
"Apa kau mengabaikanku?!" teriak Chandini, menoleh aku menatapnya yang masih bergelantungan di lengannya Akash.
"Apa kau tadi sedang berbicara padaku?" tanyaku balas menatapnya, kutatap dia yang langsung melepaskan rangkulannya di lengan Akash lalu berjalan ia mendekatiku.
"Kau!" teriaknya seraya mengangkat telapak tangannya ke arahku.
Beranjak berdiri aku seraya menangkap dan mencengkeram lengannya tadi dengan kuat, kugerakkan kaki kananku menendang bagian belakang betisnya. Jatuh ia terduduk di hadapanku dengan sebelah tangannya kugenggam erat...
"Kau bisa bela diri?" ucap Amithi menatapku.
"Bela diri?" ucapku balik padanya, kulepaskan genggaman yang aku lakukan pada Chandini sebelumnya. Kutatap ia yang jatuh dengan kepalanya menyentuh ujung kakiku.
"Bukankah ini bagus Akash," ucap Kabir menatap temannya itu.
"Kita dapat melumpuhkan sasaran lebih banyak dengan kemampuannya itu," sambungnya kembali.
"Sasaran?" ucapku pada Amithi.
"Tentu saja para bangsawan, mengambil harta mereka secara sembunyi-sembunyi adalah pekerjaan kami," ucap Kabir menatapku.
"Dia terluka kau tahu, apa kau ingin membunuhnya?" ucap Amithi menatapi Kabir.
"Dia harus berkerja untuk dapat makan. Kita bukan manusia baik yang akan memberikan makanan kita secara percuma pada orang asing," sambung Akash menatapku.
"Jadi dia akan mengikuti kita mengunjungi kota," sambungnya kembali, beranjak ia seraya berbalik dan berjalan menjauh.
"Kalian perampok?" bisikku pada Amithi.
"Aku akan menjelaskannya, kemarilah!" ungkapnya menarik pelan lenganku.
Berjalan kami berdua menyusuri hutan, duduk ia di sebuah batu besar yang ada di pinggir sungai. Kulangkahkan kakiku mendekatinya seraya duduk aku di sampingnya...
__ADS_1
"Kerajaan tempat asal kami bukanlah Kerajaan yang besar, jadi Raja sering memperlakukan rakyatnya dengan semena-mena..."
"Bukan hanya perempuan, tapi banyak juga laki-laki yang kehilangan nyawanya karena pekerjaan paksa yang sering diperintahkan Raja pada Rakyatnya..."
"Semua keluarga kami berempat menjadi korban, bahkan Chandini harus kehilangan tunangannya..."
"Kau mengatakan hal itu sebelumnya, apa itu tunangan?"
"Perempuan seperti kita, ketika berusia empat tahun akan ditunangkan dengan seorang laki-laki asing. Kaupun pasti memilikinya," ucapnya tersenyum menatapku.
"Kemarilah, aku akan melihatnya untukmu," tukasnya, diraihnya kepalaku berbaring di pahanya seraya disingkapnya rambutku yang panjang olehnya.
"Zeki... Bechir."
"Zeki Bechir, nama dari tunanganmu," ucapnya lagi seraya melepaskan tangannya dari kepalaku.
"Zeki Bechir?" ucapku seraya menyentuh belakang telinga seperti yang dilakukan Amithi sebelumnya, kuangkat kepalaku dari pahanya seraya balas aku menatapnya.
"Zeki? Darling?" gumamku pelan seraya mengalihkan pandangan ke samping.
"Tidak, aku hanya penasaran seperti apa dia," ucapku balas tersenyum padanya.
"Jika aku jadi kau, aku akan memilih untuk tidak bertemu dengannya. Karena jika dia tidak memilihmu, kau akan dieksekusi... Dan itu berarti kepalamu sendiri akan terbang langsung dari lehermu," ucapnya mengalihkan pandangannya dariku.
"Bagaimana dengan tunanganmu?"
"Tunanganku sudah lama mati, jadi aku mengikuti langkah mereka. Aku melarikan diri setelah mendapat kabar tentangnya, jika tidak? Mungkin aku sudah mati dari dulu."
"Dan Chandini? Kau mengatakan jika tunangannya juga sudah... Tapi, maksudku Akash bukankah?"
"Aku, Akash, Chandini telah berteman sejak kecil. Jadi kau dapat mengatakan jika Akash bertunangan dengan Chandini untuk menyelamatkan nyawanya," ucapnya menatapku.
__ADS_1
"Kau harus merahasiakannya, atau Akash akan murka padamu," ucapnya tersenyum menatapku.
"Mereka mungkin telah menunggu kita, jadi kemarilah... Aku akan membantumu," sambungnya seraya meloncat dari atas batu sembari diarahkannya telapak tangannya padaku.
________________
"Berhati-hatilah dengan tanganmu, jangan sampai menabrak sesuatu," ucap Amithi merangkul tubuhku seraya telapak tangannya melindungi lenganku yang patah.
"Kenapa hari ini ramai sekali," sambungnya kembali.
"Hari ini, hari dimana Raja berkeliling Kerajaan untuk prosesi berdoa meminta kemakmuran. Itu yang aku dengar dari penduduk," ucap Kabir berusaha berjalan melewati kerumunan manusia.
Langkah kaki kami berlima terhenti, kutatap dari kejauhan arak-arakan kereta yang berjalan semakin mendekati kami. Pandanganku tak henti-hentinya mengagumi kereta-kereta indah nan besar yang melintas di hadapan kami...
"Putri di Kerajaan ini cantik sekali," bisik Amithi, kualihkan pandanganku padanya yang juga tak kalah menatap kagum sepertiku.
"Apa kau tidak berpikir, jika Putri itu menatapmu dari tadi," bisik Amithi kembali.
Kuarahkan pandanganku pada seorang Perempuan yang tengah duduk di salah satu kereta, kulit putihnya tampak terlihat serasi dengan rambut pirang dan mata biru yang ia punya... Ditatapnya lama aku olehnya, diangkatnya lengan gaun yang ia kenakan seraya diarahkannya lengan gaunnya tadi menutupi kedua matanya...
Ditepuknya laki-laki yang mengemudikan kereta tadi untuknya, kereta yang membawanya tadi terhenti. Beranjak ia seraya berjalan ke arahku...
Orang-orang yang berada di hadapanku tampak menyingkir dari jalannya, kutatap beberapa Kesatria yang mengikuti langkah kakinya. Berdiri ia di hadapanku dengan kedua matanya yang memerah seraya berjalan ia mendekat lalu memeluk erat tubuhku...
"Sachi, aku mencarimu kemana-mana. Kau kemana saja?" tangisnya, pelukannya padaku semakin kuat. Rasa sakit di lenganku seakan tergantikan dengan rasa sesak yang menjalar di dada.
"Kau seharusnya memberiku kabar, bukankah aku temanmu," ucapnya sesenggukan, ditatapnya aku dengan kedua matanya yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
"Apa kau mengenalku?" ucapku dengan suara bergetar padanya.
"Aku Julissa, aku sahabatmu. Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa lupa padaku," ungkapnya lagi dengan suara terbata-bata disertai parau.
__ADS_1
"Sachi, kau memanggilku Sachi. Apa itu namaku?" ucapku yang ikut menangis mengikutinya, dibalasnya perkataanku tadi dengan anggukan kepala darinya.
"Sachi, Takaoka Sachi. Namamu Takaoka Sachi," ungkapnya seraya tersenyum menatapku.