
"Apa itu suatu kewajiban untuk mengatakannya?" tukasku sembari membuang pandangan ke atas
"Tentu, atau aku akan memberitahukan kepada Ayah kalau kau selama ini diam-diam menyembunyikan perhiasan-perhiasan berharga darinya." ucap Haruki berbisik pelan di telingaku
"Akupun melihatnya, kau sering mengendap-endap keluar kamar di malam hari." sambung Izumi yang juga berbisik pelan padaku
"Aahh sial, sialan. Bagaimana mereka bisa tahu? Apa mereka mengawasiku selama dua puluh empat jam penuh? Haruskah aku letakan saja racun di makanan-makanan mereka?"
"Tuhan, inikah yang dinamakan dengan adik perempuan yang tertindas? Dan kenapa juga, Izumi dapat mengimbangi sikap Haruki..." lanjutku berbisik dalam hati
"Kalian benar-benar kakak terbaik di dunia, aku sungguh-sungguh tak dapat hidup tanpa kalian..." ucapku seraya berusaha tersenyum ke arah mereka
"Ulangi sekali lagi, aku tidak dapat mendengarnya.." ungkap Izumi seraya mengarahkan telinga nya ke arah bibirku
"Sialan! sabar-sabar, manusia dewasa harus bisa mengalah." gerutuku kembali di dalam hati
"Kakakku Haruki yang jenius, Kakakku Izumi yang sangat kuat. Aku sangat membutuhkan kalian. Aku pikir, aku tidak akan bisa hidup tanpa kalian..."
"Karena itu, bisakah kalian menutup mata dan telinga kalian untukku?" tukasku lagi seraya menatap mereka berdua bergantian
"....." saling tatap antara Haruki dan Izumi, diiringi seringai kecil terukir di masing-masing wajah mereka
"Tentu." Balas Haruki berbalik seraya berjalan menjauh
"Cepat, cepat, cepat. Aku ingin sekali segera makan makanan manis." sambung Izumi seraya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Haruki
"Ya Tuhan, berikanlah aku kesabaran yang banyak untuk menghadapi mereka." Tangisku dalam hati seraya berjalan menyusul langkah mereka
"Kalian bertiga, silakan langsung ke ruangan kerja Ayah dan sampaikan padanya persis seperti yang aku sampaikan sebelumnya. Sekalian, sampaikan juga padanya kalau kami bertiga masih mempunyai urusan yang harus diselesaikan." Tukas Haruki seraya mengalihkan pandangannya ke arah Tatsuya, Tsutomu dan juga Tsubaru yang berjalan mengikuti kami dari belakang
__ADS_1
"Laksanakan, Yang Mulia." terdengar suara kompak mereka dari arah belakangku
Berjalan beriringan kami bertiga menuju ke dapur Istana, Haruki sendiri langsung memerintahkan para koki Istana untuk segera mempersiapkan bahan-bahan yang kami perlukan.
Berdiri Kepala Koki Istana di hadapan kami bertiga, tampak beberapa peralatan dan juga bahan-bahan yang aku perlukan telah berbaris tersusun rapi di atas meja yang ada di hadapan kami.
"Bisakah Paman memarut daging buah Kelapa ini? Jika telah selesai diparut, berikan Kelapa yang telah diparut tadi sedikit saja air, lalu saring menggunakan kain bersih hingga terpisah antara air kelapa nya yang berwarna putih dengan sisa ampas dari daging Kelapa itu sendiri. Aku sendiri membutuhkan air Kelapa itu, aku sangat mengandalkanmu Paman untuk melakukannya..." tukasku seraya memberikan semangkuk penuh daging buah Kelapa yang telah dicuci bersih
"Laksanakan, Putri." Ucap Kepala Koki Istana seraya meraih mangkuk berisi daging buah Kelapa yang aku berikan kepadanya
"Haru nii-chan, aku mengandalkanmu untuk mengolah daun Pandan ini..." tukasku mengalihkan pandangan ke arah Haruki seraya mengangkat dan mengayun-ayunkan beberapa lembar daun Pandan di hadapannya
"Aku ingin kau menggiling daun Pandan ini hingga halus, lalu tambahkan sedikit air. Jika telah selesai di tambahkan air, remas daun Pandan itu hingga air yang dicampurkan tadi berwarna hijau pekat lalu saring hingga terpisah antara air dan bekas daunnya..."
"Aku mengandalkanmu, kakakku yang jenius." ucapku meraih tangan Haruki dan meletakkan beberapa lembar daun Pandan yang aku pegang tadi di telapak tangannya.
"Dan untukmu, Izu nii-chan. Aku ingin kau mengocok telur dan gula ini hingga berbuih. Pastikan tanganmu tidak berhenti walaupun sebentar, kau harus menahannya walaupun tanganmu terasa pegal..." ungkapku seraya memberikan mangkuk berisi telur dan gula kepadanya
"Tentu, aku sangat kuat. Kau dapat mengandalkanku." Ungkapnya seraya meraih mangkuk berisi telur yang ada di tanganku
"Aku memang sangat mengandalkanmu, Kakakku yang kuat." ucapku seraya tersenyum ke arahnya
"Dengan begitu, aku tidak perlu melakukan apapun." ucapku dalam hati seraya menahan senyum menatap mereka satu persatu
"Apa ini sudah cukup?" tukas Izumi seraya menatap ke arahku
"Kau harus mengocok adonannya sedikit lebih lama lagi, nii-chan." Ucapku seraya menjatuhkan pandanganku ke adonan telur yang sedang dikocoknya
"Aahh sialan, makanan apa ini? kenapa merepotkan sekali?" tukas Izumi kesal seraya tetap menggerakkan tangannya
__ADS_1
"Kau sendirilah yang ingin memakannya, hidup tidaklah semudah yang kau pikirkan, Pangeran." bathinku seraya menatap Izumi yang tampak kelelahan
"Semuanya telah dilakukan sesuai perintahmu, Putri." ungkap Kepala Koki Istana seraya menyerahkan semangkuk kecil penuh santan kepadaku
"Terima kasih." ucapku seraya meraih mangkuk yang diarahkannya kepadaku
"Apa kau telah selesai melakukan tugasmu, Haru nii-chan?" ungkapku seraya mengalihkan pandangan ke arah Haruki
"Aku telah selesai.." balasnya seraya berjalan ke arahku dengan sebuah mangkuk kecil di tangannya
"Apa seperti ini?" tukasnya lagi seraya mengarahkan mangkuk yang ia pegang ke arahku
"Seperti yang diharapkan dari Kakakku." ucapku diiringi anggukan kepala
"Kau bisa berhenti Izu nii-chan, kita akan segera memasaknya." ungkapku lagi seraya menatap Izumi yang telah dipenuhi keringat
Kuambil mangkuk berisi adonan telur yang ada pada Izumi, kucampurkan adonan tadi dengan air santan dan juga air pandan. Kuaduk-aduk adonan tadi hingga merata, kutuang adonan tadi sedikit demi sedikit ke dalam mangkuk kecil.
Diletakkannya mangkuk berisi adonan Srikaya tadi ke dalam kukusan oleh Kepala Koki Istana, ditutupnya kukusan tersebut dengan tutup kukusan yang telah diselimuti kain sebelumnya.
Duduk kami bertiga seraya memperhatikan Kepala Koki Istana yang tengah sibuk mengatur panasnya api. Kuperhatikan Haruki dan juga Izumi yang tampak kelelahan...
"Apa kalian baik-baik saja?" tukasku seraya menatap mereka berdua bergantian
"Apa kami terlihat baik-baik saja?" ucap Izumi seraya merebahkan kepalanya ke meja
"Kami tidak bisa beristirahat semenjak kalian pergi melakukan perjalanan. Aku sama sekali tidak keberatan mengurus permasalahan yang ada di Kerajaan..." sambung Haruki seraya melakukan hal yang sama
"Akan tetapi mengkhawatirkan kalian sangatlah melelahkan..." ungkap Izumi seraya memejamkan kedua matanya
__ADS_1
"Aku tidak bisa tenang sebelum memastikan adik dan Ayahku kembali pulang dengan keadaan baik-baik saja." lanjut Haruki seraya tersenyum kecil menatapku