaian untuk aku kenakan?”


Makoto berbalik menatapku, dia mengangkat bungkusan kain yang ada di tangannya itu, “aku membawanya, Hime-sama,” ucapnya mengarahkan bungkusan kain tadi kepadaku.


Aku meraih bungkusan kain tadi, “terima kasih. Tunggu sebentar, aku akan segera kembali,” ungkapku berjalan mundur lalu menutup kembali pintu.


Aku berbalik mendekati ranjang, kuletakkan bungkusan tadi ke atas kasur lalu kubuka ikatan yang ada di atasnya. Kedua tanganku membuka ikatan jubah yang aku kenakan sembari kuletakkan jubah tersebut di atas kasur. Aku meraih lipatan pakaian yang ada di atas sehelai kain tadi, aku kembali berbalik mendekati sebuah pintu, membuka pintu tersebut lalu berjalan melewatinya.


Di dalam ruangan itu, aku melucuti sehelai demi sehelai pakaian yang aku kenakan. Kedua kakiku berjalan mendekati sebuah meja kecil lalu meraih pakaian yang dibawa Makoto, kukenakan pakaian dan juga celana panjang berwarna cokelat itu di badanku.


Aku kembali berbalik melangkahkan kaki mendekati tumpukan pakaian yang tercecer di lantai. Kugerakkan tubuhku duduk berjongkok dengan meraih dan melipat rapi pakaian yang sebelumnya aku kenakan. Aku beranjak berdiri seraya kedua kakiku melangkah mendekati pintu lalu membukanya.


Kembali, aku melangkah mendekati ranjang, meletakkan pakaian yang ada di tanganku tadi ke atas sehelai kain lalu membungkus pakaian itu menggunakan selembar kain tersebut. Aku menunduk dengan melepaskan pita kain yang mengikat rambut, lalu mengikatnya kembali seperti semula … Bahkan lebih kuat dibanding sebelumnya.


Tanganku meraih jubah yang tergeletak di atas kasur, mengenakannya lalu berbalik melangkahkan kaki menjauhi ranjang tersebut. Aku membuka pintu kamar, kedua kakiku berjalan melewatinya dengan sedikit melirik ke arah mereka yang masih berdiri menunggu, “apa kalian memiliki senjata lebih?” Tanyaku sambil kembali menutup pintu dengan rapat.


“Arata, pinjamkan aku salah satu pedangmu,” ungkapku lagi dengan mengarahkan telapak tangan kananku ke arahnya.


Arata melirik ke arah pinggangnya, dia menarik salah satu pedang berserta sarungnya lalu diberikannya kepadaku, “Hime-sama, kau memiliki kami bertiga untuk menjagamu. Pedang itu, aku jamin tidak akan berguna,” ungkapnya yang masih mengarahkan pandangan ke arahku.

__ADS_1


“Aku tahu,” ungkapku dengan menggantungkan pedang tadi ke pinggang, “tapi, kadang kala aku juga ingin ikut terjun dalam pertarungan,” sambungku dengan tersenyum menatapnya.


“Sano,” ucapku dengan melirik ke arahnya, “bawa aku ke perpustakaan yang ada di Kerajaan ini,” lanjutku dengan mengangkat penutup kepala dari jubah yang aku kenakan.


________________


Aku berjalan dengan melirik ke sekitar, kepalaku sesekali tertunduk saat beberapa Kesatria berjalan melewati. Aku berbelok ke kanan saat Sano juga ikut berbelok, “perpustakaan, perpustakaan,” ucapnya yang tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata itu.


Dia menghentikan langkah kakinya, sebelah tangannya menunjuk ke arah benteng besar yang jauh di atas bukit, “perpustakaan, hanya ada di Istana,” ucapnya berbalik menatap kami.


“Kenapa?” Ungkapku tertunduk dengan mengepalkan kedua tanganku, “kenapa kau tak mengatakannya dari awal jika perpustakaan itu ada di Istana!” Aku berteriak kuat menahan amarah menatapnya.


“Hime-sama, inilah yang ingin aku lihat. Gelora amarahmu yang membuat tubuhku bergidik memang tiada duanya,” ucapnya dengan menyilangkan kedua lengannya menyentuh pundak.


“Maaf Hime-sama, tapi itu mustahil.”


Aku berbalik menatap Makoto yang juga berdiri di sampingku, “aku pun mustahil melakukannya, Hime-sama,” ungkap Makoto sebelum aku sempat mengatakan sesuatu.


“Hime-sama, jangan melihat seseorang dari luarnya. Kemampuan bertarung Sano, hampir menyamai Kapten. Apa engkau masih ingat Hime-sama, berapa nomorku?” Ungkap Arata lagi dengan tersenyum menatapku.


“Sepuluh,” jawabku yang dibalas dengan anggukan kepala darinya.


“Sebenarnya, di antara mereka, aku yang paling lemah Hime-sama. Kekuatan bertarung para wakil kapten ditentukan berdasarkan nomor-”


“Tunggu dulu,” ucapku memotong perkataannya sembari mengangkat sebelah tangan ke arahnya, “mustahil. Aku melihatnya sendiri, betapa cepat dan kuatnya kau saat di Tao,” sambungku lagi padanya.

__ADS_1


Arata tersenyum menatapku, “para wakil kapten, setara dengan seorang Kapten di Kerajaan lain. Tiga dari lima besar wakil kapten, menjaga langsung kalian bertiga.”


“Tsubaru yang menjagamu, Hime-sama … Dia nomor dua dari sepuluh wakil kapten. Tatsuya yang menjaga Pangeran Haruki, dia di nomor tiga. Tsutomu sendiri di nomor empat. Kazuya di nomor lima, Makoto nomor enam. Sedangkan dia,” ucap Arata mengarahkan jari telunjuk ke arah Sano yang masih terus meracau, “pemimpin, sekaligus nomor satu dari sepuluh wakil kapten,” sambung Arata kembali berucap.


Aku berbalik menatap Sano, “nomor satu? Apa dia benar lebih hebat dibanding Tsu nii-chan yang sangat aku kagumi?” Gumamku dengan masih menatapnya.


“Dia memanglah seperti itu, Hime-sama. Tapi ketika bertarung, menjauhlah darinya atau kau akan ikut terluka. Ketika pedang yang ada di pinggangnya itu dia tarik, Sano yang kau lihat sekarang … Akan langsung menghilang,” ucap Makoto yang membuatku berhasil menoleh.


Aku tertunduk menatap kedua kakiku, “aku pikir, Tatsuya yang menjadi pemimpin kalian,” ucapku yang terdengar pelan keluar.


“Dari sepuluh wakil kapten, mungkin … Memang hanya Tatsuya yang waras dibanding kami. Jadi tidak aneh, jika di antara kami bersepuluh … Dia yang dipinta langsung oleh Yang Mulia untuk menjaga Pangeran Haruki.”


“Bagaimana dengan Tsutomu?” Aku kembali bertanya kepada Makoto.


“Tsutomu?” Tukasnya yang aku balas dengan anggukan kepala, “Tsutomu seperti tali yang merekatkan kami. Kami bersepuluh dulu hanyalah anak-anak korban perang yang tidak tahu harus melakukan apa untuk hidup. Kami pun tidak mengenal satu sama lain pada awalnya … Tapi karena Tsutomu selalu tak berhenti mencoba mengajak kami berbicara, kami bisa menjadi dekat seperti sekarang,” ucap Makoto lagi dengan tersenyum menatapku.


“Hime-sama, apa kau yakin ingin pergi ke sana?” Tukasnya lagi dengan mengangkat jari telunjuknya ke arah bukit yang ditunjuk Sano sebelumnya.


“Aku ingin ke sana. Aku ingin mengetahui apa pun yang harus aku ketahui, tapi aku tidak yakin … Akan sanggup atau tidak menembus benteng itu dengan hanya kita berempat,” ucapku dengan masih menatap benteng tadi.


“Jika hanya itu, serahkan semuanya padaku, Hime-sama … Benteng itu, tidak ada apa-apanya dibandingkan Kekaisaran. Tunggulah, aku akan membawamu masuk ke dalam benteng itu,” ucap Makoto dengan berbalik lalu melangkah pergi.


Aku kembali menoleh ke arah Arata, “apa yang ia maksudkan, Arata?” Tukasku kepadanya.


“Jika Makoto sudah berkata seperti itu, tugas kita sekarang hanyalah menunggunya,” ungkap Arata menoleh lalu tersenyum menatapku.

__ADS_1


__ADS_2