Fake Princess

Fake Princess
Chapter DLXXII


__ADS_3

Aku membuka pintu kamar dengan melangkahkan kaki mendekati kamar Haruki yang berada di samping kamarku. Tanganku terangkat mengetuk pintu kamarnya dengan beberapa kali suaraku keluar memanggilnya. Aku berjalan mundur tatkala pintu tersebut sedikit terbuka ke dalam, “kau sudah bersiap pagi-pagi sekali,” ucapnya dengan wajah tertunduk diikuti tangannya yang bergerak mengusap rambutnya yang basah.


“Itu karena nii-chan, mengubah jalur perjalanan kita secara mendadak,” tukasku, langkahku mulai berlanjut kembali, mengikutinya yang berjalan di depanku.


Haruki kembali mengangkat kepalanya, “tidak ada yang mendadak. Ini semua sudah seperti rencanaku sejak awal,” ungkapnya, dia tetap berjalan dengan tangan mengusap tengkuknya yang membuat ujung jubah miliknya itu basah.


Mataku sedikit terpejam saat langkahku terus berlanjut keluar dari kapal. Sinar matahari yang jatuh menimpa mata, benar-benar langsung terasa ketika kami telah melewati pintu. Aku tetap berjalan mengikuti Haruki yang telah berdiri di dekat Izumi maupun Eneas dengan beberapa laki-laki yang memegang kuda di belakang mereka berdua.


“Jadi, apa kalian berdua telah merencanakan ini semua?”


Aku menggeleng dengan cepat ketika Izumi menjatuhkan pandangannya kepadaku. “Ini semua rencana dariku. Bahkan Sachi pun, tidak mengetahui hal ini,” timpal Haruki yang membuat tatapan Izumi beralih kepadanya.


“Lagi-lagi kau membohongiku?”


“Aku tidak bermaksud membohongimu, Izumi. Kita memang akan ke Robson, namun … Karena kapal kita melewati Wattana, kenapa tak coba mampir dulu sejenak,” tukas Haruki, dia sedikit membuang pandangannya ke samping sebelum kembali menatap Izumi.


“Jangan katakan, kau takut untuk bertemu calon mertuamu sendiri, Izumi?” Haruki tersenyum dengan kedua lengan bersilang menatapnya.


“Bukan seperti itu, tapi bagaimana jika-”


“Bagaimana jika kabar dia masih hidup terdengar oleh rakyat atau Kerajaan lain di sekitar mereka?” tukas Haruki memotong perkataannya.


“Jika benar, nikahi saja seperti rencana awalmu, bukan?” sambung Haruki kembali sambil berjalan mendekati salah satu kuda yang dipegang seorang laki-laki.

__ADS_1


“Haruki!”


“Apa kau takut, Izumi? Dia menggantungkan harapannya kepadamu, bukan? Harapan, untuk mengetahui kabar Ibunya. Hanya sebentar lagi kita akan sampai ke sana, dan kau ingin mundur? Kenapa tidak mencoba mundur juga dari pertunangan kalian?”


“Itu lebih baik untuknya, dibanding memiliki seorang calon suami … Yang sudah mundur sebelum melakukan apa pun,” sambung Haruki diikuti kuda yang ia naiki itu berjalan meninggalkan.


“Sial,” gumam Izumi lemah yang membuat lirikan mataku beralih kepadanya.


“Nii-chan, kau ingin melindunginya, bukan? Perempuan, bukan hanya ingin dilindungi, tapi kami pun memerlukan pengakuan. Agar nantinya kami bisa dengan bangga mengatakan, oh laki-laki itu, dia suamiku,” ucapku tersenyum sebelum melangkahkan kaki mendekati salah satu kuda yang dipegangi seorang laki-laki.


_____________.


“Astaga, rasanya hampir sama ketika kita mengunjungi Balawijaya tempo dulu,” suara gerutu dari Lux membuatku melirik ke arahnya.


“Aku tidak ingin menyia-nyiakan sihir Kou untuk hal kurang penting seperti itu. Lagi pun Lux, kita tidak tahu apa yang ada di sini … Berbeda jauh sekali saat di Balawijaya dulu,” aku balas bergumam, genggaman tanganku di tali kekang semakin kuat saat kuda yang aku tunggangi itu melanjutkan langkahnya menyusuri pelabuhan.


Semakin kami berjalan mendekati kerumunan masyarakat, semakin itu juga tanganku terangkat ke atas, menarik penutup kepala dari jubah yang aku kenakan. Aku melirik ke arah kiri dan kanan, ketika hiruk pikuk di pasar yang ada di dekat pelabuhan semakin menjadi. Mereka berteriak, saling sahut-menyahut … Mencoba untuk memanggil orang-orang untuk mendatangi makanan atau barang yang mereka jajakan.


Sama seperti di Balawijaya, laki-lakinya tidak memakai baju, hanya sebuah celana yang terlihat dililit yang mereka pakai … Sedang perempuannya, dada mereka ditutupi lilitan kain hingga ke perut dengan celana yang sama seperti yang laki-laki kenakan. “Kenapa, gigi mereka terlihat hitam semua?”


Aku dengan cepat menoleh ke arah Eneas yang bergumam menggunakan Bahasa Jepang. “Eneas, mungkin itu sudah menjadi tradisi di sini. Jadi, kau paham apa yang harus dilakukan, bukan?”


“Aku mengerti, nii-san. Aku tidak akan mengulanginya,” sahut Eneas dengan kepalanya yang masih bergerak ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


Tanganku yang menggenggam tali kekang bergerak, diikuti kuda milikku itu turut bergerak mengikuti kuda milik Haruki dari belakang. Kadang kala, kami berhenti sejenak, sekedar untuk bertanya kepada beberapa pedagang … Bahkan Haruki pun, harus sampai membeli beberapa barang yang mereka jajakan, karena beberapa dari mereka enggan untuk menjawab jika kami tak membeli dagangan yang mereka jual.


Pandangan mataku, kembali merasa segar tatkala aku menjatuhkan pandangan ke arah hamparan sawah yang membentang di kanan dan kiri jalan yang kami lalui. Warna cokelat pada tumbuhan padi yang membungkuk, seakan mencerminkan kekayaan dari Kerajaan ini sendiri. “Apa kita akan langsung mendatangi Istana?”


“Itu seperti membunuh diri kita sendiri jika terlalu gegabah seperti itu, Sa-chan. Tidak akan menimbulkan masalah, jika sebelumnya Izumi menjalin baik hubungan di antara dua Kerajaan. Tapi, kakakmu yang satu itu … Terlalu pengecut untuk menjalin hubungan dengan keluarga calon isterinya.”


“Aku dapat mendengar jelas, apa yang kau gerutukan itu.”


“Kau dapat mendengarnya? Maaf, tapi aku sekarang mulai membiasakan diri untuk berbicara jujur pada keluargaku.”


“Berhenti bersikap menjijikan! Jika kau jujur, kita mungkin tidak akan ada di sini,” sambung Izumi menimpali perkataan Haruki.


“Namun Izumi, setelah kau melihat sendiri kerajaannya. Apa kau, masih enggan untuk menjalin hubungan?”


Izumi tersenyum saat Haruki mengubah nada bicaranya, “ini salah satu pijakan besar untuk melawan Kaisar, bukan? Aku, akan bersikap dengan senang hati menerima tantanganmu itu, kakak,” tukas Izumi, turut Haruki yang kini tersenyum menanggapi apa yang Izumi katakan.


“Baiklah adik-adikku. Ikuti kakak kalian yang mengagumkan ini,” ucap Haruki kembali, aku turut menggerakkan kudaku berbelok ke kiri mengikutinya.


Haruki membawa kami melewati barisan rumah mewah, setiap rumah yang ada … Dikelilingi pagar tinggi, entah pagar dari kayu ataupun pagar dari besi. Setiap pagar pun, turut berjaga setidaknya satu orang laki-laki dengan sebuah tombak di tangan dan sebilah pedang di pinggang mereka. Kudaku ikut berhenti, ketika Haruki yang memimpin perjalanan juga menghentikan jalan kuda miliknya diikuti kata-kata yang tak aku mengerti, ia ucapkan ke dua laki-laki yang berdiri di depan gerbang besi sebuah rumah.


“Para Bangsawan yang diusir dari Kerajaannya, dapat diterima baik di sini asal mereka dapat membayar mahal untuk tempat yang mereka tinggali. Rumah ini, rumah salah satu penjahat yang sudah aku naikkan statusnya dengan syarat, harus menjadi mata-mataku di Kerajaan ini,” kata-kata dalam bahasa Jepang yang ia katakan, secara tak langsung menjawab pertanyaanku.


“Jika kau ingin merebut Kerajaan ini, Izumi. Sebagai kakak, aku sudah mempersiapkan semuanya sejak dahulu,” tukas Haruki tersenyum dengan berbalik menatap Izumi di sampingku.

__ADS_1


__ADS_2