Fake Princess

Fake Princess
Chapter CDLVI


__ADS_3

Haruki mengapit dagu kakek tua itu, “apa kau, pura-pura tidak mendengar, Kakek?” Kakek itu pucat pasi membalas tatapan Haruki kepadanya.


Haruki beranjak dengan melepaskan cengkeraman tangannya di dagu kakek tersebut, “beritahukan aku, semuanya!” Tukas Haruki sambil melirik tajam ke arah kakek yang berlutut di hadapannya itu.


Kakek itu menjatuhkan wajahnya ke tanah, “aku, selalu menjual orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Selama ini, aku hanya berpura-pura jadi seseorang yang penyakitan untuk menyelamatkan aku dari kekejaman mereka,” ungkap kakek itu beranjak duduk dengan wajahnya yang tertunduk lesu.


Kakek tersebut menoleh ke arah anak laki-laki yang ada di dekatnya, “bahkan aku, sedang dalam posisi yang sangat putus asa saat menemukannya,” sambungnya kembali melirik ke arah Haruki.


“Sachi,” aku sedikit tersadar ketika suara Lux mengetuk telinga.


Wajahku dengan sigap menoleh ke arah Haruki, “nii-chan,” ucapku yang mungkin langsung disadari olehnya.


Haruki mendekati kembali kakek itu, dia meraih kerah pakaian yang kakek tersebut kenakan, ditariknya kerah tadi sambil berjalan hingga tubuh kakek itu terseret di belakangnya. Aku berjalan mendekati anak laki-laki yang masih tertegun tak berkutik menatap laki-laki yang selama ini sangat ia percayai, “ikutlah dengan kami. Cepatlah! Ada yang mendekat,” ucapku tertunduk sambil meraih tangannya.


Aku berjalan mengikuti Haruki dengan menggandeng anak kecil tadi di sampingku, Haruki mengajak kami menyusuri rumput ilalang yang tumbuh di dekat jalan, “berdirilah,” ucap Haruki sambil melirik ke arah laki-laki tua yang ia seret itu.


“Jika aku menyeretmu, aku akan meninggalkan jejak untuk mereka … Jadi, beranjaklah jika kau tidak ingin aku habisi,” sambung Haruki lagi kepadanya.


Kakek itu beranjak berdiri, dia melangkahkan kakinya dengan kepala tertunduk, bahkan sedikit suara pun tak terdengar dari bibirnya. Aku melirik ke arah anak laki-laki tersebut saat kurasakan genggaman tangannya menguat, “ada apa?” Tanyaku, dia mengangkat wajahnya lalu menggeleng pelan sebelum kembali tertunduk.


Kugerakkan sebelah tanganku yang lain menyingkap ilalang tinggi yang ada di hadapan, “jangan ke sana!” Langkah kakiku terhenti saat suara kakek itu lagi-lagi terdengar.


“Ada apa?” Kali ini Izumi yang berjalan tidak terlalu jauh dari Haruki ikut bersuara.


Kami semua masih menatapi sang kakek yang terdiam, enggan untuk bersuara, “Kakek,” tubuh kakek itu sedikit terhentak saat cucunya itu memanggilnya.

__ADS_1


Kakek itu kembali tertunduk, sedikit terlihat olehku ketika dia menggigit kuat bibirnya, “di sana, tempat di mana mayat-mayat yang menjadi mainan para bangsawan dibuang. Di sana, berbatasan langsung dengan laut, jadi kami bisa sangat mudah membuang mayat siapa pun yang mati di sana,” ungkap kakek itu dengan suara yang terdengar bergetar.


“Aku hampir melupakannya,” ungkap Haruki yang kembali membuat wajah kakek itu terangkat, “apa laki-laki yang aku bunuh tadi, adalah majikanmu?” Tanyanya kembali kepada sang kakek.


“Dia, hanya kerabat dari majikan yang aku layani,” jawabnya menjawab pertanyaan Haruki.


“Kerabat?” Laki-laki tua itu menganggukkan kepalanya saat aku mengatakannya.


“Aku melayani langsung Duke yang memimpin wilayah ini. Karena itulah, aku menempati pesisir pantai … Menjebak beberapa orang yang terdampar di daratan,” ungkapnya kembali sambil mengangkat wajahnya menatap Haruki.


“Apakah ini, sebuah tradisi?” Aku ikut bertanya.


Kakek itu melemparkan pandangannya kepadaku, “dahulu, di laut itu … Terdapat seekor makhluk raksasa yang bersembunyi di dalam lautan. Makhluk itu memiliki tangan yang banyak dan panjang dengan wajah ikannya yang dipenuhi taring tajam. Makhluk itu selalu menculik dan menyantap manusia, karena itu … Para penduduk mengorbankan penduduk lainnya untuk keselamatan mereka,” ucapnya yang kembali terhenti.


“Wajah ikan, lengan yang panjang dan banyak? Aku seperti mengenalnya,” gumamku sambil mengingat monster laut yang menyerang Metin tempo lalu.


“Dikabarkan jika makhluk itu sudah menghilang, akan tetapi … Tradisi yang sudah menjadi turun-temurun oleh para bangsawan untuk mengorbankan rakyat lemah seperti kami, terus berlanjut, dan bahkan lebih mengerikan dari yang sebelumnya dilakukan oleh leluhur,” jawab kakek itu dengan kembali tertunduk.


“Bawa kami menemui Duke, dan berpura-puralah jika kau tidak mengetahui apa pun tentang kejadian yang baru saja terjadi,” kakek itu membelalakkan pandangannya ke arah Haruki.


Haruki menghela napas, “apa kau, tidak ingin terbebas dari tempat ini? Apa kau, tidak ingin hidup bahagia … Menghabiskan sisa hidupmu dengan cucu kesayanganmu?” Aku menoleh ke arah Haruki, seakan tak percaya dengan apa yang ia katakan.


“A- Apa aku, bisa mendapatkannya?” Ekspresi wajah kakek itu berubah, sangat terlihat jika dia menahan kuat bibirnya yang gemetar itu.


“Kami, tidak pernah melanggar janji. Jika kami katakan akan menyelamatkan kalian, maka kami akan melakukannya,” timpal Izumi yang membuat kakek itu mengangkat pandangannya.

__ADS_1


“Baiklah, jika itu benar. Aku akan melakukannya,” tukas kakek itu menyanggupinya.


_____________’


Kami kembali berjalan menyusuri jalan yang biasa, masih kuarahkan pandanganku pada dua bercucu yang berjalan bergandengan di hadapan kami. “Bagaimana, apa sudah hilang?” Aku melirik ke arah Izumi yang bersuara.


Eneas menoleh ke arah Izumi yang berjalan di sampingnya, “sudah hilang, bercak darahnya sudah tidak terlihat lagi,” jawab Eneas menimpali perkataan Izumi.


Aku mengalihkan pandangan kepada Haruki yang berjalan di samping, “nii-chan, di wajahmu masih ada noda darahnya,” ungkapku sambil mengarahkan jari telunjuk menyentuh pipinya.


Haruki menoleh ke arahku diikuti telapak tangannya mengusap pipinya sendiri, “bagaimana?” Tanyanya melirik ke arahku.


Aku berjinjit di sampingnya, “maafkan aku, nii-chan,” ucapku mengusapi pipinya, aku mengecap ibu jariku sendiri sebelum kuusapkan ibu jariku itu mengusap noda darah di pipinya yang hampir mengering itu.


“Sudah menghilang,” sambungku kembali melanjutkan langkah.


“Bagaimana keadaanmu?”


Aku menoleh ke arahnya, “memangnya, ada apa denganku?” Aku balik bertanya padanya.


“Apa kau marah padaku perihal masalah tadi?”


Aku kembali menatap lurus ke depan, “aku tidak marah, aku hanya kurang suka jika nii-chan melakukannya di depan anak kecil sepertinya. Melihat anggota tubuhnya sendiri dipotong mungkin sudah seperti mimpi buruk untuknya, terlebih lagi jika dia harus melihat orang lain disiksa di depannya,” sambungku dengan mengarahkan pandangan kepada anak laki-laki yang digandeng oleh kakek itu.


Keadaan kembali menghening ketika kami melewati deretan rumah megah, pagar-pagar tinggi mengelilingi setiap rumah itu. Kereta kuda semakin ramai melewati kami diikuti pandangan tak mengenakkan yang kami dapatkan oleh orang sekitar. Aku melempar pandangan kepada Izumi yang diam tertunduk ketika beberapa anak kecil melemparnya dengan kerikil di tangan mereka.

__ADS_1


Izumi kembali melanjutkan langkah dengan mencengkeram erat celana yang ia kenakan. “Jangan manurunkan kewaspadaanmu Sachi. Izumi bisa menjaga dirinya sendiri,” bisik Haruki yang membuatku kembali melanjutkan langkah.


__ADS_2