Fake Princess

Fake Princess
Chapter XLIII


__ADS_3

Tubuhku terpaku, tak ada seseorang pun dibelakangku. Tsubaru, Ayah, Haruki maupun Izumi telah lenyap dari pandanganku. Semuanya, semuanya yang terlihat hanyalah hamparan salju putih sejauh mata memandang.


"Lux, apa kau disana?" bisikku dengan suara bergetar


"Aku disini." Tukasnya seraya berbisik


"Aku tidak bisa menemukan Tsubaru ataupun keluargaku."


"Apa maksudmu?" ucapnya seraya membelah rambutku yang menutupi tubuhnya


"Sachi, dimana kita?" bisiknya seraya menarik-narik rambutku


"Akupun menanyakan hal yang sama."


Kutundukkan tubuhku seraya mengambil segenggam salju yang tertumpuk di dekat kakiku. Dingin, ini berarti aku sedang tidak bermimpi...


"Apa kau mempunyai petunjuk tentang apa yang terjadi ini, Lux?" ucapku seraya kulangkahkan kedua kakiku membelah tumpukan salju yang semakin lama semakin menebal.


"Entahlah, aku hanya merasakan adanya sihir yang sangat kuat di sekitar sini."


"Sihir?"


"Kau pikir kenapa bangsa Peri seperti kami seperti mitos untuk manusia seperti kalian..."


"Hal itu karena, kami tinggal dan hidup di dimensi yang berbeda dari kalian. Dan tempat inipun seperti itu..." sambung Lux seraya terbang di hadapanku


"Jadi maksudnya, kita sekarang sedang berada di dimensi yang berbeda dari duniaku?" ucapku menatapnya


"Kau benar. Akan tetapi Sachi... Siapa kau sebenarnya?" tukasnya seraya menatapku tajam


"Eh? Apa maksudmu?" tanyaku bingung seraya balik menatapnya


"Manusia biasa tidak akan bisa memasuki dimensi lain, kecuali jika mereka melakukan kontrak sihir..."


"Siapa kau sebenarnya, Takaoka Sachi?"


"Apa kau pikir aku akan menyembunyikan sesuatu darimu? Akupun tidak tahu apa yang kau maksudkan?" ucapku seraya menatap tajam ke arahnya


"Kau? kau mengerti bahasa yang aku ucapkan tadi?" tukasnya diiringi ekspresi terkejut


"Tentu. Kalian menggunakan bahasa latin, aku bisa menebaknya dari namamu, Lux yang berarti cahaya." ucapku seraya membuang pandangan ke atas

__ADS_1


"Beruntung di kehidupan sebelumnya aku mempelajari bahasa latin untuk mengetahui istilah-istilah yang sering aku temukan di manga maupun anime" bathinku seraya kembali menatapnya yang tertunduk


"Kau tadi membahas tentang sihir bukan? Apa maksudmu?" tukasku seraya menadahkan kedua telapak tanganku ke arahnya


"Aku merasakan sihir yang sangat kuat di sekitar sini." ungkapnya seraya terbang dan duduk di telapak tanganku


"Di sebelah sana lebih tepatnya." ucapnya lagi seraya mengarahkan jari telunjuknya ke sebelah kanan kami


Kuarahkan telapak tanganku mendekati pundak, Lux kembali terbang dan hinggap di pundak kananku. Kutarik nafasku dalam-dalam, coba kulangkahkan kakiku menuju ke arah yang ditunjukkan Lux sebelumnya.


Hawa dingin yang berhembus semakin lama semakin kuat terasa, tubuhku terasa hampir membeku dan tanganku sendiri terasa mati rasa ketika kugenggam.


Brukk!!


Ujung kakiku menabrak sesuatu, tubuhku terjungkal ke depan. Wajahku terasa membeku menampar salju yang berhamburan, coba kugerakkan kedua kakiku yang hampir sama membeku nya.


Kuletakkan tanganku ke hamparan salju yang ada di hadapanku, bersusah payah kugerakkan tubuhku untuk beranjak. Kuraih Lux yang hampir tertimbun salju, kubersihkan rambut dan tubuhnya yang dipenuhi salju...


"Kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja? Hanya saja, sayapku sedikit membeku." Tukasnya seraya mengarahkan pandangannya kepadaku


"Maaf, aku tidak berhati-hati." ucapku balik menatapnya


"Aku mengerti," tukasku kembali mengarahkan tubuhnya mendekati pundakku


"Sihirnya semakin terasa kuat disini," ucap Lux setengah berbisik


"Kau yakin di sekitar sini?" balasku yang ikut berbisik


"Tentu, sihirnya semakin kuat terasa sebelum kita terjatuh tadi..."


"Kau mau kemana?" sambung Lux setengah berteriak kepadaku


"Kau tadi mengatakan kalau sihirnya terasa kuat ketika kita terjatuh tadi, jadi kupikir ada sesuatu yang salah di ujung batu." ucapku seraya menunjuk ke sebuah ujung batu yang menyembul di sela-sela hamparan salju


Berjalan aku mendekati ujung batu tersebut, ujung batu yang berhasil membuat aku terjungkal sebelumnya. Coba ku singkirkan tumpukan salju yang menutupinya menggunakan kakiku, sebuah lempengan batu berukir tulisan tertanam disana...


"Mata berisi kasih, harapan di atas harapan. Sebuah pujian menggantungkan segalanya..."


"Kau bisa membacanya?" bisik Lux yang kubalas dengan anggukan kepala

__ADS_1


Bahasa Inggris adalah bahasa kuno yang ada di dunia ini bukan? Bahasa yang menjadi petunjuk dimana harta-harta karun terkubur. Apakah ini yang dimaksudkan mereka?


Kuarahkan telapak tanganku ke atas lempengan batu tadi, kutatap ukiran yang terukir di atas batu tadi. Dahiku mengerut memikirkan maksud ukiran yang ada di batu tersebut...


"Mata berisi kasih..."


"Harapan di atas harapan..."


"Sebuah pujian menggantungkan segalanya..."


"Aku mengerti..." sambungku pelan


"Apa yang kau maksud dengan mengerti?" ucap Lux kembali


"Aku juga tidak yakin ini benar ataupun tidak. Tapi aku akan mencobanya..."


Kuangkat kedua telapak tanganku ke arah dadaku, kugenggam kuat telapak tanganku tadi. Kupejamkan kedua mataku...


"Ya Tuhan, aku ingin menyelamatkan semua orang yang aku kasihi. Keluargaku, pasanganku, rakyat-rakyatku, semuanya yang aku anggap berharga. Aku ingin mengakhiri semua penderitaan yang mereka terima, karena itulah... Berikan aku bantuan, untuk menjaga senyum mereka..."


Tanah yang kami pijak tiba-tiba bergetar kuat. Kubuka kedua mataku, tampak hamparan salju di sekitar kami meletup-letup layaknya air yang mendidih...


"Lux!!" teriakku ketakutan


Sebuah lubang hitam tiba-tiba muncul di salju yang kami duduki, tubuhku terjatuh cepat melintasi gelapnya lubang itu...


Brakk!!


Tubuhku mendarat keras, pandangan mataku menghitam, aku sama sekali tidak dapat melihat apapun yang ada disekitar.


Beranjak aku duduk seraya ku tepuk-tepuk pelan punggungku yang hampir meremuk. Kuarahkan kedua tanganku ke depan, seraya mencoba meraba-raba apa yang ada di hadapanku...


"Lux, apa kau baik-baik saja?" ucapku bergetar


"Aku baik-baik saja. Aku sama sekali tidak menyangka akan terjatuh dua kali dalam satu hari..." terdengar suara Lux yang entahlah darimana asalnya


Sebuah kilapan cahaya biru tiba-tiba terpercik di sisi kananku, tampak cahaya biru tadi bertambah besar dan bertambah banyak jumlahnya bersusun rapi hingga memenuhi ruangan...


Aku kembali dapat melihat, cahaya-cahaya biru tadi membuat seluruh ruangan menjadi terang. Berjalan aku menuju ke arah Lux yang masih terduduk di sudut ruangan...


"Kau yakin baik-baik saja?" tukasku seraya mengarahkan telapak tanganku ke arahnya

__ADS_1


"Tentu, sebenarnya apa yang kau lakukan tadi?" ucapnya seraya berjalan ke atas telapak tanganku


"Kata-kata yang terukir di atas batu tadi tidak lain ialah sebuah teka-teki, aku hanya menyimpulkan jawaban dari teka-teki itu ialah sebuah doa. Karena itulah, tadi aku mencoba berdoa, aku tidak menyangka kalau hasilnya akan seperti ini..." tukasku seraya mengarahkan pandangan mataku ke sebuah Altar dengan sebuah meja batu berdiri kokoh di tengahnya.


__ADS_2