
Sano berjalan melewatiku diikuti genggaman tangannya di lenganku terlepas, “itadakimasu,” ucapnya, aku menoleh ke belakang mengikuti jejaknya.
Mataku membesar saat pandanganku terjatuh pada tiga orang Kesatria yang telah berdiri di hadapan Sano, tiga orang Kesatria itu mengacungkan pedang yang ada di tangan mereka ke arah Sano. Sano masih berdiri diikuti sebelah tangannya mengangkat sebilah pedang ke atas.
Dia menggenggam erat sebilah pedang tadi seraya ujung mata pedangnya di arahkannya ke para Kesatria. Langkah kaki para Kesatria itu terhenti ketika pedang yang Sano genggam telah menancap, menembus salah satu kepala Kesatria.
Kesatria tadi jatuh terjengkang ke belakang, “ah, lemah sekali. Hanya seperti itu sudah mati,” gerutunya dengan mengangkat kepalanya ke atas.
Apa dia sudah gila? Jika pedangmu menancap di kepalanya seperti itu, tentu saja manusia biasa akan langsung mati. Tapi, apa Sano memang secepat itu? Aku bahkan tidak melihat tangannya bergerak melempar pedang itu.
Sano bergerak ke kiri, menghindari pedang yang diayunkan oleh salah satu Kesatria. Sano menggerakkan tangan kanannya dengan cepat mencengkeram leher Kesatria tadi. Dia menggerakkan kepalanya ke kiri sedangkan kepala Kesatria yang ia cengkeram lehernya itu, ia gerakkan ke sebelah kanan hingga kepala Kesatria itu terbelah oleh tebasan pedang temannya sendiri.
Kesatria yang lehernya dicengkeram oleh Sano, mengeluarkan darah yang memancar dari bibirnya. Sano melepaskan cengkeramannya seraya berjalan mundur ke belakang beberapa langkah, “ah, kau membunuh mainanku,” ucapnya dengan menatap ke arah Kesatria tadi.
“Kau … Akan kubunuh kau,” tukas Kesatria tadi mengangkat pedang yang masih menancap di wajah temannya itu menggunakan kedua tangannya.
Kesatria itu juga mendorong tubuh temannya yang semula bersandar di pundaknya ke depan hingga tubuh temannya itu jatuh membentur tanah. Sebelum Kesatria itu sempat melangkah maju, ia sudah jatuh terjungkal ke belakang saat Sano berlari, melompat lalu menendang kuat tubuhnya. Sano yang duduk berlutut, kembali beranjak berdiri lalu berjalan mendekati Kesatria itu.
Ia menduduki tubuh Kesatria itu dengan kedua kakinya menahan kedua tangan Kesatria tersebut. Sano mengangkat tangannya lalu meletakkan telapak tangannya tadi mendekati mata Kesatria itu. Tangan Sano membuka salah satu kelopak mata Kesatria tadi sedangkan tangannya yang lain bergerak mendekatinya.
Kesatria itu menjerit saat Sano memasukkan jari telunjuknya ke dalam kelopak mata Kesatria itu. Aku menggerakkan kepala ke kanan dan juga ke kiri seraya kulangkahkan kedua kakiku mendekatinya, “ketika dia bertarung, menjauhlah darinya,” ucapan Makoto kemarin, tiba-tiba terngiang di kepalaku.
Aku menarik napas dalam dengan kembali berjalan mendekatinya, “Sano,” dia melirik tajam ke arahku saat aku menghentikan langkah sedikit jauh darinya.
“Kita sedang mengendap-endap, jika suara yang ia keluarkan terlalu besar … Kesatria yang lain akan datang,” tukasku, Sano masih tertunduk dengan sebelah tangannya meraih pedang milik Kesatria tadi yang tergeletak tak terlalu jauh dari mereka.
__ADS_1
“Aku hanya perlu memotong lidahnya, Putri,” ucapnya dengan mengangkat sebilah pedang di genggamannya, “aku masih belumlah cukup, bermain dengannya,” sambung Sano dengan melirik tajam ke arahku.
“Siapa kau?” Tanyaku dengan membalas lirikannya. “Aku Sano,” ucapnya dengan kembali menatap Kesatria tadi.
Aku mengepalkan kedua tanganku dengan sangat kuat sebelum berbalik melangkahkan kaki menjauh darinya, “aku tidak perduli apa yang kau lakukan. Terima kasih, karena telah membantuku sampai saat ini,” ucapku tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.
Aku menghentikan langkah dengan menyandarkan tubuh sangat dekat dengan tembok. Kepalaku bergerak sedikit maju saat aku berusaha untuk memastikan keadaan di sekitar. Aku kembali berjalan, lalu bersembunyi kembali di balik tembok yang lain.
“Sano, sialan. Apa seperti itu sosok pemimpin dari para wakil kapten?” Gumamku dengan kembali melirik ke sekitar.
“Putri,” tubuhku terhentak saat mendengarnya, “lewat sini,” ucap Sano saat aku berbalik menatapnya.
Aku berjalan mendekatinya diikuti kepalaku yang masih melirik ke sekitar. Sano berjalan di depanku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku berjalan mundur lalu menabrak dinding saat dia mendorong tubuhku ke belakang dengan lengannya, aku sedikit mendongakkan kepala, menatapnya yang tengah menoleh ke samping seperti tengah mengawasi sesuatu.
“Jika saja Yang Mulia tidak menginginkannya, aku pasti sudah membunuhnya,” sambung suara dari laki-laki yang sama.
“Apa mereka telah mempersiapkan semua keperluan upacara di Altar?” Suara laki-laki yang lain ikut menimpali.
“Ini bayi yang ke 140 bukan? Apa Yang Mulia benar-benar akan sembuh melakukan ritual ini?”
“Kau, jangan berbicara sembarangan. Bagaimana jika ada yang mendengar? Lagi pun, semuanya akan berakhir dengan cepat jika kita bisa menemukan mata hijau seperti yang disebutkan oleh penyihir itu,” suara laki-laki kembali menimpali laki-laki lainnya
“Legenda yang menakjubkan. Ambil keperawanannya, minum darahnya dan kau akan berumur panjang,” kedua mataku membesar saat salah satu laki-laki mengatakannya.
“Itu hanya legenda, hanya legenda,” sambung suara laki-laki lainnya yang diikuti suara tawa.
__ADS_1
Sano mundur beberapa langkah dariku, “para Kesatria tak berguna itu telah memberi tahu semuanya. Apa kau masih ingin mencari tahu semuanya, Putri?” Tanyanya dengan melirik ke arahku.
“Aku, masih ingin mengetahui semuanya dengan lebih jelas,” tukasku membalas lirikannya itu.
“Kau terlihat sama sekali tidak ketakutan setelah mendengar apa yang mereka katakan.”
“Karena mereka tidak bisa menyentuhku. Aku tidak perlu membuang-buang tenaga untuk mengkhawatirkan mereka yang dapat aku bunuh dengan mudah.”
Sano tersenyum menatapku, dia menarik napas panjang dengan kedua matanya yang tertutup. Sano kembali membuka kedua matanya menatapku, “Hime-sama,” ucapnya dengan menyilangkan kedua lengannya menyentuh pundak, “jika kau, melihatku dengan lirikan seperti itu. Aku semakin tidak bisa melakukan apa-apa,” ucapnya dengan membuang pandangannya ke samping.
Ada apa? Apa yang terjadi?
“Sano,” aku memanggilnya dengan berjalan maju mendekat, “ini Sano bukan?” Tanyaku seraya kuangkat tangan menyentuh pipinya.
“Hime-sama, apakah kau ingin menamparku? Aku telah menunggu saat-saat ini datang,” ungkapnya yang telah memejamkan matanya.
Ini memang Sano yang aku tahu, tapi … Sosok sebelumnya. Apa dia?
Aku menarik napas dalam sebelum menurunkan telapak tanganku dari pipinya, “Sano, katakan padanya. Katakan, jika aku ingin sekali mengenalnya,” ucapku tersenyum menatapnya.
Aku mengalihkan pandangan darinya, “apa kita harus lewat ke kanan atau ke kiri?” Tukasku dengan menggerakkan kepala ke kanan dan kiri secara bergantian.
“Hime-sama,” aku kembali menoleh ke arahnya saat Sano memanggilku, “dia, tidak bisa bergaul. Dia membutuhkan aku untuk menghilangkan semua rasa kesepiannya. Aku akan menghilang, jika dia sudah tidak kesepian lagi. Hingga saat itu datang, bisakah kau menyembunyikannya dari yang lain?”
Aku tersenyum menatapnya, “aku akan merasakan kesepian jika kau menghilang, tapi aku juga mengagumi kemampuannya bertarung. Aku menginginkan kalian berdua … Terdengar sangat egois bukan?” Ungkapku kembali tersenyum sebelum berbalik membelakanginya.
__ADS_1