
Aku menarik penutup kepala pada jubahku sebelum kedua tanganku menggerakkan tali kekang, sesekali aku melirik ke samping ketika kuda milikku itu telah berjalan mengikuti mereka. “Ada apa?” Aku terhenyak sebelum membuang pandanganku kembali ke depan.
“Tidak ada apa-apa, nii-chan,” jawabku dengan membalas tatapan Izumi yang berkuda di depanku.
“Kita akan sampai di Kerajaan berikutnya. Persiapkan diri kalian, Pangeran, Putri,” timpal suara Tatsuya yang menunggangi kudanya memimpin perjalanan.
“Putri?”
“Aku baik-baik saja Tsubaru. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ungkapku dengan tetap mengarahkan pandangan ke depan.
Aku menarik napas dalam sambil kedua tanganku menggenggam erat tali kekang kudaku itu. “Ada apa denganmu? Sejak pagi suasana hatimu sangatlah buruk, aku pun ikut merasa sesak olehnya,” bisikan Lux yang terdengar di samping telinga membuatku sedikit menggerakkan kepala.
“Aku hanya kurang beristirahat, karena itulah … Suasana hatiku jadi seperti itu. Maaf Lux, aku lupa jika kau ada di dekatku,” sambungku berbisik dengan mendongakkan wajah ke atas.
Kuda kami terus berjalan beriringan hingga pohon-pohon yang sebelumnya mengelilingi sudah tak terlihat lagi, digantikan dengan dataran rendah di bawah bukit … Dengan sebuah kawasan penuh rumah yang dikelilingi tembok tinggi nan besar. Kuda milik Tatsuya yang sebelumnya sempat terhenti kembali berjalan disusul Haruki dan kuda-kuda milik yang lain.
Perjalanan kami kembali terhenti, kami semua saling pandang ketika gerbang pada benteng itu terbuka lebar … Tak ada seorang pun pengawal yang menjaganya. “Tsubaru, ikut aku untuk memeriksanya,” tukas Tatsuya yang langsung dibalas dengan anggukan kepala Tsubaru.
“Tsubaru, berhati-hatilah,” ucapku, dia menoleh lalu tersenyum sebelum kudanya itu berjalan menyusul kuda milik Tatsuya yang telah terlebih dulu berjalan.
Aku melirik ke samping ketika kuda milik Izumi telah berada di sampingku, Izumi yang duduk di atas kuda miliknya mengarahkan pandangan ke sekitar … Berusaha untuk memastikan keadaan yang ada. “Apa ini Kerajaan yang tak berpenghuni? Bagaimana menurutmu, Sachi?”
“Entahlah, di sini pun tidak dirasakan adanya sihir,” ungkapku dengan ikut membuang pandangan ke sekitar.
Lama kami menunggu di sekitar gerbang, kami kembali saling tatap ketika Tatsuya dan juga Tsubaru tak kunjung kembali. “Pangeran, apa Pangeran ingin menyusul mereka?” tanya Arata ketika kuda milik Haruki telah berjalan maju.
__ADS_1
“Menurutmu? Apa kita harus menunggu mereka di sini tanpa kepastian?” Haruki balik bertanya dengan tetap melanjutkan langkah kudanya.
“Pangeran, Yang Mulia Raja meminta kalian untuk menuruti saran dari kami, Jikalau kami katakan, bersabarlah untuk menunggu mereka. Maka tunggulah!”
“Tsutomu!” bentak Izumi ketika Tsutomu telah menghentikan kata-katanya.
“Yang Mulia, ini semua untuk kebaikan kalian,” jawab Tsutomu saat dia menoleh ke arah Izumi.
“Haru nii-chan?”
“Aku mengerti. Tapi ada sesuatu yang kalian lupa, Ayah tidak memegang kendali akan perjalanan ini, semuanya kembali lagi berdasarkan keputusan kami. Dan juga Tsutomu, loyalitasmu kepada Ayah dan juga Izumi memang tak diragukan lagi, jika kau pergi mengikuti mereka sebelumnya dan tak kunjung kembali … Aku akan menjamin, Izumi pun akan melakukan hal yang sama,” ungkap Haruki yang kembali menggerakkan kuda miliknya.
Aku menarik napas dalam dengan menggerakkan tali kekang kuda yang aku genggam. “Sachi,” tukas Izumi yang kembali terdengar.
Kuda milikku kembali berhenti dengan kepalaku yang menoleh ke belakang, “Tsutomu, kau pasti mengkhawatirkan mereka berdua juga, bukan?” tanyaku, Tsutomu mengangkat wajahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Tsutomu, ikuti aku! Aku lelah, aku ingin beristirahat. Siapa tahu, di dalam ada tempat yang nyaman untuk beristirahat,” timpal Izumi yang telah menjalankan kudanya melewati Tsutomu.
Aku tersenyum ketika Tsutomu juga tersenyum sebelum dia menundukkan wajahnya, “sesuai perintah darimu, Yang Mulia,” sambung Tsutomu, dia mengangkat kembali wajahnya lalu berkuda menyusul Izumi yang terlebih dahulu menyusul Haruki.
Aku menggerakkan sedikit kepalaku sambil menoleh ke arah Eneas dan juga Ryuzaki. Kudaku kembali berjalan menyusul kuda mereka bertiga yang telah semakin mendekati gerbang. Jauh dari bayanganku, Kerajaan ini dipenuhi banyak penduduk … Bahkan pasar yang kami lewati, dipenuhi para penduduk yang sibuk berniaga.
Tapi bagaimana dengan penjaga? Apa mereka, tidak menggunakan penjaga untuk menjaga gerbang benteng? Sebenarnya, tempat apa ini?
“Apa kau, memikirkan hal yang sama sepertiku, Sa-chan?”
__ADS_1
“Bahkan aku pun tidak tahu apa yang engkau pikirkan, nii-chan,” jawabku bergumam dengan tetap melemparkan pandangan ke sekitar.
“Coba perhatikan, apa kau melihat segerombolan orang yang memakai baju zirah?”
Aku menggeleng pelan, “mungkinkah mereka tidak memiliki Kesatria di Kerajaan ini?” Aku balas berbisik dengan melirik ke arah Haruki yang ada di samping.
“Sepertinya, dibandingkan itu … Kita harus segera mencari mereka berdua,” sambung Haruki yang aku balas dengan anggukan kepala.
Kuangkat tanganku menarik penutup kepala semakin ke depan, aku hanya melihat laki-laki yang berkeliaran ... Tak kutemukan satu pun perempuan. Aku khawatir jika tempat ini, sama seperti Kerajaan lain yang masih memandang rendah para perempuan.
Kudaku berjalan perlahan menyusuri jalan dengan kuda milik Haruki yang mengimbangi langkah kudaku di samping. "Sebenarnya, ke mana mereka berdua?" geram Haruki, aku melirik ke arahnya yang menggenggam kuat tali kekang kudanya.
Aku mengembuskan napas panjang dengan ikut mengarahkan lirikan ke sekitar, "apa terjadi sesuatu kepada mereka?" Aku bergumam pelan dengan sesekali menggigiti bibir.
"Bagaimana jika kita berpencar?" tukas Izumi yang tiba-tiba saja sudah berkuda di hadapan kami.
"Kita tidak tahu tempat apa ini, terlalu berbahaya untuk kita melakukannya ... Lagi pun, coba kalian perhatikan baik-baik satu per satu penduduk," jawab Haruki setengah berbisik sambil melirik ke arah kami berdua bergantian.
Aku melakukan apa yang ia sarankan, kembali kulemparkan pandanganku ke arah beberapa penduduk yang tengah berniaga. Mereka semua, mencuri pandang ke arah kami ... Seperti seekor predator yang tengah menunggu mangsanya lengah.
Genggaman tanganku di tali kekang semakin menjadi, pikiranku terbagi ... Antara mengkhawatirkan keadaan kami sekarang, dan mengkhawatirkan mereka berdua yang belum ditemukan.
"Izumi, pinta semuanya untuk bersiaga. Jangan lengah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi dan apa yang mereka semua rencanakan," sambung Haruki kembali, suaranya terdengar sangat pelan menyentuh telinga.
Izumi menganggukkan kepalanya sebelum dia membawa kudanya berjalan melewatiku. "Sa-chan, terlebih lagi untukmu. Jangan lengah sedikit pun," kepalaku mengangguk menjawab perkataan yang ia lontarkan.
__ADS_1