Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDXLVII


__ADS_3

Aku mengarahkan pandangan mataku menoleh ke belakang, kutatap Pria yang memandu kami tersebut telah mengarahkan pandangannya ke arah kami bergantian. “Kalian pasti telah mendengar, jika ini wilayah kekuasan Baron. Tapi tenang saja, aku tidak memihak Ayahku,” ungkapnya dengan senyum yang terlihat putus-putus dari wajahnya.


Ada apa dengan laki-laki ini? Apa dia tidak waras?


“Apa kau bermaksud mengajak kami ke sini, karena kau pikir, kau bisa menjebak kami?”


Laki-laki itu berjalan mendekati Haruki, dia mengangkat telapak tangannya mendekati wajah Haruki yang dengan cepat dihentikan Haruki saat itu juga, “jangan mencoba menyentuh salah satu dari kami dengan tangan menjijikanmu itu,” ucap Haruki sambil melemparkan tangan laki-laki yang ia cengkeram itu ke samping.


Laki-laki itu mengangkat kedua tangannya ke depan dada, “aku tidak berniat menyentuh salah satu dari kalian. Hanya jawab pertanyaanku, maka aku akan membiarkan kalian pergi dari sini … Apa dia,” ucapnya dengan menunjuk ke arahku, “belum tersentuh sama sekali,” sambungnya lagi dengan melirik ke arah Haruki.


“Karena kalian terlihat seperti sangat melindunginya, itu berarti dia masihlah pe-”


Ucapan laki-laki itu terhenti ketika tas yang Izumi bawa, tiba-tiba telah terlempar menampar wajahnya. Pria tersebut tertawa keras saat dia mengangkat tas yang menimpa wajahnya itu, aku mengalihkan pandangan mataku ke sekitar, melirik ke arah beberapa laki-laki dengan senjata yang telah mengepung kami.


“Bersiaplah untuk memanggilnya,” aku mengarahkan pandangan kepada laki-laki tadi, ketika Haruki membisikkan kata-kata itu menggunakan bahasa Jepang.


“Kou, datanglah! Aku membutuhkan bantuanmu,” bisikku lemah ketika beberapa laki-laki itu telah berjalan mendekati kami.

__ADS_1


Haruki melepaskan rangkulannya, dia berdiri membelakangiku dengan Izumi yang berdiri di sampingnya. Aku melirik ke arah Eneas yang telah memasukkan tangannya ke dalam tas yang ia bawa. Aku menarik napas dalam, kucoba sebisa mungkin untuk menenangkan diri, seperti yang sering Duke perintahkan padaku.


“Berhati-hatilah dengan dua laki-laki itu, mereka kuat,” ucapnya yang membuatku melirik ke arahnya..


Pandangan mataku beralih kepada Haruki dan juga Izumi yang telah bergerak menghalau serangan lawan dengan tangan kosong. Izumi mengunci salah satu leher laki-laki yang ada diikuti kakinya menerjang kuat laki-laki lainnya yang berlari mendekatinya. Aku beralih menatap Haruki yang telah mencengkeram dagu lawannya sebelum dia meninju kuat leher lawannya itu, hingga kepala laki-laki yang menjadi lawannya itu langsung tertunduk.


Aku melirik ke arah Eneas yang melemparkan sesuatu dari dalam tasnya ke arah tiga orang laki-laki yang berlari mendekatinya. Tiga orang laki-laki itu tertunduk dengan memegang leher mereka masing-masing, sebelum mereka jatuh berlutut di hadapannya.


Tubuhku terhentak saat kurasakan sesuatu menggerayangi pantatku, aku segera mengangkat lenganku lalu berputar hingga wajah laki-laki yang berdiri di belakangku itu terpukul kuat olehnya. Aku kembali mengangkat tinggi kedua lenganku sebelum kupukulkan dengan kuat kedua lenganku tadi ke tengkuk laki-laki itu hingga dia jatuh tersungkur karenanya.


Pandangan mataku tak sengaja bertemu dengan mata laki-laki itu yang membelalak menatapku dari tas milik kami yang ia duduki. Aku membuang pandangan darinya lalu menunduk, menghindari serangan pisau yang dilakukan oleh seorang laki-laki berpostur tinggi kurus. Aku mendongakkan wajah, menatap laki-laki itu yang kembali berjalan mendekat.


Aku meraih pedang yang ia tendang ke arahku, tubuhku kembali beranjak berdiri la lu berbalik menatap beberapa laki-laki yang telah berlutut dengan wajah tertunduk di depan Eneas. Suasana di sekitar terdengar riuh, bahkan semakin riuh memekakkan telinga saat suara reruntuhan ikut mengiringi dari arah belakang.


Aku melirik ke arah Pria tersebut yang beranjak berdiri dari tas yang ia duduki, kedua matanya semakin membelalak mengarah padaku. Aku mengangkat kepalaku saat tubuhku tiba-tiba telah terangkat ke atas saat sesuatu melingkar di pinggangku. “Kou, apa kau lihat benda yang ada di dekat laki-laki itu? Ambilkan benda tersebut untukku,” gumamku melirik ke arah tas kami saat Kou telah menurunkan kembali tubuhku duduk di punggungnya.


Kou berjalan maju beberapa langkah, dia meraih tas yang ada di dekat laki-laki itu menggunakan ekornya. Aku mengangkat tanganku meraih tas yang ia arahkan padaku, Kou mengangkat kepalanya hingga dinding es terbentuk di hadapan kami. Aku melirik ke arah beberapa laki-laki yang menampakkan raut wajah pucat pasi ke arah kami.

__ADS_1


Aku menoleh ke samping saat kurasakan sesuatu menyelinap di dalam rambutku, “Lux, apa itu kau?” Aku berbisik pelan dengan kembali mengarahkan pandangan ke depan.


“Kalian membuatku khawatir, aku tidak bisa berdiam diri begitu saja di sana,” aku tersenyum saat dia balas berbisik pelan di telingaku.


Aku sedikit memiringkan tubuh ke samping ketika tepukan pelan menyentuh pundakku, ikut kuarahkan pandangan mataku melirik ke samping saat tangan Izumi melewatiku, meraih tas besar yang ada di depanku itu. Aku memeluk leher Kou dengan sebelah tanganku saat dia berjalan memanjat keluar dari lubang yang ia buat.


Kou mengepak kedua sayapnya dengan kuat saat dia telah membawa kami semua yang ada di punggungnya keluar dari lubang. Aku mengelus pelan lehernya, “Kou, sebelum pergi. Bantu aku, untuk menghancurkan seluruh benteng yang mengelilingi tempat ini,” ungkapku pelan padanya.


“Apa yang kau lakukan, Sa-chan?”


“Aku, hanya ingin membantu mereka yang sangat ingin keluar dari tempat ini,” ungkapku dengan melirik ke arah bawah, ke arah perkampungan yang sedikit terang terlihat dari atas.


Rangkulanku di leher Kou semakin menguat saat dia tiba-tiba terbang menukik mendekati sebuah tembok tinggi yang ada di hadapan kami. Tembok itu hancur, membentuk sebuah lubang ketika Kou menabrakkan tubuhnya ke dinding tersebut. Kou terbang ke atas, dia berbalik tajam ke arah kanan, melakukan hal yang sama seperti tembok yang kami temui.


“Ke mana lagi kita akan pergi?” Suara Izumi terdengar saat Kou telah kembali terbang pelan membelah udara.


“Kita akan membuang waktu jika kita berhenti di sebuah tempat, lalu tiba-tiba masalah seperti tadi menghalangi,” sambung Izumi lagi di belakangku.

__ADS_1


“Permasalahan terbesar, kita tidak tahu apa yang menunggu kita di Ardenis. Lagi pun, ke sana tanpa membawa apa pun sebagai perlengkapan, sama seperti bunuh diri,” timpal Haruki yang juga terdengar dari belakang.


“Akan tetapi, jika kita sedikit mundur ke Barat. Selain kita menghindar dari Kekaisaran, kita dapat berhenti sejenak di Yadgar ataupun Leta. Bagaimana jika kita mengunjungi Leta sekali lagi? Siapa tahu, Julissa menemukan informasi yang tidak kita ketahui mengenai hal ini,” sambung Haruki kembali bersuara.


__ADS_2