
"Aku tidak bisa melakukannya," ucap Raja Dante kembali.
"Kau tidak bisa melakukannya, sayang sekali," sambungku menatapnya yang tertunduk.
"Kenapa tidak kau terima saja tawaran dari Yang Mulia," ungkap Gil, kualihkan pandanganku menatapnya.
"Karena sama sepertinya, akupun masih bertunangan dengan seseorang. Sebagai Raja, apa membiarkan tunangannya terbunuh karena keinginannya adalah hal yang pantas?" ucapku pada Gil yang masih menatapku.
"Aku, benar-benar tidak menginginkan jika ada yang kehilangan nyawanya karena apa yang aku perbuat. Tidak satupun," ucapku lagi seraya tertunduk.
"Jadi, aku akan melakukan apapun untuk menghindarinya... Bahkan jika itu berarti menghancurkan diriku sendiri," lanjutku seraya beranjak berdiri.
"Akan tetapi, terima kasih karena telah tertarik padaku," ungkapku lagi, berbalik dan berjalan aku menjauhi mereka.
"Apa kau ingin menangis? Kakak tercintamu ini, akan memberikan seluruh pundaknya untukmu," terdengar suara Izumi yang semakin mendekat dari arah belakangku.
"Apa maksudmu nii-chan?" tanyaku yang berbalik menatapnya mendekat ke arahku.
"Aku memintamu untuk menemukan jawabannya sendiri, dengarkan tidak hanya kepalamu... Tapi juga hati," ungkap Izumi seraya berjalan di sampingku.
"Sakit yang terasa di kepala, dapat disembuhkan jika kita berisitirahat yang cukup. Akan tetapi, sakit yang di sini... Sampai kapanpun kau tidak akan bisa menyembuhkan bekas luka yang ia tinggalkan," sambung Izumi seraya meletakkan telapak tangannya di atas dadanya.
"Sebagai Kakakmu, aku tidak ingin melihatmu terluka. Haruki pun, pasti merasakan hal yang sama," ucapnya lagi, tersenyum ia seraya menepuk-nepuk pelan kepalaku.
"Nee-chan!" terdengar teriakan anak laki-laki yang semakin mendekati.
Menoleh aku ke arah Eneas dan juga Haruki yang tengah berjalan mendekati kami. Kutatap ia yang kian lama semakin dewasa, ya walaupun sifat cengeng yang ia punya masihlah tersisa...
"Selamat hari lahir," ucapnya memelukku.
"Terima kasih, apa kau telah menyiapkan hadiah untukku?" ungkapku balas menatapnya.
"Tentu, masih tersimpan di dalam kamar. Aku akan memberikannya nanti," balasnya tersenyum menatapku, kutepuk-tepuk pelan kepalanya seraya ikut tersenyum aku menatapnya.
"Besok kita akan pergi dari sini, jadi bersiaplah," ucap Haruki yang telah berdiri di hadapan kami.
__ADS_1
"Besok?" sambung Izumi kepadanya.
"Kita telah menghabiskan waktu selama enam tahun di sini, dan seperti yang kalian tahu... Kerajaan ini sudah lebih cukup untuk menjadi bantuan kita di masa depan, perekenomian mereka stabil dan juga militer mereka sudah lebih dari cukup dibawah bimbingan Izumi..."
"Jadi, kita tidak perlu membuang-buang waktu lebih lama di sini. Tujuan awal kita ialah mengumpulkan sekutu sebanyak mungkin bukan?" lanjut Haruki kepada kami.
"Apa kau telah membicarakannya dengan Raja Dante?" tanya Izumi lagi kepadanya.
"Aku telah melakukannya sebelum ke sini... Apa terjadi sesuatu padanya? Dia tak henti-hentinya menangis ketika aku dan Eneas menemuinya," ucap Haruki menatapi aku dan Izumi bergantian.
"Ditolak Sachi untuk yang kesekian kalinya," balas Izumi berbalik lalu berjalan.
"Dia masih belum menyerah? mantra apa yang kau berikan padanya?" ungkap Haruki ikut berjalan, diliriknya aku yang tengah menatapnya.
"Aku tidak menggunakan mantra apapun. Dia bertindak seperti itu juga karena dia ingin menahan kalian berdua agar tak meninggalkan Kerajaan ini," ucapku yang mengikuti langkah kaki mereka seraya kurangkul lengan kiriku di pundaknya Eneas.
"Baik-baik Hime-sama, kami mengerti..."
"Mau sebanyak apalagi laki-laki yang kau buat jatuh hati, jangan menambah pekerjaan kami," ucap Izumi menimpali perkataan Haruki.
"Kau tidak melakukannya, kamilah yang melakukan kesalahan," ucap Izumi seraya terus berjalan.
"Apa yang tengah kalian perbincangkan?" ucap Eneas, kualihkan pandanganku menatapnya.
"Tidak ada, jangan dengarkan semua perkataan yang diucapkan dua manusia yang ada di sana," ungkapku pada Eneas yang masih terpaku menatapku.
"Apa itu benar nee-chan?"
"Benar apanya yang kau maksud?" tanyaku balik padanya.
"Jika kau suka mempermainkan hati laki-laki."
"Siapa? siapa yang mengatakan itu semua kepadamu?" ucapku seraya mengapit kedua jariku di bibirnya.
"Haruki nii-chan," ungkapnya balas menatapku dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Nii-chan, apa yang sebenarnya kalian ajarkan pada anak kecil seperti dia!" teriakku seraya mengalihkan pandangan kepada mereka berdua yang kian menjauh.
"Mengatakan kenyataan, semua yang kami katakan adalah kenyataan," ucapnya tanpa menoleh ke arahku.
"Dengarkan semua kata-kata dariku Eneas! Semua yang dikatakan oleh kedua kakak kita adalah bohong, jadi jika kau membahasnya lagi nanti... Aku akan meminta Kou untuk membekukan tubuhmu, apa kau mengerti?" ucapku menatapnya, dibalasnya perkataanku tadi dengan anggukan darinya.
__________________
Kubuka handuk kecil yang melilit rambutku seraya kuraih sisir kayu yang tergeletak di hadapanku. Kuarahkan sisir tersebut membelah rambutku yang setengah mengering seraya kutatap bayangan tubuhku sendiri yang dipantulkan oleh cermin di hadapanku...
Enam tahun kah? Bagaimana keadaanmu sekarang ini, Ayah? Ekspresi seperti apa yang akan kau tampilkan ketika melihat ketiga anakmu kian dewasa...
Dan Tsu nii-chan, aku yakin kemampuan berpedangnya semakin mengesankan sekarang... Waktumu tidak terbagi lagi untuk mengurusi semua keperluanku bukan?
Aaahh, jangan menyesali apapun Sachi... Ingat semua perlakuan Kaisar kepada mereka, ingat semua perlakuan Kaisar pada keluargamu, dan ingat semua perlakuan Kaisar pada Ayah...
Kau tidak boleh berhenti sebelum menghancurkannya, kau tidak boleh berhenti sebelum...
Membawakan kepalanya langsung kepada Ayah.
Lupakan semua tentang kebahagiaan untuk diri sendiri, lupakan...
"Kau benar-benar merepotkan sekali," terdengar suara Lux yang mendekati, kutatap ia yang terbang dan duduk di hadapanku.
"Apa aku membangunkanmu?"
"Tentu saja. Kau memang seorang Putri palsu sejati," ucapnya seraya membaringkan tubuhnya di meja rias yang ada di hadapanku.
"Apa maksudmu, Lux?"
"Apa membohongi diri sendiri memberimu kepuasan?"
"Tidak ada salahnya jika kau berusaha jujur pada diri sendiri. Jika kau sakit katakan sakit, jika kau suka katakan suka, jika kau rindu katakan rindu..."
"Apa kau ingat? ketika pertama kali kita bertemu, kau mengucapkan jika yang kalian lakukan tidak lain tidak bukan keinginan egois darimu sendiri... Tapi sayangnya, sampai sekarang aku tidak bisa melihat bagian mana yang kau sebut egois itu sendiri..."
__ADS_1
"Tanpa sadar kau hanya selalu dan selalu memikirkan orang-orang di sekitar... Kaupun harus bahagia, dengan begitu... Semua yang ada di sekitarmu juga akan mengikuti," ucap Lux seraya tersenyum menatapku.